Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 19


__ADS_3

Waktu sudah diberikan oleh kedua pria tampan yang kini sedang menunggu harap-harap cemas di atas kursinya. Mereka sudah dengan gentleman melamar langsung di depan kedua orang tua si perempuan, bahkan bersikap kooperatif, tidak memaksa siapa pun di sini untuk menerima pinangan.


Fatimah selama seminggu ini memang tidak pernah bertemu sekalipun dengan dua pria tersebut. Seolah-olah alam pun merestui ketenangan yang dibutuhkan si perempuan untuk berpikir. Dhani yang disibukkan dengan banyaknya tumpukan laporan di atas meja kerja, sedangkan Aiman sendiri tengah ditugaskan ke Cirebon untuk visit bersama sang kepala sekolah.


Alhasil, walau satu tempat kerja, Aiman dna Fatimah semingguan ini tidak saling bertemu tatap, atau pun bersinggungan.


"Ehm." Deheman itu mampu membuyarkan lamunan dari sang anak. Umar menggenggam lembut tangan dingin putrinya, lalu tersenyum. Senyum penguat yang selalu diberikan si ayah ketika melihat anak satu-satunya sedang dilanda kebingungan.


“Bagaimana keputusan kamu, Nak? Jangan sampai kau membuat dua pria di depan sana mati kebosanan karena menunggu jawaban darimu,” ledek Umar sengaja agar tidak ada ketegangan di ruangan mereka.


Fatimah mengusap hidungnya malu akan sifat ayahnya yang begitu pandai memecah hening. Dia lalu balas menggenggam lembut tangan besar ayahnya, kemudian didekatkan wajahnya ke telinga pria yang sudah berusia kepala enam.


Membisikkan jawaban atas lamaran dua pria di depan mereka. Bukan bermaksud tidak sopan, melainkan mengurangi rasa bersalah kepada seseorang yang akan ditolaknya. Umar pun mengangguk mengerti, lalu dikecupnya puncak kepala si anak.


Setelah itu, dengan pandangan lurus ke arah dua pria yang duduk saling bersisian, dipisahkan oleh jarak dua jengkal. Manik itu seolah sedang menilai baik buruknya si calon yang dipilih oleh Fatimah.


"Baiklah, sebelumnya saya sangat berterima kasih atas niatan baik kalian berdua untuk meminang putri saya. Namun, Fatimah harus memilih satu di antara dua pemuda tampan dan rupawan ini. Karena tidak mungkin juga putri saya yang cantik melakukan poliandri. Haduh, gimana gitu."


Suasana sedikit mencair kala mendengar kalimat terakhir dari Umar–Ayah dari Fatimah. Ayah dari Dhani–Basuki membalas seloroh Umar tak kalah jenaka sehingga ketegangan yang sempat terjadi sedikit demi sedikit mulai menghilang.


Fatimah tidak berani melihat ke arah depan. Yang dilakukan hanya menunduk dan menunduk. Wajahnya sudah merona malu kala sang ayah justru menyinggung masalah poliandri. Hei, dia tidak seserakah itu hingga menggaet dua lelaki sekaligus untuk dijadikan suami. Kewarasan masih dimiliki oleh Fatimah.


"Lalu, kira-kira pinangan siapa yang akhirnya dipilih oleh Nak Fatimah? Tidak mungkin, dong, saya ikut maju," canda Basuki yang dibalas cubitan gemas dari sang istri–Nunung, serta pandangan jengah Dhani.


"Pah, jangan bercandalah. Dhani sudah keringat dingin menunggu jawaban dari Fatimah," tukas salah satu si pelamar hingga membuat para bapak-bapak di sana tertawa.

__ADS_1


"Loh, daripada kalian tegang seperti ini, ya, mending bapak buat suasana ini menjadi lebih hangat. Bukankah begitu, Pak Umar, Nak Iman?" tanya Basuki dengan kelakarnya.


Aiman memang sedikit tegang, sekaligus canggung, tetapi dia merasa sedikit lega karena ketegangan ini mencair. Ini bukan seperti acara lamaran kaku nan formal seperti saat dirinya datang pertama kali untuk melamar Fatimah. Walaupun itu bukan dirinya yang buat karena Sitilah yang tiba-tiba mencetuskan ide untuk melamar.


Sempat terlibat pertengkaran kecil antara anak dan ibu tersebut sehabis pulang dari rumah si perempuan. Namun, lambat hari si anak pun mulai berpikir dan juga sang almarhum istri juga seolah mendukung niat baik dari mertuanya untuk mencarikan pendamping hidup bagi sang suami. Aiman memutuskan untuk maju. Masalah cinta, dia serahkan semua pada takdir.


