
Maya tersenyum manis saat tangan Riko memijat bagian pelipisnya. Nyaman dan juga menenangkan.
"Aku hampir diperkaos sa–"
"Apa?" Teriakan dari Riko membuat Maya berhenti bicara. "Kok, kamu baru ngomong, sih? Siapa yang melakukannya? Akan aku patahkan tulang-tulangnya, lalu aku buang ke kandang buaya biar dia tahu dengan siapa sedang berhadapan."
Maya menatap Riko datar. Tubuhnya yang belum siap, tiba-tiba terjatuh ke atas lantai lantaran gerakan sang kekasih begitu cepat untuk berdiri. Kini, bukan hanya kepala yang sakit, melainkan pinggang pun terkena dampaknya.
Wanita itu mengumpat kesal. "Apa kamu ini sedang balas dendam denganku, eoh?"
"Eh, kok, kamu ada di situ, Mau?" Bahkan dengan polosnya Riko bertanya kepada Maya sehingga membuat wanita itu menggeram marah.
"Pulang sana!"
"Loh, kok, malah diusir? Gak, dong, May. Aku ini sedang berusaha menjadi kekasih yang baik dan perhatian. Jadi, gak boleh ada yang menyuruhku pergi dari sini. Titik!" ujarnya keras kepala.
"Kalau emang mau jadi pacar yang baik, ya, jangan kau buat aku seperti sampah tak terlihat. Yang bisa kapan saja kau singkirkan disaat lagi gak butuh!" Ditepis kasar tangan Riko yang hendak membantunya berdiri. "Menjauh sana!"
Bukan Riko namanya jika mendengarkan apa yang diucapkan oleh Maya. Pria itu dengan tidak tahu diri justru menggelendot manja di lengan sang kekasih. "Maaf, May. Aku tadi hanya terllau kaget dengan apa yang kamu katakan. Jujur, aku sedang kalut. Memikirkan bagaimana dirimu di sana dan … argh, aku gak bisa berpikir jernih."
Maya mengembuskan napas berat. "Tenanglah! Aku ini bukanlah perempuan lemah yang bisa dengan gampang dikalahkan oleh bangsa kalian. Jadi, hentikan tingkah manjamu ini!"
"Siapa, May? Siapa yang sudah melakukan ini semua padamu?" Dengan begitu cepat, raut yang tadinya seperti anak kecil, berubah menjadi dingin. Mata itu memperlihatkan sebuah emosi yang tidak bisa dibaca oleh Maya.
"Kau tau Alex?"
"Alex." Bibir itu mengucapkan nama yang disebutkan sang kekasih dengan tatapan dingin. Di dalam otaknya kini tengah mencari data-data buronan polisi hingga para pejabat negeri. Pupil Riko seketika membesar, menatap wajah Maya yang kini hanya mengangguk.
"Berengs3k!" Riko langsung mengepalkan tangannya marah. "Berani sekali dia melakukan hal keji itu pada kekasihku. Aku gak bisa hanya diam. Pokoknya harus kutuntaskan semua masalah ini hingga ke akar-akarnya!"
Maya menatap punggung Riko yang kini tengah membelakanginya. Pantatnya sendiri sedari tadi sibuk didudukkan di ranjang empuk, sedangkan Maya terus mengawasi emosi yang menguar dari dalam tubuh sang kekasih.
__ADS_1
Siapa, sih, perempuan yang tidak akan terpesona dengan lelaki bertanggung jawab seperti Riko. Tampang oke, duit banyak, karir cemerlang, lantas apalagi yang perlu dicari? Pria itu sudah masuk dalam daftar menantu idaman tahun 2023, kecuali otaknya yang kadang suka geser.
Maya sendiri sudah akui kekalahannya. Pria itu sudah banyak mengambil hati, serta perhatiannya. Untuk berpaling, maupun mencari pengganti saja tidak ada. Pesona Riko dengan segala kegesrekannya memang tak bisa membuat hati Maya berpaling.
