
Dengan langkah riang dan terkesan cukup tidak sabar, tungkai kecil itu menerobos masuk ke dalam halaman rumah perempuan yang akan menjadi calon ibu untuknya.
Ya, Hassan dengan begitu lugu menjawab kesediaannya untuk menjadi anak dari Fatimah. Wanita yang pertama kali, setelah ibunya masuk ke dalam hatinya. Salahkan saja sifat keibuan yang dimiliki oleh Fatimah sehingga membuat Hassan nyaman dan ingin disegerakan dijadikan anaknya.
"Lihat anakmu, Man! Sepertinya dia begitu tak sabar ingin bertemu dengan calon ibunya." Siti terkekeh saat melihat sang cucu tengah melepaskan sepatunya sendiri di teras rumah milik Fatimah.
Senyum penuh semangat dari Hassan, bahkan tak pernah luntur selama perjalanan mereka ke sini. Hari ini adalah tepat satu minggu setelah ayah dan anak tersebut pillow talk di ruang kamar milik Aiman.
"Tapi, kamu sudah memantapkan hati kamu, kan, Man?" Tiba-tiba Siti menarik lengan anaknya yang hendak melepas sepatu pantofel miliknya.
Aiman menghela napas berat. Sudah kesekian kali ibunya bertanya pertanyaan yang sama. Di rumah, di dalam mobil, bahkan sebelum turun dari kendaraan pun masih hal yang sama ditanyakan.
"Bu, Iman hanya mengikuti apa kata hati. Iman juga gak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Shalat istikharah, tahajud, dan taubat pun sudah dilakukan hanya untuk minta petunjuk dari Allah. Dan jawabannya, ya, memang ini!"
Siti menepuk bahu anaknya, lalu tersenyum salah tingkah. "Gak sampai shalat taubat juga kali, Man," sahutnya setengah malu.
Anak lelakinya ini memang paling bisa membuat si ibu geleng-geleng kepala. Namun, Aiman jugalah yang bisa membuat nenek dari Hassan tersebut kalang kabut untuk mencarikan calon istri.
"Lagian ibu ini ada-ada saja. Udah tau kita di sini untuk apa, ya gak etis banget jika kita sudah rapi begini hanya untuk bertamu tanpa ada niatan lain." Hampir saja Aiman merotasikan kedua bola matanya jengah. Bisa digampar si anak, jika ketahuan melakukan hal itu.
Bohong. Siti bukanlah ibu yang keras, apalagi kasar kepada anak. Dia justru wanitanya baik, tegas, dan bahkan sangat dikagumi oleh anaknya. Aiman bersyukur bisa dilahirkan oleh wanita hebat seperti Siti.
Seorang wanita single yang bisa membesarkan anaknya, bahkan bisa menyekolahkan Aiman hingga bisa menjadi seperti sekarang. Semua itu adalah hasil didikan dari Siti.
Maka dari itu, Aiman begitu bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Baseer.
"Loh, itu mobil milik siapa?" Siti menyipitkan kedua matanya saat melihat ada kendaraan yang parkir di belakang mobil anaknya.
Aiman sendiri ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh ibunya. Entah kenapa hatinya menjadi was-was kala menyadari sosok rapi yang keluar dari mobil berwarna hitam tersebut adalah Dhani. Bisa dibilang, dia adalah saingan Aiman.
Saingan banget, Man?
"Kok, mereka ke sini, sih?" Siti berbisik curiga dengan niatan dari keluarga yang terlihat begitu rapi tersebut. Mereka berdua bahkan masih berdiri di teras rumah Fatimah tanpa berniat mengetuk pintu yang masih tertutup rapat dari dalam.
__ADS_1
Apakah si pemilik rumah tidak sadar, jika di depan rumahnya banyak orang? Ataukah, mereka sudah terlelap? Akan tetapi, itu jelas tidak mungkin. Jarum jam masih menunjukkan pukul 19.30 WIB, shalat isya saja baru selesai dilaksanakan. Kemungkinan mereka memang tidak mendengar keriuhan yang terjadi.
