Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 12


__ADS_3

Suara denting pesan masuk membuat Fatimah yang sedang mengoreksi tugas anak muridnya seketika menoleh. Keningnya berkerut samar saat nama lelaki yang dulu sempat dekat–tiga tahun lalu– kembali mengusik harinya.


Senyum yang sudah lama sekali tak terbit itu seketika menyeruak di atas wajah manisnya.


“Tumben. Ada angin apa orang ini chat aku lagi.” Tak butuh waktu lama, Fathimah pun meninggalkan tugas yang sedang dikerjakannya dan beralih memeriksa gawai. Dia cukup penasaran dengan isi chat dari pria yang dulu begitu getol mendekatinya.


Assalamualaikum, Fatimah. Bagaimana kabar kamu? Pasti baik, kan? Soalnya aku di sini juga baik. Namun, sayang sekali ada yang mengganjal hatiku. Bisa kamu tebak sendiri, kan, rasa apa itu? Ya, aku begitu merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu. Huft, tapi sepertinya hanya diriku saja yang merindukanmu. Soalnya, jika dirimu memang rindu padaku, pasti kamu tak akan mengabaikan diriku selama ini. Tapi, eh, tapi, apa kamu masih tinggal bersama orang tuamu? Atau, justru sekarang kamu sudah … ah, tolong jangan katakan jika dirimu sudah mempunyai lelaki lain? Tolong jangan katakan itu, Fa!


Senyum perempuan itu seketika mengembang lebar setelah membaca pesan panjang yang dikirimkan oleh teman satu sekolahnya dulu. Dhani Wicaksono adalah kakak kelas di universitas tempat Fatimah menimba ilmu. Namun, mereka dekat juga karena ketidaksengajaan yang berujung menjadi pertemanan hingga sampai tiga tahun lalu terakhir.


Sejak pemuda tersebut harus pindah ke Jepang untuk bekerja–yang sudah lama diimpi-impikan olehnya, Fatimah dan Dhani menjadi jarang sekali berkomunikasi, bahkan loss contact begitu saja. Dan barulah hari ini perempuan tersebut menerima kabar dari sang sahabat.


Bukan bermaksud sombong atau apa. Namun, Fatimah sangat tahu perasaan yang dimiliki oleh Dhani kepadanya. Alhasil sebisa mungkin dia sedikit menjaga jarak aman agar tak membuat anak orang baper dan dikira dirinya menjadi perempuan tak bertanggung jawab.


Teman yang merangkap sebagai si pengejar cinta Fatimah. Ya, sedari dulu Dhani begitu tak pantang menyerah untuk meluluhkan hati si teman. Sudah seringkali dia mengungkapkan isi hatinya, bahkan setiap saat, jika ada waktu selalu saja bibirnya mengutarakan niat baiknya untuk menikahi Fatimah.


Namun, jawaban yang sama akan selalu terulang lagi dan lagi dari Fatimah. “Hubungan ini tak akan lanjut hingga ke jenjang yang lebih jauh lagi, Dhan. Karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari sebatas teman. Maaf,” ucapnya penuh sesal.


Mereka berdua kini sedang berada di sebuah cafe dekat dengan rumah milik keluarga Fatimah. Ya, perempuan tersebut mengiyakan ajakan bertemu dari Dhani dan di sinilah dua orang anak adam dan hawa duduk. Di ujung cafe dengan kopi hitam dan juga orange jus di atas meja sebagai teman nongkrong.


Menghela napas berat. “Aish, kenapa jawabanmu selalu sama, sih, Fa. Tak punya kreasi lain lagikah?” Bibir itu terlihat tersenyum, tetapi Fatimah itu hanya bohong belaka. Namun, sebisa mungkin tak dipikirkannya.

__ADS_1


Dhani sendiri memilih membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Dia lalu mengambil cangkir di atas meja, kemudian menyeruput kopi hitam yang menjadi favoritnya setelah tiga tahun tak bertemu dengan si sahabat baik–Fatimah.


Tiga tahun hidup tanpa kabar membuat Dhani menjadi pecinta kopi pahit sebagai pengalih perasaan dan pikiran. Salahkan saja, Tuan Hiroshima yang selalu mencekokinya dengan bubuk pahit tersebut setiap hari ketika bertemu.


