
Fatimah Azzahra memang kedatangan tamu sebelum waktu hari pernikahan. Maka dari itu, Aiman harus bersabar menunggu masa menstruasi si istri selesai. Dia memang bukan orang awam tentang hal seperti itu. Wajar, pria itu pernah menikah. Jadi, untuk urusan wanita sudah hafal.
Pipi itu bersemu merah. Perempuan yang masih berstatus gadis itu memainkan jarinya sendiri untuk menghilangkan perasaan gugup. Tadi pagi seusai bangun tidur. Dirinya memang sudah mandi besar dan melaksanakan shalat subuh seorang diri karena sang suami sudah berangkat ke masjid dekat rumahnya.
Bukan karena suaminya tega membuat sang istri shalat sendirian, melainkan karena memang Aiman belum mengetahui, jika Fatimah sudah bersih. Yakin, kalau pria itu tahu pasti akan diajak berjamaah.
"Ummaya?" Aiman bertanya pun tidak begitu terlalu berharap banyak. Hanya saja, dirinya menyadari jika rambut wanita tersebut basah. Itu pun dari warna jilbabnya. Jujur, si suami belum pernah melihat sang istri melepaskan jilbab ketika di rumah. Mungkin masih canggung.
Kepala wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban. Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini, Ya Allah? Hatinya berteriak.
Aiman mengulum senyum. Di dalam hati dia tengah bersorak gembira lantaran istrinya ternyata sudah bersih. Pria itu menjadi bingung harus melakukan apa. Maklum, sudah lama menduda membuatnya seperti perjaka yang malu-malu singa.
Fatimah mencoba menetralkan kegugupan yang tengah melanda hatinya. Dia sudah sekali membaca buku tentang tata cara bagaimana melayani seorang suami setelah menikah. Itu pun dilakukan ketika malam sebelum hari H.
Wanita tersebut sedikit malu saat membacanya. Namun, jika tidak seperti itu, pasti dirinya tidak akan tahu caranya menjadi istri yang dirindukan oleh surga. Contohnya dengan berbakti dan melayani suami dengan baik.
__ADS_1
Dengan gugup, Fatimah mendongak untuk melihat Aiman yang ternyata sudah lebih dulu memandangnya. Netra itu terpejam malu, tetapi dia berusaha untuk berani, lalu kedua kelopak matanya pun dibuka. Kali ini dibarengi dengan senyuman tulus. "Apa Abi ingin menjalankan Sunnah Rasulullah?"
Senyum Aiman pun mengembang. Telapak tangannya lalu membingkai wajah cantik sang istri. Menelusuri setiap jengkal wajah itu. Wajah yang akan menemaninya setiap hari, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin.
"Apa Ummaya mengizinkan?" tanyanya lembut. Tidak ada paksaan, apalagi ancaman. Semua dilakukan atas dasar ikhlas dari pasangannya.
Fatimah mengangguk malu.
Aiman tidak bisa menutupi perasaan bahagianya. Kini dikecup mesra puncak kepala istrinya yang masihlah mengenakan jilbabnya, lalu dituntun tangan mereka menuju kamar miliknya. Sengaja, pria itu merombak susunan letak kasur, lemari hingga cat untuk memberitahukan, jika dirinya sudah membuat lembaran baru.
Pria mana yang tidak akan terpesona melihat kecantikan dan aura yang dipancarkan oleh Fatimah Azzahra. Ya, mungkin dulu Aiman bodoh karena sempat mengelak hal tersebut. Namun, itu semua dilakukan karena atas dasar menghormati, bukan nafsu.
Lagi-lagi, wanita itu menurut. "Silahkan, Wahai imamku."
Aiman tersenyum. Lantas dengan tangan gemetar, pria itu berusaha untuk melepaskan peniti yang menjadi kunci dari jilbab yang digunakan oleh Fatimah secara perlahan. Saat sudah terlepas, jakunnya terlihat naik turun. Kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan hingga membuatnya terasa geli.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik, Istriku. Terima kasih karena sudah mengizinkan lelaki ini melihat sebuah mahkota yang begitu indah terpampang nyata di sini," puji Aiman tulus setelah bisa melihat surai halus istrinya.
Kekaguman itu berlangsung hingga mereka mulai mencoba menelusuri setiap jengkal keindahan dan kenikmatan yang pastinya akan mengantar mereka berdua ke puncak duniawi.
Membuai pasangan dengan kata-kata indah dan mesra hingga membuat pagi itu diisi dengan nada-nada cinta yang pastinya akan menjadi candu. Meleburkan diri menjadi satu. Meraih puncak kenikmatan yang tak akan bisa mereka lupakan.
Kini, Fatimah Azzahra sudah menjadi satu dengan Aiman Baha Baseer. Mereka sudah bukan lagi dua orang asing yang tinggal bersama, melainkan tulang punggung dan tulang rusuk.
Kegiatan itu sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Mereka kini sedang berada di kamar mandi untuk melakukan junub bersama. Membersihkan dari yang najis, supaya tidak keluar rumah dalam keadaan belum bersih.
Ketika Fatimah tengah menyiapkan pakaian bersih untuk Aiman. Bel pintu rumah mereka berbunyi, membuat dirinya yang baru mengenakan pakaian serta celana kulot segera mengambil jilbab dengan asal.
Sebelum keluar kamar, dia meminta izin kepada suaminya yang masih berada di dalam kamar mandi baru setelah itu tungkainya melangkah menuju pintu depan.
"Apa itu ibu? Untunglah urusan kami sudah selesai. Akan sangat malu, jika kami belum tuntas," ujarnya tersenyum kikuk.
__ADS_1