
Sejak kejadian itu, Siti meminta Aiman untuk lebih selektif lagi dalam berteman. Wanita paruh baya tersebut juga langsung mengusir Diinah dari rumah saat itu juga. Baru sehari sang menantu menginjakkan kaki di rumah, sudah ada masalah. Jelas itu bukanlah hal yang baik.
"Sekali lagi Anda menginjakkan kaki di rumah ini," jedanya dengan tatapan penuh ancaman. "Saya tidak segan-segan membawa perkara ini ke pihak berwajib!"
Setelah itu, Diinah pulang dengan perasaan kecewa. Niatnya untuk mencomblangi Dinar dan Aiman gagal total. Jujur, dia sangat berharap si teman mau menolongnya. Namun, siapa sangka kedatangannya justru membawa kesialan bagi perempuan cantik–yang ternyata istri baru dari Aiman Baha Baseer.
Kabar pernikahan Aiman dan Fatimah sama sekali belum terdengar hingga telinganya. Maka dari itu, Diinah datang penuh percaya dengan niatan baik. Akan tetapi, justru kabar buruk yang dia dapat. Belum lagi pengusiran yang dilakukan oleh orang tua dari si teman cukup membuat wanita itu sedikit kesal.
"Apa wanita tua itu tidak tahu bagaimana caranya melayani tamu? Main usir-usir saja. Emang gak bisa dengan cara baik-baik apa," gerutunya sepanjang jalan.
Siti mendengus sinis setelah kepergian Diinah siang itu. Dia bahkan menutup pintu rumah dengan tak kalah keras. Tidak peduli mau dikata apa karena menurutnya wanita itu hanya akan membuat masalah saja, jika berlama-lama tinggal di kediaman mereka.
Kini, Fatimah tidak bisa leluasa untuk beraktifitas. Telapak kakinya akan terasa ngilu, jika diajak buat berjalan terlalu lama. Alhasil, dia hanya bisa duduk diam, sambil menonton televisi, makan, atau hal membosankan lainnya.
Hei, bagi seorang wanita aktif seperti Fatimah Azzahra, rebahan itu bukanlah daftar list di dalam hidupnya.
Seperti sekarang, Fatimah yang tengah ditemani oleh si manusia imut dan menggemaskan–Hassan– anaknya tengah berbaring di atas sofa bed. Aiman sengaja menggelarnya untuk memudahkan istri dan sang anak menonton televisi. Namun, itu cukup menyiksa jiwa aktif Fatimah Azzahra.
“Umma," panggil Hassan saat teringat ada sesuatu hal yang perlu diberitahukan kepada orang tuanya.
"Iya, Mas Asa. Ada apa? Laparkah?" Panggilan dari anaknya cukup membuat wanita itu terbangun dari rasa bosan yang menggerogoti hatinya.
Hassan menggeleng.
"Lalu apa, dong?" Fatimah bertanya dengan sabar.
"Besok, satu minggu lagi ada pentas di sekolah. Apa umma bisa ikut?” tanya Hassan, sambil menatap wajah ibu sambungnya dengan pandangan penuh harap.
"Ah, acara kelulusan kamu ya, Sayang?" Fatimah balas bertanya kepada anaknya yang langsung duduk tegak, dengan kedua kaki disilangkan di atas sofa.
__ADS_1
Tanpa terasa sebentar lagi Hassan akan lulus dari taman kanak-kanak. Setelah ini, dia akan melanjutkan sekolah dasar berbasis agama, tempatnya pun tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Jadi, bisa memudahkan Fatimah, Aiman, dan Siti untuk mengantar jemput.
“Insya Allah, umma datang, Nak. Lagian mana mungkin anak umma yang paling tampan ini manggung, kita malah gak datang. Aih, rugi sekali," balasnya jenaka.
"Karena kami sudah tidak sabar buat lihat , penampilan Mas Asa yang paling memukau di atas panggung," lanjut Fatimah, sambil bertepuk tangan riuh seorang diri.
Wanita itu memang sudah melihat video yang dikirimkan oleh wali kelas anaknya. Dalam obrolan para wali murid, penampilan Hassan sangatlah baik dan patut diapresiasi di antara yang lain. Maklum, anak seusia Hassan iij memang lagi aktif dan banyak ingin tahu.
Jadi, ketika mereka disuruh melakukan hal yang sama sekali tidak diinginkan, pasti mereka akan malas-malasan. Akan tetapi, tidak dengan Hassan Baha Baseer. Anak itu begitu rajin dan selalu mengikuti setiap instruksi pelatihnya ketika sedang latihan. maka dari itu, mereka sudah tidak sabar melihat penampilan dari si anak pendiam itu.
