
Aiman berdecak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tungkainya memilih masuk ke dalam kamar. Membiarkan si istri yang tengah menenangkan Maira karena terbangun dalam tidurnya.
Malam itu pun Aiman hanya bisa tertidur dengan hati penasaran. Ingin bertanya, tetapi rasa lelah sudah mendominasi sehingga membuat mengurungkan diri. Setelah mengambil air wudhu dan shalat isya, dia langsung tertidur lelap.
Diam-diam, Fatimah merasa bersalah karena sudah membuat sang suami haru menunggu. Jika saja ia mempunyai cadangan nyawa banyak, mungkin akan lain ceritanya. Di sisi lain, Hassan masih terlalu kecil jika harus mendapatkan Omelan Aiman.
Bukannya akan mereda rasa bencinya kepada Fatimah, tetapi justru akan semakin menggila. "Good night, Bi. Semoga lelahmu bisa menjadi lilah buat kami semua!" bisiknya lirih.
Keesokan paginya, Fatimah sudah menyiapkan makanan setelah shalat subuh. Sop ayam kesukaan Hassan, tumis kangkung, tempe mendoan, ikan, serta sambal terasi sudah mengundang si pemilik rumah untuk segera menyicipinya. Susu untuk sang anak sulung pun juga sudah selesai dibuatkan.
"Akhirnya, kelar juga. Sekarang tinggal nungguin mereka saja keluar dari kamar. Aku yakin mereka pasti bakalan seneng banget liat ini semua," ujar Fatimah dengan senyum lebar.
Maira seolah mengerti jika pagi itu waktu ibunya untuk memasak. Jadi, bayi itu pun masih lelap tertidur di dalam bok. Tanpa ada niatan untuk mengganggu waktu Fatimah menjadi koki di rumah mereka.
__ADS_1
Menjadi ibu rumah tangga membuat Fatimah harus bisa bangun pagi, lalu menyiapkan semua kebutuhan suami, serta anaknya sendiri. Sekarang Nenek Siti datang hanya sesekali, itu pun hanya untuk menjenguk kedua cucu kesayangannya.
"Hmm, dari wanginya ini adalah masakan kesukaan Abi, nih!"
Fatimah menoleh cepat saat sang suami sudah keluar kamar. Penampilannya begitu santai. Celana panjang, serta kaos polos berwarna hitam, serta tatanan rambut ala kadarnya. Namun, tetap tidak mengurangi ketampanan dari Aiman Baha Baseer.
"Semua ini memang spesial untuk seorang kepala keluarga yang sudah bekerja keras untuk kami semua," ujar Fatimah, sambil menunjuk semua hidangan yang ada di atas meja makan kepada sang suami.
"Aamiin, aamiin, aamiin, yarabbal'alaamiin." Kedua tangan Fatimah diangkat ke atas setelah mendengar pujian Aiman. Senyumnya masih bertengger manis saat netra wanita tersebut mencari keberadaan putra sulungnya. "Oh, iya. Mas Asa belum keluar juga, Bi?"
Aiman ikut melihat ke arah belakang, samping, lalu ke pintu kamar Hassan yang masih tertutup rapat. "Sepertinya jagoan Abi belum bangun. Kalau gitu biar Abi yang bangunkan. Umma siapkan saja piring dan gelasnya!"
"Baik, Bi."
__ADS_1
Setelah itu, Aiman pun mengetuk pintu kamar bercat putih tersebut tiga kali. Namun, belum juga dibukakan oleh si pemilik kamar. Pria itu pun mengernyit bingung. Tanpa membuang waktu, ia pun bergegas membukanya dengan paksa.
"Mas Asa. Kamu masih mandi, Nak?" Aiman langsung masuk karena ternyata pintu kamar si sulung tidak di kunci. Kakinya terus melangkah masuk ke dalam, memastikan bahwa Hassan ada di kamar mandi. Akan tetapi, lagi-lagi kosong yang ditemukan.
Perasaan cemas pun mulai menggelayuti hati Aiman. Dia mengobrak-ngabrik kamar Hassan hingga ke lemari pun ditengok. Tubuhnya langsung lemas saat mendapati baju sang anak tidak ada sebagian.
"Umma! Umma!" teriak Aiman keras dari dalam kamar anaknya. Matanya sudah basah bersimbah air mata, apalagi setelah menyadari jika ada sebuah surat di sana.
"Nak, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa melakukan hal seperti ini? Terus, Abi harus mencarimu ke mana?"
"Ada ... loh, Abi kenapa nangis? Terus, Mas Asa di mana? Ini juga surat apa?"
"Mas Asa kabur, Umma. Bagaimana ini?"
__ADS_1