
Bulir kristal bening itu jatuh membasahi wajah pucatnya. Bibir itu tersenyum tetapi air mata terus saja mengalir seperti tengah mengkhianati isi hati yang tengah berbahagia karena sudah bisa melihat pria yang sedari tadi ditangisi sudah sadar.
Riko juga tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia terharu karena melihat wanita yang selama ini terkenal begitu irit bicara, serta dingin, justru tengah bergetar, menangis hanya karena dirinya. Apakah ia harus berbangga diri lantaran sudah membuat seorang Maya meminta maaf padanya?
Tidak. Dia justru merasa bersalah. Rasa yang dimiliki sekarang adalah ingin memeluk tubuh bergetar di depan sana. Riko ingin sekali menariknya, lalu membisikkan kata-kata cinta yang tidak akan pernah padam sampai kapan pun.
“Maafkan aku.” Wajah itu menunduk, memainkan kuku ibu jarinya dengan gamang tanpa berani mendongak, menatap pria yang sudah tidak sabar ingin memeluk tubuh Maya.
Tangan pria itu sudah gatal ingin sekali menarik Maya. Akan tetapi, Riko tidak mungkin melakukan hal tersebut. Jangankan pacar, menjadi teman saja mereka sudah seperti kucing dan anjing. Mengemis cinta pun sudah sering, bahkan hampir setiap mereka bertemu … kata romantis ia lontarkan.
Apakah berhasil? Tidak sam sekali. Yang ada dicuekin. Poor, Riko. Akan tetapi, itu bukan masalah besar bagi dirinya yang memang begitu tulus mencintai wanita dingin satu itu. Perjuangan masih panjang. Jadi, selama Maya belum dimiliki oleh siapa pun maka akan selalu ada kesempatan untuk menjadikan wanita tersebut Ratu di dalam istana cintanya.
Tolong kalian jangan mual dulu! Karena ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuang energi.
__ADS_1
“Kamu kenapa menangis? Aku belum mati, loh.” Riko mencoba melempar candaan yang selalu ia gunakan untuk merayu, atau membuat wanita itu tertawa. Namun, selalu berakhir diabaikan. Semoga kali ini tidak!
“Diamlah! Kenapa kamu bicara seperti itu?” Maya menyentak Riko dengan mata basahnya. “Atau kamu memang ingin mati sekalian!”
Riko langsung mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya, sambil menutup mata. "Ampun, Nyonya! Tolong berikanlah hambamu ini kesempatan untuk tetap hidup dan menua bersamamu!"
Bukan tersanjung dengan ucapan Riko, kaya justru menutup mulutnya dengan kepala tertunduk. Isakan itu kembali keluar, bahkan kaki wanita itu tak bisa menahan diri lagi.
"Diam! Kenapa susah sekali, sih, membuat mulutmu itu diam! Apa perlu aku melakukannya?" Sentakan Maya yang dibarengi dengan suara bergetar justru semakin membuat Riko cemas.
"Kutil, jangan seperti itu, dong! Kau justru membuatku kebingungan. Ayo, dong, jangan menangis lagi!" Panik membuat Riko turun dari ranjang, mengabaikan peringatan dokter untuk tidak banyak bergerak dulu. Dia justru melangkah tertatih, sembari memegang bagian perut yang nyeri.
Sebuah tangan kini sudah bertengger manis di atas kepala si wanita hingga membuat si pemilik terkejut. Dengan cepat Maya berdiri. Wajah sembab penuh linangan air mata tak membuatnya peduli. Pupil mata tersebut membelalak saat melihat keberadaan Riko di depannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu ini memang sudah bosan hidup, eoh?!" Maya berniat mendorong tubuh Riko, serta tiang penyangga infus itu, tetapi ditahan oleh si pemilik.
Tangan pria itu kini sudah dengan lancang menyentuh wajah hangat Maya yang basah. Ibu jarinya mengusap lembut, lalu dengan tatapan sendu ia menggeleng. "Jangan menangis karena aku!"
Bukannya berhenti, air mata itu justru kembali mengalir, bahkan semakin deras. Wajah itu hendak tertunduk, tapi lagi-lagi ditahan oleh Riko.
"S14l! Kenapa kau membuatku seperti ini, May!" Riko membawa tubuh bergetar Maya ke dalam pelukannya. Dia mencoba tegar, tetapi gagal. "Ini gara-gara kamu. Lihat, air mataku sampai tak bisa ditahan!"
Tangan wanita itu kini sudah memeluk punggung pria tersebut. Dia menumpahkan semua rasa bersalahnya selama ini karena sudah mengacuhkan, bahkan menyakiti hati Riko.
Pelukan itu pun berlanjut hingga beberapa waktu sampai suara pria itu terdengar. "Katakanlah sesuatu, May! Jangan hanya diam!" ujar Riko saat pelukan mereka sudah lama terjalin. "Atau, kau ingin bajuku basah karena ingusmu?"
Maya langsung memukul bahu Riko. "Kau memang pandai merusak suasana, Badak! Sana berbaringlah di ranjang! Atau, kau mau aku membaringkanmu, hm?" tanyanya dengan mata melotot.
__ADS_1