Bangga. Itu adalah rasa yang sedang dirasakan oleh Fatimah. Walaupun Hassan ini bukanlah anak kandung, tetapi dia ikut merasa senang atas pencapaian yang dimiliki oleh anak tersebut.
“Benarkah?” tanyanya dengan kedua bola mata yang berbinar terang. “Wah, Mas Asa pasti bakalan senang banget nanti.”
Tangan wanita itu pun digunakan untuk mengusap surai pendek milik anaknya. “Apa sesenang itu umma datang?”
Hassan mengangguk penuh semangat. “Hem. Mas Asa bahkan lebih semangat jika umma, abi, serta nenek datang menontonku.”
“Umma,” rengeknya manja. “Aku malu,”imbuhnya, sambil menutup mata dengan kedua tangan kecilnya.
Fatimah yang gemas akhirnya memeluk Hassan, sambil menggelitik pinggang kecil itu.
**
Siang hari, setelah selesai mengajar Aiman pulang dengan perasaan tidak sabar. Baru setengah hari berpisah dengan istri tercinta, dia sudah rindu. Apakah itu wajar? Wajar saja, sih.
"Fatimah, kenapa dalam beberapa hari saja kau sudah membuatku seperti ini? Apa rasa ini juga kamu rasakan? Aish, Iman. Sepertinya dirimu sudah mulai gila karena berbicara seorang diri," rutuk Aiman, sambil memukul mulutnya sendiri.
Kakinya kini sudah berpijak tepat di depan pintu masuk rumahnya. Namun, bukannya masuk, pria itu justru malah sibuk merutuki diri sendiri. Aiman menyalahkan rasa rindu yang kini tengah menggelora di dalam hati serta pikirannya.
__ADS_1
Wajah Fatimah selalu saja mengganggu konsentrasi dirinya ketika mengajar, apalagi ketika di ruang guru. Maniknya seolah tanpa disuruh selalu saja tertuju ke meja kerja milik sang istri hingga Pak Usman –Guru BTQ– meledeknya terus-menerus.
Kini, setelah sampai rumah, Aiman justru seperti orang linglung yang maju mundur ganteng untuk masuk ke dalam rumahnya. Tangan sudah memegang handle pintu, tapi tiba-tiba turun lagi dan kejadian itu sudah berlangsung beberapa menit yang lalu.
"Bi, kamu itu lagi ngapain, sih?"
"Astaghfirullah hal adzim, Bu. Kenapa tidak kasih sen, atau pencet klakson, kek. Ini dateng-dateng malah main tepuk aja. Kaget tau, Bu."
Aiman mengusap kaos bagian depannya dengan cepat. Kedatangan Siti yang sedang menenteng ember dari samping rumahnya membuat pria tersebut terkejut bukan main.
Siti merotasikan kedua bola matanya. "Halah. Lagian kamu ngapain coba malah kaya orang gila berdiri di depan rumah orang tanpa melakukan apa-apa. Kalau mau masuk, ya, masuk aja, sih. Biasanya juga nyelonong bae," ocehnya panjang kali lebar kali tinggi kepada anaknya.
"Oh, jangan-jangan kamu lagi bingung, yah?" tanya Siti melanjutkan ke-kepoannya.
Aiman tersenyum canggung saat ibunya mengetahui tentang kebimbangan yang tengah dirasakan oleh sang anak. "Kenapa ibu bisa tau, sih?"
Siti menepuk dadanya yang terlapisi setelan krinkle itu dengan penuh bangga. "Nenek Siti gitu, lho," jawabnya tersenyum menyeringai.
Aiman merotasikan kedua bola matanya malas. "Iya-iya, terserah Nenek Siti saja. Kalau begitu Iman masuk dulu ke dalam. Assalamualaikum," pamitnya, lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Waalaikumsalam."
Siti terkikik geli melihat anaknya yang seperti sedang falling in love. Di tahu, jika Fatimah ini akan dengan cepat membuat kekosongan yang sudah lama melanda hidup Aiman pasti akan cepat terisi. Bukan karena ingin menyingkirkan posisi Aisyah di dalam hidup mereka, melainkan ingin memberikan sebuah kehidupan yang lebih baik lagi.
"Aku yakin, kamu pasti sudah klepek-klepek sama di fatimah, kan?" tanya Siti sebelum Aiman pergi jauh meninggalkan dirinya.
Sedang Aiman sendiri terdiam di depan pintu. Pertanyaan itu membuat hatinya bertanya-tanya. Apakah benar dirinya sudah jatuh hati pada Fatimah? Atau, ini hanya perasaan kasihan saja?
...****************...
__ADS_1
Rekomendasi