"Riko," panggil Maya tanpa sadar.
Pria itu menoleh. Ekspresi dingin, serta tatapan membunuhnya sudah berganti menjadi lembut, bahkan sedikit kekanakan. Tangannya mengusap lembut wajah sang kekasih penuh cinta. "Ada apa, Mau? Apa kamu ingin aku membunuhnya sekarang juga?"
Maya menggeleng.
"Lalu?" Riko dengan sabar menunggu jawaban dari Maya.
"Kenapa kamu begitu tampan hari ini?"
Tangan yang sedari tadi sibuk mengusap surai pendek sang kekasih berhenti di udara. Matanya menatap penuh tanya, akan apa yang baru saja terlontar dari bibir berwarna merah natural itu.
"Sepertinya otakmu ikut geser, May," celetuk Riko setelah sekian menit terdiam dalam buaian kecantikan Maya.
"Kenapa kamu malah ketawa?"
"Karena kamu lucu."
"Mulutmu pengen tak ci_pok apa, eoh?"
"Sok, atuhlah. Urang mah siap." Bibir pria itu dimajukan hingga hampir mengenai pipi sang kekasih. Namun, sebelum itu terjadi sebuah bantal sudah lebih dulu mendarat di wajah Riko.
"May!" Teriakan Riko sama sekali tak membuat Maya kasihan.
Wanita itu justru memiting kepala Riko di antara ketiaknya. Dia tidak peduli akan aroma tak sedap yang akan menguar di sana. Yah, tahu sendiri. Dia belum mandi dari kemarin. Jadi, salahkan pria itu sendiri yang datang ke kandang singa.
"Rasakan serangan ketek bau acemku! Jiahh!"
__ADS_1
Riko sendiri kini tengah gelagapan karena hampir mati sesak napas. Sebab kuatnya si kekasih memiting kepala. Dia yang sudah tidak kuat pun segera membalik posisi sehingga sekarang Maya berada di bawah tubuhnya.
"Mau apa kamu? Gak usah macem-macem kamu!" ancam Maya dengan mata menyorot tajam.
"Gak. Pokoknya aku bakalan pergi dari atas tubuhmu sebelum berjanji untuk tidak bertingkah seperti tadi!" Riko menekan tubuh Maya yang kini tengah berbaring telungkup di atas ranjang, sedangkan pria tersebut mendudukinya.
"Iya-iya, aku janji. Jadi, tolong menyingkir dari atas tubuhku!"
"Janji!"
Maya mengangguk pasrah.
Riko pun tersenyum lebar. Dia pun menyingkir dari atas tubuh Maya. Memasang wajah tak bersalah dengan begitu polos, lalu memeluk sang kekasih. "Sayang banyak-banyak buaya Maya!" ucapnya manja.
"Aish! Menjauhlah! Kau hanya membuat kepalaku semakin pusing!" usir Maya.
"Aku gak peduli. Yang penting sayang sama kamu," tuturnya acuh dan tetap memeluk si kekasih.
Maya pun hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang dilakukan oleh Riko. Dia sendiri hanya bisa menghela napas berat, berharap jika tangan yang sedari tadi sudah gatal untuk tak melayang pada wajah si pacar.
***
"Riko, ponselmu berbunyi!"
Riko yang sedang sibuk menghangatkan makanan di microwave segera mendekat ke arah ruang tamu. "Kenapa gak diangkat, sih?"
"Malas. Takutnya itu dari cewek lain. Nanti, yang ada malah aku ceramahi," sahutnya acuh, lalu kembali sibuk menonton televisi.
Pria itu pun hanya mengangguk, lalu mengangkat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Wajahnya tadi sempat biasa saja, tetapi dalam beberapa saat tahu siapa dan alasan apa yang membuat wanita itu menelpon pun mengernyit heran.
Mata pria itu menatap wajah samping sang kekasih cukup lama hingga ia pun mengambil keputusan.
__ADS_1
"Bu …."