
Keesokan paginya, Aiman sudah berpakaian rapi. Kemeja putih dilengkapi dengan jas hitam, serta celana bahan semakin membuat pria itu terlihat seperti Businessman. Tidak ketinggalan dasi yang melingkari lehernya, sempurna.
Eits, tunggu dulu!
Akan tetapi, seperti ada yang kurang? Kira-kira apa? Sulit sekali untuk mencari perbedaannya. Pakaian, rapi. Dasi, mantul. Rambut, klimis. Lantas, apa lagi?
"Kenapa?" tanya pria itu datar tanpa ekspresi.
"Ah, aku tau!" seru Fatimah cepat.
"Apaan, sih, Ummaya? Kamu bikin aku kaget aja."
Fatimah langsung membingkai wajah sang suami hingga membuat bibir si paksu terlihat seperti bebek. Lucu sekali. Cup.
"Apa ini? Mau ngerayu, eoh?" Aiman melipat bibirnya ke dalam dengan rona merah yang mulai merambat di kedua pipinya. "Gak mempan!" imbuhnya, lalu melengos ke arah lain, tetapi tidak bisa.
Fatimah terkekeh, sambil tetap memegang kuat wajah tampan suaminya hari ini. "Udah, gak usah ngambek. Masih ada hari esok, Bi. Jadi, gak usah kayak Mas Asa yang ngambek gara-gara gak dibelikan mainan, deh." Fatimah menyentil hidung bangir sang suami.
Manis. Manis sekali. Fatimah memang paling bisa membuat Aiman tak betah berlama-lama merajuk. Ada saja ulah menggemaskan wanita itu sehingga pria tersebut luluh, seperti orang murahan yang hanya disentuh sedikit langsung hayo.
__ADS_1
"Suaminya Fati, utu-utu-utu. Main, yuk!" Goda wanita itu lagi, sambil bertingkah seperti kucing peliharaan yang sedang meminta perhatian si majikan.
"Aish, diamlah, Sayang! Kau ini benar-benar membuatku menjadi gila."
"Loh, kenapa?" tanya Fatimah, sembari mengedip-ngedipkan matanya sengaja.
Aiman dibuat tak berkutik setiap melihat Fatima dalam mode manja, merajuk.seperti.sekarang. Bawaannya pengin nyekap seharian, tapi, eh, tapi waktu tidak memungkinkan.
"Sayang, hentikan itu! Atau, kamu ini memang sengaja melakukan itu supaya aku tak jadi pergi, terus ngurung kamu di kamar seharian gitu? Itu yang kamu mau?" Pria itu langsung membombardir sang istri dengan begitu banyak pertanyaan hingga tubuh mereka kini telah berada di atas ranjang.
Fatimah menahan tawa saat wajah mereka begitu dekat, bahkan aroma mint yang keluar dari mulut si suami tengah menggelitik indera penciumannya. Mata pria itu memandang penuh kesal, tetapi mendamba. Tangan lentik si istri pun terangkat ke atas untuk meraih rahang tegas milik sang belahan jiwa.
Aiman menatap bingung akan perubahan sikap sang istri. Dia telusuri wajah putih mulus wanita di depannya. Ada keraguan, ketakutan, bahkan sendu di balik senyumnya hari ini. Mata pria itu berkedip, lalu mendekatkan wajah mereka sampai kening itu menempel menjadi satu.
"Apa ini yang namanya firasat, eoh?" tanya Aiman tanpa menjauhkan wajah mereka.
Mata wanita itu terlihat sendu menatap sang suami yang begitu dekat. Ada perasaan yang tak bisa diungkapkan, tetapi yang ia rasakan saat ini adalah ingin menahan kepergian sang suami. "Terlalu berlebihankah jika aku menahanmu untuk tetap di sini?"
Pria itu mengecup bibir yang hanya berjarak begitu dekat dengannya. "Gak, Sayang. Abi malah seneng kamu mengatakannya sekarang. Karena jika menunggu nanti-nantikan, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Mungkin kamu bakalan ngambek satu bulan, atau malah setahun? AW, sakit, Ummaya," rengeknya saat ya gan sang istri mencubit pinggang.
__ADS_1
Fatimah yang gemas dengan sang suami lalu melingkarkan tangannya ke tubuh Aiman. Mata itu menatap penuh peringatan ke arah Aiman. "Emang Abi mau kita gak saling tegur sampai setahun? Kalau aku, sih, No. Mending pergi cari co–"
"Sttt!" Telapak tangan Aiman bertengger di depan mulut sang istri. "Sekali lagi umma ngomong gitu lagi, Abi gak akan segan buat ngurung umma seharian penuh!"
Mata wanita itu seolah menantang, menggantikan bibirnya yang tengah dikunci oleh tangan si pria.
"Oho, sepertinya istriku ini memang perlu diberi pelajaran. Oke, mari kita bersenang-senang, Sayang!" Setelah itu, semua benang yang membalut tubuh mereka mulai tercecer di atas lantai. Niatan untuk pergi pun diurungkan hanya karena ingin memberi hukuman kepada si wanita di bawah sana.
Tak ada teriakan, apalagi penolakan. Mereka seolah menikmati setiap sentuhan di titik poros yang menjadi pusat sebuah kenikmatan duniawi. Semua begitu menyenangkan, membahagiakan hingga melodi itu selalu bisa menjadi candu dalam setiap permainannya.
Melupakan akan visi dan misi yang telah dihafal di dalam otaknya demi menuruti keinginan pasangan. Semua melebur menjadi kata-kata cinta. Bak si perayu ulung yang ingin menangkap mangsa, mereka tak membiarkan si waktu menghentikan setiap aktifitas penuh gairah itu.
Sementara itu, pihak HRD sudah didesak oleh sang pemimpin perusahaan untuk menanyakan keberadaan si pelamar yang katanya akan datang pagi ini. Namun, sampai siang justru batang hidungnya malah tak nampak sehingga membuat wanita itu mencebik kesal.
"Saya sudah menelponnya, Bu. Tapi, malah suara operator yang menjawabnya," ujar sang sekretaris sedikit ketakutan.
"Pergi!" usirnya tanpa ekspresi.
Setelah kepergian sang sekretaris, wanita yang tengah duduk di atas singgasananya itu menatap penuh sinis pemandangan kota di depan matanya.
__ADS_1
"Sepertinya umpanku kali ini tak mempan untuk dia. Oke, tak apa. Aku akan buat umpan lain untuk menjeratmu kembali," ucapnya penuh tipu muslihat.