Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 120


__ADS_3

Mengingat akan pertemuan yang sangat tidak terduga hari ini membuat tubuh Maya merinding disko. Selama ini, ternyata dia begitu dekat dengan sosok yang dia puja. Orang yang membuat ia menjadi seperti sekarang.


Laksamana Agung adalah sosok Abdi Negara yang pernah menolongnya ketika dulu hampir menjadi budak n*fs* preman pasar. Membuat ia percaya jika di dunia ini masih ada orang baik seperti beliau.


Kejadian itu sudah berlangsung dau puluh tahun yang lalu, tetapi jasanya masih terkenang hingga saat ini. Di mana saat itu, Maya hampir kehilangan kesucian jika saja pria di depannya tidak datang dengan pistol di tangan.


Pakaian Maya yang saat itu sudah robek di bagian sana-sini hanya bisa memeluk lutut untuk menutupi rasa takutnya. Gadis yang baru saja pulang mencari uang tambahan untuk biaya sekolahnya justru dicegat oleh dua orang pria berbadan besar, serta tato di tangan di sebuah gang sempit belakang pasar.


"Sebaiknya bapak ini pergi saja! Gak usah belagu di wilayah kami." Suara salah satu preman itu terlihat begitu percaya diri akan aman setelah melihat jika polisi yang tengah mereka hadapi hanya sendiri.


"Kita ini berdua, Pak. Sedangkan situ cuma satu orang. Jadi, daripada nanti istri, sama anak bapak nangis karena jadi janda, dan anak yatim, mending cabut, deh, sekarang," sahut preman satunya lagi–Panggil saja Cecak dan satunya lagi Cucok.


"Iya, Pak. Mending biarkan kami menikmati tubuh gadis itu dengan damai sebelum pisau ini menancap di jantung Anda!" Cucok tertawa bahagia saat bisa membuat pria di depan sana merasa ciut. Akan tetapi, sepertinya mereka salah memilih lawan.


Tanpa diduga, pria berseragam polisi itu justru menendang pusat inti dari preman tersebut sehingga membuat Cecak jatuh bersimpuh, sambil mengerang kesakitan di bawah sana.


Cucok yang tidak terima langsung maju. Dua orang pria tersebut saling melemparkan tendangan dan pukulan ke tubuh lawan masing-masing. Sementara itu, Maya kecil hanya bisa mengintip perkelahian di depan sana dengan wajah sembab, bersimbah air mata.


Pemandangan di depan sana terus berlanjut hingga beberapa waktu sampai akhirnya si penolong itulah yang memenangkan duel ini. Sejak saat itu, dia yang melihat jelas nama Laksamana Agung di bagian seragam pria tersebut, membuatnya termotivasi untuk menjadi sepertinya.


Kini, setelah sekian tahun akhirnya Maya kembali melihat sosok pahlawannya. Ada rasa haru dan juga bersalah di dalam hati karena saat itu dirinya merasa belum mengucapkan terima kasih dengan beliau.

__ADS_1


Wanita itu lalu berdiri tegak kemudian memberikan hormat. "Siap, Pak!” jawan Maya melihat ke arah depan.


Ayah dari Riko itu pun tersenyum bangga. Tangannya menepuk bahu salah satu anak buah dari rekannya. “Gak usah formal seperti itu. Lagian, ini bukan di kantor. Santai aja. Panggil yang membuatmu nyaman saja,” ujar Pak Laksamana Agung, sambil memberikan senyum ramahnya.


“Pah, gak usah tebar pesona sama calon mantumu, deh! Maya ini milikku!” Tiba-tiba Riko datang menyelinap di antara Maya dan ayahnya.


Tatapan Agung pun langsung berubah datar saat dihadapkan dengan putra tercinta. Tangannya tiba-tiba sudah bersarang di pipi Riko dengan cukup keras, tetapi hal itu bukanlah hal yang mengejutkan. Dua pria itu justru saling memandang dalam diam, lalu setelah itu sebuah pukulan kembali menyapa di bagian lengan kirinya.


