Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 96


__ADS_3

Ibu adalah orang yang akan menjadi cinta pertama dari anak lelakinya. Seburuk apa pun seorang ibu, si anak lelaki pasti akan tetap menyayanginya sepanjang waktu. Seperti halnya Aiman Baha Baseer yang sangat mencintai Siti.




Secangkir teh itu masih mengeluarkan uap panas dari dalamnya. Minuman yang memang sudah beberapa hari ini menemani kesendirian dari seorang wanita paruh baya yang diketahui sebagai ibu dari Aiman–Siti.



Wajahnya yang memang masih menunjukkan kecantikan di usia senjanya itu tengah menghadap sebuah laut. Angin laut sore tidak menyurutkan Siti untuk tetap berdiri di balkon villa yang tengah ditinggalinya.



“Aku kangen cucuku,” gumam wanita paruh baya itu penuh rindu.



“Aku gak bisa tidur di sini tanpa Mas Asa. Dia yang selama ini menemani hari-hari tuaku. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku ingin bertemu?” Suara itu semakin lirih dan kini justru diiringi dengan tangis. Kristal bening itu sudah jatuh membasahi pipinya yang pucat.



“Aku pikir dia orang baik. Tapi, ternyata ….” Siti tidak bisa melanjutkan ucapannya karena masih tidak percaya akan kenyataan yang sebenarnya. “Jika aku mau mendengar sebentar saja ucapan anak dan menantuku, mungkin aku tidak mungkin akan terdampar seorang diri di sini.”



Wanita itu menyesali perbuatannya yang sudah menyakiti dan membuat sang menantu terluka. Orang yang ia kira baik karena memiliki rupa yang sama dengan mantan istri dari anaknya. Akan tetapi, justru bermuka dua.



“Trisa bukan orang baik. Dia ternyata sangat berbeda jauh dengan Aisyah. Wanita itu hanyalah memiliki rupa yang sama, tapi tidak dengan sifat menantuku!” Emosi kini mulai naik ke atas kepala wanita paruh baya tersebut, wajahnya yang tadinya pucat kini berangsur mulai memerah menahan amarah.



Bentuk dari rasa kekecewaan itu sendiri kini menjadikan Siti menjadi sosok yang rapuh. Namun, amarah kepada Trisa Abdullah yang sudah membodohinya justru semakin bertambah seiring berjalannya waktu.



“Fatimah, ibu minta maaf. Ibu sadar apa yang sudah dilakukan selama ini telah menyakitimu banyak-banyak. Aku tak yakin kamu akan memaafkanku, Nak. Tapi, penyesalan ini memanglah tulus, Sayang,” ungkapnya dari hati.



Tubuh itu luruh ke atas lantai kayu di mana ia tengah tingali. Sepi dan kosong sudah menjadi temannya di sini. Trisa benar-benar membawanya jauh dari ibukota. Wanita licik itu menyingkirkan dirinya sejauh ini agar rahasia yang ada di dalam mulutnya tidak terbongkar ke telinga Aiman.



“Man, kamu harus berhati-hati sama wanita itu! Dia itu sudah seperti ular berbisa yang akan mematuk mangsanya sampai bertekuk lutut, bahkan jika mangsa itu melawan … dia akan mematikannya.”



Nenek Siti menangis tersedu untuk nasib keluarga kecil dari anak semata wayangnya. Diat takut jika Aiman dan Fatimah akan semakin terluka jika Trisa turun tangan langsung. Yang dia tahu selama ini wanita licik itu hanya main cantik dari belakang dengan mendekatinya.



Namun, usaha itu gagal karena Siti lebih dulu memergoki rencana Trisa saat tidak sengaja mendengar percakapan mereka di telepon. Jika sebentar lagi mereka akan menyingkirkan Fatimah dan menjadikan Aiman sebagai suami dari Trisa Abdullah.



Saat itu, Siti tentu saja terkejut. Dia juga jelas mendengar bahwa mereka selama ini menggunakannya hanya untuk sebagai alat kehancuran hubungan anak dan menantunya. Kenyataan itu membuatnya menampar, bahkan menjambak rambut Trisa.

__ADS_1



Setelah itu, Trisa justru menghadiahinya dengan membuangnya di tempat ini. Mengucilkan dirinya dari banyaknya orang di luaran sana yang tengah menikmati hidup bersama dengan anak, serta keluarga besarnya.



“Fatimah, tolong jangan biarkan Iman bertemu dengan iblis itu! Dia bukanlah orang baik. Dia jahat, Nak!” Suaranya semakin lama semakin mengecil. Mata yang tadinya berapi-api, kini justru mulai meredup, terpejam dan membuat kepala itu jatuh menyentuh ubin secara perlahan.



Siti kini justru tertidur di atas ubin kayu setelah meminum teh yang disajikan oleh penjaga vila yang memang sudah mendapatkan mandat untuk membuat wanita paruh baya itu tidak sadarkan diri.