Terutama di dalam hati kedua pria yang sama-sama mengenakan kemeja batik. Hanya saja, Dhani mengenakan batik motif Tionghoa yang semakin memperlihatkan kewibawaannya yang cukup memukau, lalu dipadukan dengan celana katun panjang, sangat tampan.
Tidak mau kalah, Aiman malam ini juga tak kalah tampan, bahkan ketampanannya melebihi di jam terbang biasanya. Kemeja batik motif simetrik membalut tubuh kekarnya, dengan dipadukan dengan celana chinos.
Jika bidadari melihat pun akan terpesona oleh ketampanan dari dua pria matang tersebut.
Keluarga Dhani yang sudah berdiri di depan teras rumah Fatimah pun tersenyum santun. Mereka mengulurkan tangan untuk saling berjabat tangan demi kesopanan dan juga karena memang sudah menjadi kebiasaan orang indonesia, jika bertemu orang lain pasti akan saling bersalaman.
Kebetulan yang sangat tidak terduga pun terjadi. Fatimah yang baru saja pulang dari pengajian terbelalak akan kehadiran dua keluarga sekaligus ke rumahnya. Dia yang saat itu sedang berdiri, sembari memegang buku tanpa sadar menjatuhkan benda tersebut.
Suara tersebut membuat suasana yang sedikit tegang seketika teralihkan. Dua pria tersebut segera menoleh ke asal suara dan ekspresinya pun berbeda. Dhani yang tersenyum lega, sementara Aiman hanya berdiri diam, sambil menatap datar kedatangan Fatimah.
“Ya Allah, dingin amat itu orang. Gak bisa apa pasang senyum sedikit,” gerutu Fatimah lirih saat matanya tanpa senagja ebrsibobrok dengan mata elang milik Aiman. “Astagfirullah hal adzim. Ngomong apa aku barusan. Kamu gak boleh seperti itu, Fa!”
Tangannya refleks memukul bibirnya yang seperti tak pernah diajari untuk berkata baik oleh orang tua, serta gurunya. Jika ketahuan Aminah, mungkin dia akan ditabok menggunakan pantat wajan yang hitam di dapur.
Aiman melengos, lalu membuang napas kasar dan saat itu pula dia menemukan wajah menyeringai, serta alis naik turun milik Siti yang ternyata sedari tadi tengah memperhatikan perubahan sikap dari anaknya yang tampan itu.
“Apa?” tanya Aiman tanpa suara kepada ibunya.
Siti dengan cepat mendekatkan bibirnya ke telinga sang anak, lalu berbisik. “Kamu cemburu, ya?”
Tubuh Aiman seketika menjauh saat mendengar godaan dari ibunya. Dia berdehem untuk menenangkan kerja jantungnya yang tiba-tiba bekerja lebih cepat dari biasanya. Ingin sekali dirinya menyeret tubuh perempuan yang masih setia berdiri di depan halaman.
Namun, dia hanya bisa berdiri kaku, sambil mengepalkan kedua tangan di dalam saku celananya. Dia melipat bibirnya ke dalam hanya untuk menahan diri, agar tidak berucap kasar, atau paling parah adalah menyumpah serapahi lelaki yang dengan kurang ajarnya menarik lengan gamis Fatimah.
Kedua bola matanya hampir terbelalak keluar saat api mulai membakar hatinya. Dia semakin mengeratkan kepalan tangannya di dalam sana, giginya bahkan bergemeletuk menunjukkan ketidaksukaan dengan interaksi akrab dari dua insan yang tengah berjalan menuju teras.
“Tante Fati!” teriak anak kecil yang sudah sedari tadi duduk diam di atas kursi taman yang memang disediakan di teras rumah calon ibunya.