"Setelah putri saya …" jedanya, "Fatimah berpikir cukup lama, bahkan dia juga melakukan shalat istikharah … keputusan pun sudah didapatkan. Pria yang dipilihnya adalah …."


Umar melihat ke arah Aiman, lalu berganti ke arah Dhani hingga beberapa kali. Kini, mata itu pun berhenti di satu titik. Sosok pria yang dibisikkan namanya oleh sang putri tercinta.


Pria yang akan menjadi imam dunia akhirat si anak. Pendamping hidup dan mati, serta teman hidup sampai ajal menjemput.


Embusan napas berat pun keluar dari bibir pria yang sudah berumur tersebut.


Fatimah yang melihat sang ayah terlihat gugup pun menggenggam erat tangannya. Menyampaikan jika dirinya siap menjalani hidup bersama pria tersebut. Meyakinkan ayahnya, kalau dia akan bertanggung jawab atas keputusan yang sudah diambil.


"Kamu, Mas Iman."


"Alhamdulillah," ucap Siti penuh syukur, dia memeluk lengan putranya dengan binar kebahagiaan, bercampur rasa lega.


Aiman langsung menghela napas lega. Perasaan cemas langsung terangkat begitu saja saat mendengar pinangannya diterima oleh Fatimah. Entah kenapa dia begitu bahagia, padahal rasa cinta saja belum tumbuh di dalam hati. Namun, duda beranak satu tersebut juga tidak mengelak, kalau ada rasa bahagia tengah meletup di dalam tubuh.


Hassan tidak kalah bahagia. Si anak bahkan langsung berlari ke arah Fatimah untuk mengucapkan terima kasih. Tubuhnya memeluk sayang kepada wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu sambungnya.


"Terima kasih, Tante Fati. Terima kasih karena sudah memilih abi. Terima kasih juga karena memilih Mas Asa. Aku senang sekali," ujar anak kecil tersebut dengan penuh haru.

__ADS_1


Fatimah juga merasa senang, juga lega karena satu minggu ini dibuat pusing oleh urusan hatinya. Dia sudah memantapkan hati, serta pikiran ketika mengambil keputusan besar yang menyangkut akan kehidupannya kelak.


Mungkin orang akan bertanya, kenapa bukan memilih yang masih single? Kenapa duda beranak satu yang dipilih? Apakah karena duda lebih menggoda? Atau, justru karena hal lain?


Fatimah memandang Dhani Wicaksono dengan pandangan bersalah. Dia berharap temannya tersebut tidak marah karena keputusan yang telah diambil. Namun, selama ini Dhani juga seharusnya sudah tahu bagaimana perasaan yang dimiliki oleh si perempuan kepada pemuda tampan itu.


Teman, tidak lebih dan akan selalu menjadi seperti itu. Tidak akan berubah sampai kapan pun.


"Maaf, Dhan," ucap Fatimah, sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Dhani berusaha untuk legowo. Menerima keputusan yang diambil oleh Fatimah. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Namun, bolehkah dia patah hati?


Bolehkah dia tetap berjuang untuk mendapatkan hati Fatimah? Janur juga belum melengkung di depan rumah si perempuan. Jadi, masih boleh, kan, dia berharap?


"Ya, gak apa, Fa. Semua keputusan memang kuserahkan kepadamu. Jadi, apa pun keputusan yang kamu ambil, tentu aku juga harus menerimanya." Senyum itu terlihat begitu kaku, rasa sakit hati masih membuatnya sulit untuk menerima kenyataan. Namun, Dhani tidak boleh memperlihatkan terlalu kentara di depan orang terkasih.


Matanya kini berganti menatap ke arah pria yang dipilih oleh Fatimah. Ada rasa yang sulit untuk diungkap saat rivalnya yang mendapatkan hati si teman. "Selamat untuk Anda, Tuan. Saya berharap Anda tidak akan pernah menyakiti, bahkan membiarkan air mata menetes dari netra Fatimah."


"Itu pintaku. Karena kalau sampai aku melihat ada bulir setetes membasahi wajah cantiknya," jedanya dengan mata menatap dingin ke arah Aiman. "Aku tak segan akan mengambil dia kembali untukku!"


"Itu tak akan pernah terjadi, Tuan," balas Aiman dengan seringai penuh kemenangan


...****************...


Jangan lupa mampir juga, Guys ke novel temenku!

__ADS_1



__ADS_2