“Dia iblis, Man. Jauhi dia!” gumam Siti sebelum kesadaran dirinya hilang.



\*\*



“Dia tidak mungkin ke sana. Ibu gak mungkin sampai berbuat seperti itu, Sayang.” Aiman terus saja mengelak kenyataan jika ibunya tengah berada bersama Trisa.



“Tapi ini sudah hampir seminggu, Bi.” Fatimah sudah berulang kali meminta suaminya untuk mengecek ke rumah wanita yang tengah dekat dengan ibu mertuanya itu. Namun, sang suami selalu saja mengelak dan menolak terus setiap dirinya menyuruh memeriksanya di sana.



“Atau, Abi ini hanya takut jika kenyataannya, kalau wanita itulah yang sudah menyembunyikan ibu selama ini?” Mata itu jelas menuding sang suami yang tidak ingin percaya akan insting yang dirasakan oleh si istri.




Polisi pun juga belum memberikan hasil apa pun sehingga membuat Aiman semakin dibuat frustasi. “Ibu tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu, Sayang!” elaknya masih tetap kekeh dalam pendiriannya.



Wanita itu mengembuskan napas beratnya. Memberitahukan sesuatu kepada orang yang tengah risau, gundah gulana itu sama saja seperti menyodorkan anak kecil dengan barang yang tidak disukainya, akan selalu menolak.



Sekeras apa pun Fatimah memberitahu jika di dalam hati, serta pikiran Aiman tak meyakini, itu sama saja percuma, alias zonk. Hanya saja sebagai seorang istri, dan menantu Fatimah tidak akan menyerah membantu sang suami untuk bertemu dengan ibunya.



“Abi,” panggil istrinya dengan lirih.



Pria itu menoleh dengan raut wajah tak bertenaga.



“Sekali ini saja … tolong ikuti saranku! Seenggaknya kita mencoba terlebih dahulu. Perkara nanti hasilnya nihil, kita bisa mencarinya ke tempat lain!” bujuk Fatimah dengan suara begitu lembut dan penuh pengertian.


__ADS_1


“Aku hanya tidak ingin memberi mereka peluang untuk memanfaatkan yang ada, Fa. Kamu tau, kan, apa yang dia lakukan kepada ibu untuk memisahkan kita berdua?” Suara Aiman terdengar begitu lelah dan tak bertenaga membuat sang istri merasa iba.



“Kemarilah, Bi! ku akan memberikanmu bahuku untuk dirimu bersandar!” Fatimah merentangkan kedua tangan seolah meminta sang suami untuk datang padanya. Mencurahkan semua keluh-kesahnya yang menggelayuti hati dan pikirannya.



Tanpa disuruh dua kali, Aiman langsung datang kepada istrinya. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu sang istri. Mendekapnya untuk menyalurkan segala kerisauan yang ada di dalam tubuh. Berharap jika semua masalah ini segera berakhir.



“Fati beberapa hari ini juga meminta bantuan teman untuk mencari ibu dan mereka berkata pernah melihatnya di sebuah perumahan elite yang bisa dipastikan itu adalah milik dari keluarga Abdullah,” cerita Fatimah.



Pria itu jelas terkejut. Kepalanya hendak diangkat, tetapi sang istri menahannya untuk tetap berada di sana.



“Dengarkan saja dulu, Bi!” pintanya. Aiman pun menurut, dia memilih menyamakan tubuhnya di dalam pelukan yang begitu menenangkan dari istrinya. Sudah beberapa hari ini, ia tidak bisa tidur, makan pun sulit, tetapi sang istri selalu saja tak pernah lelah untuk memberi semangat dan juga support.



Oleh karena itu, Aiman merasa tidak menyesal menjadikan Fatimah Azzahra sebagai rumahnya. Tempat ia pulang setelah lelah bekerja, atau melakukan aktivitas lainnya.



“Lalu?” tanya Aiman ingin mendengar kelanjutan cerita dari sang istri.



Wanita itu tiba-tiba terdiam beberapa saat seolah apa yang akan disampaikannya adalah kabar yang tidak menyenangkan.



“Sayang!” desak Aiman yang mulai tidak sabar.



“Temanku kehilangan jejak ibu setelah itu, Bi!” Beritahu Fatimah dengan perasaan bersalah.



“Makanya kamu kekeh memintaku untuk menyelidiki Trisa?”



Fatimah mengangguk.



Aiman pun terdiam. Berpikir langkah apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui jika memang Trisalah orang dibalik menghilangnya sang ibu. Namun, ia juga sedikit memiliki perasaan tidak enak akan pertemuannya nanti dengan wanita itu.



“Apa kamu bisa merasakan kegundahanku, Ummaya?” Pria itu mendongak, menatap wajah istrinya yang ternyata sudah sedari tadi memandangnya.


__ADS_1


Fatimah hanya tersenyum kecut sebagai balasan dari pertanyaan sang suami. “Aku harap kalian pulang kembali ke rumah ini dengan selamat, Bi!”


__ADS_2