
Hubungan menantu dan sang mertua kini sudah kembali membaik seperti saat pertama kali Fatimah menginjakan kaki sebagai istri dari anaknya. Kondisi Siti sekarang juga sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin.
Satu minggu dirawat di rumah sakit membuat mereka rindu akan suasana rumah sehingga saat Aiman dan Siti menginjakkan kaki untuk pertama kali setelah sembuh, bibir mereka tidak henti menyunggingkan senyum lega dan bahagia.
"Welcome to, My Home!" teriak Aiman begitu lebay. Dia bahkan tak sungkan merentangkan satu tangan ke atas, sedangkan satunya lagi digunakan untuk memegang bekas luka jahitan di perut.
"Hah, rumah memang tempat ternyaman kita pulang," imbuhnya dengan senyum begitu lebar.
"Benar, Man. Ibu juga merasa sangat merindukan rumah ini." Siti menyahut seruan dari anaknya. Langkah kakinya terus bergerak untuk maju, sampai berhenti tepat di depan sebuah kolam ikan koi yang selalu menjadi tempat favorit nenek dengan sang cucu.
Mata itu seketika terbelalak, teringat akan sesuatu. Dia lalu menoleh ke arah pasangan suami istri yang masih berdiri di depan pagar rumah mereka.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Fatimah. Dia kemudian membantu sang suami untuk berjalan mendekat ke arah ibu mertuanya. "Apa ada yang sakit?"
Siti menggeleng. "Di mana cucuku?" Mata itu mengedar penuh rindu akan kehadiran sosok kecil yang selalu menemani hari tuanya.
"Nenek!" Belum ada hitungan kesepuluh Siti selesai bicara, sosok yang sedari tadi ingin ditemuinya kini sudah berlari ke arah mereka.
Hassan dengan setelan baju polos, serta celana chinos pendek itu langsung menubruk tubuh wanita paruh baya yang selama ini sangat dirindukan. "Kenapa nenek lama sekali pulang ke sini?" Anak kecil itu merajuk.
Siti langsung mengusap kristal bening yang beberapa hari ini terus saja keluar saat mengingat kebersamaannya dengan keluarga kecil Aiman. Dia berjongkok, lalu memeluk balik tubuh Hassan dengan penuh kasih. Bibirnya berkali-kali mengecup puncak kepala sang cucu hingga membuat anak tersebut tersenyum senang.
"Ummaya, apa selama Abi pergi tak ada yang merindukanku?" Pria beristri itu mengadu kepada sosok wanita yang selama dua tahun ini menemaninya. "Abi merasa terbuang di rumah sendiri."
__ADS_1
Hassan yang mendengar ucapan ayahnya segera menoleh dalam pelukan sang nenek. Anak itu menatap Siti, lalu ke Aiman secara bergantian. "Nenek, apa benar itu abi Mas Asa?" tanyanya polos.
Tawa geli seketika menyembur. Fatimah begitu puas saat melihat sang suami justru dikerjai oleh anaknya sendiri.
"Senang sekali istriku ini melihat si suami menderita," cibir Aiman, lalu melengoskan wajahnya ke arah lain.
"Astaga. Mas Asa, lihatlah kelakuan abimu itu! Atau, jangan-jangan umma salah membawa suami?" tanya Fatimah berpura-pura bodoh.
"Abi malu atuh, ih! Masa udah tua merajuk kayak gitu!" Kali ini Hassan tidak membiarkan ibunya sendiri dalam menginsengi si ayah kandung.
"Kalian berdua," jeda Aiman dengan bibir dimajukan. "Sungguh-sungguh sangat menyebalkan. Huwaaaa, Nenek! Umma dan Mas Asa jahat!"
__ADS_1
Siti yang melihat hal itu tentu tak bisa untuk tidak tertawa. Suasana inilah yang selalu membuatnya rindu akan kebersamaan mereka. Keceriaan, dan penuh canda tawa dari keluarga kecilnya akan selalu ada di dalam hatinya.
"Terima kasih atas semua rahmat dan juga hadiah yang Engkau berikan padaku, Ya Allah. Hamba benar-benar bersyukur memiliki mereka. Tolong, jangan biarkan orang jahat masuk ke dalam rumah tangga ini! Biarkan anak dan menantu saya bahagia dalam hidupnya!" ucap Siti tulus, sambil memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.