Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 23


__ADS_3

Pria dengan kaos polos warna hitam kini sedang duduk di sebuah sofa panjang yang disediakan untuk para tamu. Matanya terus menatap awas dan penuh penilaian. Mencari celah di mana dan kapan ia akan beraksi.


"Ternyata, rumahnya bahkan tak lebih besar dari rumahku,” cibirnya penuh cemooh. “Lantas, kenapa Fatimah bisa memilih lelaki yang lebih kere dariku? Apa wanita itu tak ingin menjadi seorang ratu di dalam rumah tangganya?"


Pria itu adalah Dhani Wicaksono. Sahabat dari Fatimah Azzahra yang baru saja mengalami patah hati setelah tak dipilih untuk dijadikan masa depan dan justru memilih seorang duda beranak satu.


“Maaf, apa Anda mencari saya?” Aiman yang baru sampai segera bertanya terus terang. Dia bukanlah tipe orang yang suka berbelit-belit.


Aiman bahkan tanpa menunggu, segera duduk di sofa single yang terletak di samping kiri si tamu tak diundang tersebut. Duda beranak satu itu juga tak perlu menutupi perasaan herannya. Dia bahkan tak sedikitpun niatan untuk menawarkan minuman, atau sekadar bertanya ingin apa.


“Ini silahkan diminum. Maaf, adanya hanya teh dan air putih. Kami belum sempat berbelanja tadi.” See. Sang ibulah yang akan menyiapkan itu semua, tanpa diminta, dan tanpa disuruh. Akan tetapi, ini adalah tata cara menyambut tamu yang baik dan benar yang sesungguhnya.


Aiman sendiri akan melakukan hal yang sama, jika tamu yang datang ke rumahnya tidak memandang rendah, serta tatapan mencemooh kepada dirinya.


Ya, tatapan Dhani Wicaksono begitu merendahkan Aiman Baha Baseer yang notabenenya adalah si pemilik rumah. Bukankah seorang tamu seharusnya tahu bagaimana bersikap yang baik ketika sedang berkunjung ke rumah orang lain? Bukan justru menaburkan genderang perang seperti yang dilakukan oleh pria itu.

__ADS_1


Tidak sopan. Itu adalah reaksi normal bagi setiap orang yang didatangi tamu. Duda beranak satu itu sempat terlintas di dalam pikiran untuk mengusir Dhani dari rumahnya. Namun, dia masih menunggu si tamu berbicara, lalu memberitahukan maksud dari kedatangan rivalnya.


“Mau sampai kapan kamu akan tetap diam seperti ini? Jika, memang niat Anda ke sini hanya untuk diam, sebaiknya pergi saja!” Bukan bermaksud mengusir, tetapi lelah sudah mulai menggerogoti tubuhnya.


“Oke, saya tahu mungkin kedatangan saya ke sini pasti sangat mengganggu waktu istirahat Anda. Tapi, saya bukanlah tipe orang yang suka menunda-nunda dalam mengambil keputusan,” jelas Dhani untuk mengawali pembicaraan ini.


“To the point saja!” suruh Aiman sedikit menguap. Rasa kantuk sepertinya mulai menyerang hingga tanpa bisa dicegah, dia kembali menguap.


Dhani menyeringai. “Tinggalkan Fatimah! Dia bukanlah wanita yang pantas untuk menjadi istrimu. Karena dia hanya mencintaiku!”


Aiman berdecih. “Apa jawaban yang diberikan oelh Fatimah masih kurang jelas untuk Anda, Mas Dhani?” Setiap untaian kata yang terucap dari bibirny penuh penekanan seolah apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah lelucon.


Lelucon yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya.


“Aku sangat tahu perasaan Fatimah kepadaku. Dia itu hanya malu dan mungkin tidak enak kepada keluarga Anda. Duda beranak satu yang pastinya terliaht sangat menyedihkan di hadapan semua orang dan aku juga tahu, Fatimah ini pasti hanya kasihan, atau iba saja kepada dirimu.”

__ADS_1


Aiman mengepalkan kedua tangannya erat. Dia lalu mencoba rileks, agar tidak terpancing dengan ocehan dari si rival gila–yang mungkin merasa tersaingi– dari pulau tidak jelas itu.


“Maaf Mas Dhani yang terhormat. Mungkin, Anda yang seorang pekerja kantoran ini pasti merasa sangat terintimidasi dengan kehadiran seorang PNS seperti saya. Tapi, bukankah Anda ini harusnya lebih selektif lagi dalam berbicara?”


“Saya akan berkata sopan kepada orang yang memang layak menerimanya,” jawabnya, sambil tersenyum menyeringai sinis.


“Maksudnya … saya ini tidak layak?”


“Ya, karena Anda ini adalah seorang 4nj1ng yang hanya bisanya menggonggong untuk mendapatkan perhatian mere–”


Bugh!


...****************...


Rekomendasi novel temen

__ADS_1



__ADS_2