
"Fati belum pulang, Bu?"
"Belum. Kenapa? Apa kamu sudah rindu padanya? Ckckck, baru juga sebentar ditinggal pergi, sudah kelimpungan saja kau ini!"
Siti mencibir kelakuan anaknya yang sudah mulai bucin kepada sang menantu. Fatimah saja baru pergi selama satu jam, tetapi Aiman sudah terlihat blingsatan seperti cacing yang disiram dengan air garam.
Aiman menggaruk belakang kepalanya. "Ibu apaan, sih? Iman kan hanya bertanya," elaknya.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"
Aiman melotot shock saat ibunya justru mencibir dengan jargon salah satu artis terkenal di sosial media. "Ibu, kok, gitu, sih? Lagian ngapain juga ngomongnya kaya gitu. Kayak gak ada bahasa lain aja, deh!" tegur si anak sedikit kurang suka.
Siti hanya merotasikan kedua bola matanya malas. Wanita paruh baya itu tahu jika anaknya sekarang sedang salah tingkah makanya memilih mengangkat bahu. Dia lalu melanjutkan membuat puding kesukaan sang cucu.
Mengacuhkan anak lanang yang sedang merana hanya ditinggal sebentar oleh Fatimah. Hassan sendiri sedang berada di kamar, tidur. Mungkin kelelahan setelah seharian bermain bersama ibu sambungnya.
"Kalau emang kangen, telpon saja!" usul Siti, sambil lalu.
Aiman yang mendengarnya menoleh ke arah sang ibu, tetapi pria itu hanya menghela napas berat. Ia takut jika Fatimah akan merasa terganggu dengan panggilan dari dirinya. Akan tetapi, tangannya sudah gatal ingin memeluk istri tercinta setelah seharian sibuk dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Bu, aku menikah dengan Fatimah sudah berapa bulan?"
Siti mengernyit heran. "Lah, kamu sendiri yang menikah, masa nanya sama ibu. Ya, kamu hitunglah sendiri sono!"
Aiman menghela napas lelah karena merasa jawaban ibunya sama sekali tak membantu.
"Lagian emang kenapa, sih? Tumben pertanyaan kamu random banget," imbuhnya setelah selesai menuang semua puding ke dalam cetakan.
Untuk sementara ditaruh di atas meja makan supaya dingin. Setelah itu barulah puding baru dimasukkan ke dalam lemari pendingin.
"Kok, random, sih, Bu? Kan, wajar jika aku menanyakan hal itu," jawab Aiman mencoba bersabar.
"Apa kamu sudah tidak sabar ingin menimang anak lagi?"
Aiman menoleh kaget saat tiba-tiba ibunya sudah berada dekat dengannya. "Loh, kapan ibu ke sini? Perasaan tadi masih di dapur?"
Siti mengibaskan tangannya. "Ibu tanya sekali lagi. Apa kamu sudah tidak sabar untuk mempunyai anak lagi?"
Tangan yang sedari tadi memegang ponsel seketika membeku. Selama ini, dia tidak pernah memikirkan masalah anak, atau pun membahasnya berdua dengan Fatimah. Jadi, ketika ibunya menyinggung masalah baby, lantas ia harus menjawab apa.
__ADS_1
Bayang-bayang saat persalinan Hassan yang merenggut nyawa Aisyah membuatnya takut kehilangan sosok orang terkasih. Oleh sebab itu, di dalam pikiran, serta hatinya justru tak menginginkan keturunan lagi. Dia sudah kehilangan sekali, tidak untuk yang kedua kalinya.
Menyadari ketakutan yang tengah melanda anaknya. Siti segera menarik tangan Aiman, kemudian digenggamnya lembut. "Apa kamu masih trauma, Nak?"
"Hah, apa, Bu?"
Siti tersenyum miris. Dia jelas bisa melihat kekosongan yang ada di balik tatapan Aiman. Trauma akan kehilangan orang tercinta memang kadang cukup sulit dihilangkan. Sama seperti lelaki yang di depannya, anaknya sendiri.
Pria yang terlihat tegar dan dingin itu selama ini begitu rapi membungkus trauma tersebut sehingga tidak terendus oleh orang lain. Namun, dia ini adalah ibu, wanita yang telah mengandung selama sembilan bulan, dan melahirkannya. Jadi, apa pun yang sedang dirasakan oleh Aiman, dia pasti tahu.
"Man, rezeki, jodoh, dan umur itu tidak ada yang tahu. Semua itu atas izin Allah. Kita itu diciptakan juga atas izin Allah, bukan kemauan kita, apalagi tetangga kita. Jadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas meninggalnya Aisyah. Itu semua sudah jalannya. Semua umat manusia juga sudah punya waktunya untuk hidup dan mati."
"Jadi, jika kematian Aisyah membuatnya takut untuk memiliki anak lagi itu tidak benar. Ok, kalau kamu emang takut. Tapi, jika memang Allah sudah berkehendak, jangan pernah kau sesali, apalagi kau elakkan!" Nasihat Siti kepada anaknya.
Aiman sendiri merenung. Terdiam di atas sofa setelah mendengar nasihat dari ibunya. Benar memang jika semua ini adalah takdir Allah. Akan tetapi, manusia juga punya perasaan yang mungkin sulit untuk menerima semua kejadian itu.
"Tapi, aku masih takut, Bu," akunya jujur.
"Jika kamu seperti itu terus, yang ada kamu hanya akan menyakiti hati seseorang! Terutama Fatimah. Tolong pikirkan itu lagi!"
__ADS_1
Aiman pun tak bisa berkata-kata. Dia hanya diam memikirkan ucapan dari ibunya. "Lalu, aku harus bagaimana, Bu?"