Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 76


__ADS_3

"Man, istirahat, yuk! Udah waktunya makan, nih!" ajak salah satu pegawai yang mengenakan topi pelindung kerja kepada pria yang sedari tadi tengah duduk di depan komputernya.


Aiman melepas kacamata kerjanya, lalu mengangguk dengan senyum kecil. "Duluan saja, Bang. Saya menyusul," tolaknya halus.


"Ok, kalau gitu duluan, yah!"


Aiman mengangguk, lalu setelah kepergian Pak Somad–operator bagian mesin– dia pun mengurut batang hidungnya yang terasa penat. 4 jam dirinya menatap layar komputer sampai sekarang belum juga selesai.


Sungguh melelahkan, tetapi ia ikhlas melakukan pekerjaan ini. Buat siapa lagi coba, kalau bukan istri dan anaknya. Mereka adalah penyemangatnya untuk selalu tetap berdiri dan tidak menyerah hanya karena belum terbiasa dengan pekerjaan barunya.


“Tiba-tiba aku jadi merindukan mereka.” Senyum itu terulas lembut kala membayangkan wajah istri, beserta dua buah hatinya di rumah.


Sebuah tepukan lembut di bahu, membuat Aiman tersadar jika dirinya tidak sendiri di dalam ruangan. Wajah lelah itu tak bisa membohongi siapa pun, termasuk sang atasan–Raka. "Mau makan, Bos?" tanyanya sopan.


Raka mengangguk. "Ayo, buruan!" ajaknya tak mau dibantah.


"Tapi, punya saya belum selesai, Bos," tolak Aiman tak enak hati.


"Yang bos di sini itu saya. Jadi, kalau gak mau nurut sama saya, kamu mau nurut siapa, hah?" Pria berusia 38 tahun itu segera menarik tubuh Aiman untuk mengikutinya. Raka memang terkenal baik dan tak membedakan. Terbukti dari dirinya yang merakyat, alias mau bergabung dengan karyawan lain saat beristirahat, maupun bekerja.


Oleh sebab itu, mereka pun terlibat akrab, seperti kawan dekat yang tidak memandang strata jabatan, atau pun harta


"Pak Raka duluan saja. Biar saya matikan dulu komputernya." Aiman menunjukkan layar komputernya yang masih menunjukkan tampilan MSE terpampang jelas.

__ADS_1


Raka pun mengangguk, lalu menepuk bahu sang bawahan lagi. "Saya tunggu di bawah. Awas aja kalau sampai dalam 2 menit kamu gak turun … gajimu akan saya potong 300%!"


Aiman tersenyum kikuk. Dia tahu maksud dari sang bos ini hanyalah bercanda. Akan tetapi, ia juga tak mungkin membuat pria itu menunggu terlalu lama hanya untuk makan. "Siap, Pak!"


Semenjak Aiman bekerja di perusahaan pria itu merasa sedikit kagok, tetapi juga senang. Dia seolah menemukan sosok yang baru dari dalam tubuhnya. Bibir yang selama ini akan bicara ketika menerangkan pelajaran, kini justru begitu nyaman bersama dengan orang baru.


Orang baru rasa lama. Maksudnya adalah mereka yang sudah lama bekerja di sana, sama sekali tak membedakan anak baru dengan anak lama. Berbaur dengan akrab, seperti layaknya keluarga. Tentu hal itu menjadi sebuah suasana baru yang akan selalu membuat bibir Aiman terangkat ke atas.


***


“Permisi, apa saya boleh duduk di sini?”


Sebuah suara lembut masuk ke dalam kedua rongga telinga pria yang sedang menyuapkan satu sendok penuh nasi pecel ke dalam mulutnya. Namun, dia tetap tak bergeming.


Wanita itu tersenyum lembut, sosok yang memang selalu diperlihatkan di depan banyak orang, ramah, murah senyum, dan tentunya loyal. Berbanding terbalik jika sedang sendiri, angkuh, tidak mau dibantah, dan suka memerintah.