“Dasar bodoh! Bagaimana mau jadi Jenderal, jika dirimu saja tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Mau jadi lelaki macam apa kamu, hah? Tanggung jawab kita memang melayani orang lain, tetapi kita juga harus ingat jika tubuh kita juga butuh perhatian juga.”


“Sekali lagi saya mendapatkan laporan jika dirimu ceroboh, aku bisa pastikan mendepakmu dari kursi yang selama ini kamu duduki!” lanjut Agung dengan tegas.


Dua orang pria itu pun saling berpelukan satu sama lain. Dibalik ketegasan, serta didikan keras yang dimiliki oleh Agung, itu semua dilakukan juga demi kebaikan untuk anak pertamanya.


“Ckckck, kalian ini membuat tamu kita jadi ketakutan.” Suara ibu dari Riko–Laksmi kembali terdengar setelah melihat Maya yang tengah tersenyum canggung di belakang tubuh suami, serta anaknya–Riko.


“Kemarilah, Nak! Oh iya, nama kamu siapa tadi?” Wanita berpakaian anggun tersebut lalu merangkul tubuh Maya yang kini justru bersikap formal jika di depan para atasan, apalagi yang sedang ada di depannya adalah seorang Jenderal.


“Hei, jangan kaku begitu, dong. Saya jadi merasa dikelilingi oleh manusia batu.” Bibir wanita yang masih cantik di usia setengah abad lebih itu mengerucut kesal. “Aku, tuh, berasa hidup di zaman batu, kalau kalian tetap bersikap seperti ini.”


“Ya udah, sih, Mah. Bukankah ini semua juga cita-cita kalian yang ingin melihatku menikah dengan seseorang yang aku cintai? Jadi, wanita inilah yang aww … sakit, Kutil!” Wajah Riko menunjukkan protes, apalagi setelah perempuan di samping justru memberinya cubitan yang cukup menyakitkan di bagian pinggang.

__ADS_1


“Mah, calon mantumu itu udah berani mencubitku!” adu Riko kepada ibunya.


Sedang Maya langsung melotot syok. Dia mengumpat di dalam hati karena ternyata salah memilih target. Kalau tahu gitu, mending aku tidur aja di rumah daripada harus berada di dalam kecanggungan ini.


“Makanya jadi cowok itu gak usah murahan. Ngaku-ngaku punya calon, tapi perempuannya aja belum tentu mau sama kamu.” Pria yang jika berada di kantor akan bersikap begitu formal, tegas, dan juga penuh wibawa jini justru begitu mencair, layaknya seorang ayah yang senang meledek putranya.


Maya hampir tertawa, tetapi segera ditahan karena merasa ada yang membelanya. Di sisi lain, dia juga senang karena kembali bertemu dengan penyelamatnya lagi. Ada rasa bangga karena ia kini bisa berdiri tegak seperti sekarang dan membuktikan akan janjinya.


“Woi! Kenapa kamu ngeliatin muka papaku seperti itu? Jangan bilang ….!” Riko menutup mulutnya atas pemikiran yang tiba-tiba terlintas setelah melihat bagaimana Maya yang selama ini terlihat cool justru menatap ayahnya dengan pandangan memuja.


Jika saja ini bukan di depan orang tuanya, udah habis ini orang. Aku jadi ragu dengan perasaan yang selama ini menghinggapiku. Apakah aku salah memilihnya untuk menjadi pendampingku?


“Tuh, kan. Kok, kamu malah diam, sih?” Riko menggoyangkan kedua bahu perempuan itu, tetapi tetap saja dia malah diam.


“Riko! Apa yang sedang kamu lakukan?” Agung menegur sikap anaknya yang terlihat begitu childhis.


“Mah, jangan pernah mau jika papah minta izin buat poligami. Aku gak mau punya mama baru. Apalagi dia ini adalah calon istriku,” ujar Riko yang semakin ke sini semakin ngawur.


“Bisa diam tidak, sih!” Selain gertakan, Riko juga mendapatkan sebuah tendangan gratis di tulang keringnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Maya. Wanita itu benar-benar kesal atas persepsi gila yang diucapkan oleh pria di depannya.


“Wow!”

__ADS_1


__ADS_2