Aiman hampir saja lupa, jika sedari tadi ada anaknya yang begitu tak sabar bertemu Tante Fati–nama panggilan favoritnya kepada wanita yang sangat disukainya. Dia memalingkan wajah saat menemukan senyum tak kalah antusias dari Fatimah ketika netranya menemukan si bocah menggemaskan berada di depan rumahnya.
__ADS_1
“Mas Asa,” sahutnya tak akalah riang, hingga merentangkan kedua tangannya untuk meraih tubuh kecil Hassan.
Kejadian tersebut sedikit membuat Aiman merasa di atas awan karena dirinya selangkah lebih di depan atas si perempuan. Eh, benarkah itu isi hatiku? Apa aku sesenang itu, Mas Asa bisa sedekat itu dengan dia? Atau, ini hanya perasaan saja?
“Loh, ada tamu?” Aminah yang saat itu mendengar keributan segera membuka pintu rumahnya dna wanita yang sudah mengenakan daster panjang, serta kerudung langsungan itu segera terkejut.
“Ayo, masuk! Jangan hanya di depan! Fati, suruh mereka masuk semua,”suruh Aminah untuk segera mempersilahkan tamu mereka masuk ke dalam rumah.
Tidak lupa, dia juga menyalami satu-persatu tamunya dan bahkan dengan cekatan segera membuatkan minum dengan dibantu oleh si anak perempuan. Di dapur, tidak ada yang saling bicara, hanya suara denting sendok yang bertemu gelas kaca ketika sedang membuat minuman.
Setelah itu, senyum sopan kembali diterbitkan ketika mereka berdua menuju ruang tamu. Umar–ayah dari Fatimah sudah lebih dulu duduk untuk menemani si tamu mengobrol. Basa-basi sudah dilakukan hingga tibalah si pemilik rumah mulai menanyakan maksud dari kedatangan dua keluarga tersebut.
“Jadi, begini, Pak, Bu. Maksud kedatangan kami sekeluarga adalah untuk melamar putri Anda untuk dijadikan menantu di dalam keluarga kami. Apa Nak Fatimah bersedia menerima lamaran dari anak kami, Dhani?”
Aiman, Siti, dan juga si kecil–Hassan sontak mendongak. Mereka memang sudah menebak, tetapi hati mereka tetap saja terkejut setelah mendengar niatan si tamu yang lain. Aiman bahkan menunduk tanpa berniat mengangkat wajahnya pasrah.
Namun, sebuah kehangatan tengah menyelubungi telapak tangan dan pelakunya adalah Hassan. Anak yang baru berusia lima tahun itu tersenyum. Menguatkan sang ayah untuk tetap maju karena dia memang menginginkan Fatimah menjadi ibunya.
“Abi pasti bisa!” bisik Hassan dengan senyum penuh harap.
Aiman pun mengangguk. Dia sedikit banyak menemukan kepercayaan dirinya. Setelah menarik napas panjang, pria tersebut pun mulai membuka suara dengan mata menatap serius keluarga si perempuan.
“Sebelumnya saya minta maaf atas kelancangan kami berkunjung ke rumah Bapak Umar dan Ibu Aminah malam-malam seperti ini. Namun, maksud kedatangan saya di sini juga mempunyai tujuan yang mulia, yaitu melamar anak bapak dan ibu sekalian untuk dijadikan istri untuk saya, dan ibu dari anak saya.”
Keluarga si pihak perempuan pun saling melirik satu sama lain. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan lamaran oleh dua keluarga sekaligus malam ini. Akan tetapi, untuk keluarga Aiman sendiri mungkin adalah berniat untuk meminta jawaban dari Fatimah beberapa minggu lalu.
Umar dan Aminah tersenyum canggung, lalu menatap Fatimah yang kini tengah menunduk di sebelah mereka. “Kalau kami berdua sebenarnya menyerahkan keputusan kepada anak kami. Fatimah, apa jawaban kamu atas lamaran dua pria tampan yang ada di depanmu hari ini?”
“A-ku ….”
...****************...
__ADS_1