Kini, dirinya justru menjadi kecanduan dengan rasa pahit itu. Rasa yang tidak akan pernah dilupakan ketika dicecap pertama kali saat itu. Rasa pahit, getir, tetapi manis.


Fatimah menyeruput jus jeruknya, lalu setelah itu terkikik geli. “Ya, mau gimana lagi. Mau diapain juga di mataku kamu adalah sosok yang sangat tidak mungkin untuk dijadikan pasangan hidup, Dhan,” jawabnya lugas seperti biasa.


“Asem. Untung kamu ini cantik, coba kalau bukan sudah aku pecat kamu jadi temen,” omel Dhani, sambil memandang wajah manis dari Fatimah.


Jujur, dirinya memang tidak terlalu berharap banyak tentang lamarannya kali ini. Mungkin ini adalah sebuah coba-coba berhadiah. Jika diterima, alhamdulillah, tidak ya tidak masalah. Namun, dirinya serius menaruh hati kepada sahabat baiknya.


Fatimah tersenyum penuh bangga. “Ya, bersyukur sekali ketika aku dilahirkan, diriku dianugerahi wajah yang sangat cantik ini,” jawabnya yang jelas-jelas sudah biasa dilontarkan setiap kali ada yang memuji wajah cantiknya.


“Sejak kamu mencampakanku. Puas?”


“Dih, ngomongnya udah kek paling bener aja,” elak Fatimah mencoba terlihat biasa saja, walau dalam hati sedikit tersenyum getir.


Akhirnya, dua sahabat lama itu pun menghabiskan malam dengan bertukar kabar hingga menyebutkan rencana kedepannya, termasuk niatan Fatimah yang akan mengakhiri masa lajangnya. Tentu hal itu cukup menyentil hati Dhani.


“Apa kamu yakin akan menerima lamaran dari dia, Fa? Kamu sudah coba shalat istikharah belum? Atau, sudahkah mengenalnya lebih dalam lagi?” Pertanyaan sarat akan kekhawatiran dari Dhani jelas membuat Fatimah terkekeh.

__ADS_1


“Satu-satu kan bisa, Dhan, gak perlu di borong semua juga kali,” sahutnya terkikik geli.


“Ya, mau gimana lagi. Aku sebagai sahabat baikmu selama ini tentu saja cemas, jika perempuan setengah laki seperti dirimu akan menikah dengan sosok lelaki yang tak dikenal baik. Bahkan, lamaran dariku saja kau tolak, giliran orang asing kau pikirkan,” jedanya dengan memasang wajah cemberut.


“Diriku merasa tak dianggap,” imbuhnya merana.


“Aih, apaan, sih, Dhan. Gak usah pasang wajah memelas seperti itu,deh. Gak pantes banget sama muka borosmu itu,” ejek Fatimah yang sangat tahu jika si teman hanyalah sedang bercanda.


“Sial! Kau membuatku terlihat seperti om-om hidung belang yang sedang menggoda anak SD yang tidak lulus-lulus sampai sekarang,” cibir Dhani menatap wajah Fatimah sinis.


Tawa tak pernah hilang dari bibir, jika bersama sahabat baiknya. Dia tak pernah bersedih, bahkan mungkin akan selalu bahagia bila berada dalam jangkauan Dhani Wicaksono. Pemuda humoris dan selalu bisa menjadi teman terbaik di saat apa pun, tetapi bukan sebagai teman hidup.


“Permisi, apa saya boleh bergabung?”


Suara itu cukup familiar di telinga Fatimah dan dirinya dibuat terkejut dengan kedatangan sosok yang baru saja menjadi topik pembicaraan mereka berdua. Namun, yang membuat dirinya terkejut adalah keberadaannya.


“Apa kamu mengenalnya, Fa?” tanya Dhani, sambil menyipitkan kedua kelopak mata curiga dengan kehadiran dari pria asing yang dengan seenaknya duduk di samping kursi sahabat baiknya.


“Oh,” ujarnya terkejut, lalu melihat sosok di sampingnya dengan mata berkedip lucu. “Eh, kenalkan dia adalah ….”


“Saya adalah calon suami dari Fatimah, Aiman,” potong duda beranak satu itu, sambil menjulurkan tangan di depan Dhani yang tengah melotot shock ke arah Fatimah dan punggung anak kecil di dalam pelukan si lelaki asing tersebut.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2