“Duduk sini aja, Bu! Itu si Iman kayaknya lagi kelaperan, makanya telinganya suka kadang-kadang gak berfungsi dengan baik.”


Aiman merotasikan kedua bola matanya pasrah saat ayah empat anak itu menyindirnya. Dia sendiri tadi memang tidak terlalu sadar jika wanita itu hendak duduk di sampingnya. Mata itu pun mengedar ke arah meja lain dan semuanya terisi penuh. 80% di sini adalah lelaki, sisanya wanita muda.


Itu pun bagian lain bukan di ruangannya. Aiman berada di gedung A, sedangkan mereka di gedung C. Cukup jauh dan bertemu pun jika pria itu ke kantin yang terletak di gedung A, selain itu tak akan ada waktu untuk saling berselisih.


“Terima kasih, Pak Somad.”

__ADS_1


Suara wanita itu kembali menyadarkan akan lamunan Aiman tentang masalah tidak penting di dalam perusahaannya. Mata itu pun kembali menunduk, menikmati makanan, tanpa berniat untuk melihat siapa orang yang kini tengah asyik berbaur mengobrol dengan teman kerjanya.


Pikirannya sudah terbesit ingin segera pulang dan menikmati waktu bersama istri, beserta kedua anaknya. Bibir itu ketika tersenyum, senyum yang menunjukkan akan ketidaksabaran akan kebersamaan mereka. “Miss you, all,” bisiknya pada diri sendiri.


Sementara itu, Trisa berdecak lirih saat orang yang dia harap akan melihatnya, justru mengabaikannya. Ia mencari cara bagaimana bisa menarik perhatian dari pria tersebut, tetapi sedari tadi para bapak-bapak di depannya kini tidak lelah menuju perubahan yang ada pada dirinya.


Ugh, kenapa panas sekali, sih. Tak bisakan aku melepasnya hanya sebentar saja?! keluhnya dalam hati.


Jangan, Bodoh! Apa kamu mau perubahanmu ini tak menimbulkan kesan apa pun pada pria itu! batinnya kembali berbicara dan melarangnya untuk melakukan hal bodoh.


Dia sendiri memang merasa kegerahan mengenakan pakaian tertutup, serta jilbab yang sudah disiapkan oleh Tami tadi di mobil. Setelah usahanya mencari tahu di mana keberadaan dari Aiman, kini mereka akhirnya bisa kembali bertemu.


Jujur, pria itu memang begitu tampan hingga membuat detak jantungnya berdetak begitu cepat, apalagi sifat acuh, serta dinginnya membuat Trisa seakan bertekad untuk mendapatkannya, apa pun yang terjadi.


Namun, kejadian selanjutnya cukup membuat suasana kantin yang tadinya riuh akan obrolan ini itu dari para karyawan, seketika berubah hening. Pelaku penyiraman yang kini tengah memandang penuh dendam terhadap wanita berhijab yang diketahui bernama Trisa Abdulah.


“Cuih, orang busuk seperti Anda ini tak akan pernah bisa berubah menjadi permata hanya karena mengenakan pakaian seperti itu! Jadi, jika ingin bertaubat, seharusnya Anda ini minta maaf kepada kami yang telah dilukai perasaannya!” teriak pria itu dengan lantang.


Kedua tangan perempuan itu kini sudah mengepal hingga buku jarinya memutih. Kesabarannya yang memang setipis tisu itu hampir tersulut jika saja ada pria yang langsung menghalangi si pembuat onar untuk melukai Trisa dengan sebuah kursi yang hendak diayunkan ke arahnya.


Bugh. Suara itu begitu keras dan terdengar memilukan, tetapi Aiman masih tetap membungkuk di hadapan wajah Trisa. Pupil mata pria itu sejenak melebar akan menyadari siapa perempuan yang ada di hadapannya.


“Aisyah,” ujarnya lirih sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Tubuh itu limbung tepat ke dalam dekapan Trisa yang membeku karena terhipnotis dengan tatapan dari Aiman.

__ADS_1


__ADS_2