Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 15


__ADS_3

"Mas Asa, jangan lari-lari, Nak!" pekik Siti kepada Hassan yang sedang berlarian di koridor sekolah menengah atas, tempat sang ayah mengajar.


"Di sini seru, Nek. Luas banget," sahut anak kecil berseragam TK. Dia memang terlihat begitu bahagia dan antusias.


Sepulangnya dari sekolah, Hassan dan Siti memutuskan untuk berkunjung ke sekolah Aiman. Si anak tunggal tidak ingin pulang dan justru malah merengek meminta untuk bertemu dengan ayahnya. Alhasil, sekarang mereka berada di sini, berjalan sembari melihat lingkungan sekitar.


Raut lelah jelas terlihat di wajah Siti. Dirinya memang bertugas untuk menjemput si cucu kesayangan karena tadi pagi tak sempat ikut mengantar Hassan. Namun, saat melihat senyum lebar dari Hassan membuat rasa tersebut hilang seketika. Sesaat wanita paruh baya tersebut teringat kejadian di sekolah tadi, di mana ada kejadian heboh yang menggemparkan dunia per-TKan. Apalagi kalau bukan Hassan yang diantar oleh ibunya.


Sempat bingung, tetapi setelah ditelaah lebih dalam lagi, akhirnya Siti pun tersenyum. Wanita yang mereka bicarakan pastilah Fatimah, calon istri dari Aiman. Namun, dia sedikit menghela napas karena ada saja yang tetap menjelekkan seseorang di belakang, padahal mereka tidak saling mengenal.


“Tampang saja cantik, tapi mulutnya sungguh tidak mencemirkan kecantikannya. Lebih baik burik, tapi mempunyai hati baik. Daripada menawan, tetapi justru busuk seperti tempe penguk,” omel Siti ketika pertama kali mendengar calon menantunya dibicarakan oleh para ibu-ibu wali murid.


“Nenek-Nenek,” panggil Hassan dengan semangat. Tangannya terus saja menggoyangkan lengan dari si wanita yang melahirkan ayahnya.


“Ada apa, Sayang? Apa kamu lapar?” Siti menyetarakan wajahnya dengan wajah sang cucu. Tidak lupa merapikan surai pendek milik Hassan yang terlihat lepek karena berlarian sehingga menempel di kening, bercampur dengan keringatnya.


“Itu bukannya Tante Fati!” tunjuknya dengan raut bahagia ke arah wanita yang sedang berdiri di depan kelas bersama dengan dua orang anak muridnya.


“Benarkah?” tanya Siti, sambil mengerutkan kelopak mata karena pandangannya sedikit kurang awas.


Maklum, di usia senjanya memang sedikit mengalami rabun jauh dan sialnya kacamata ikut tertinggal di rumah. Alhasil, dia harus njureng-njureng ketika melihat jarak jauh.


“Ish, Nenek. Masa nenek gak tau, sih,” kesal Hassan, lalu memberengutkan bibirnya. Dia merajuk, tetapi belum ada satu menit wajah tersebut sudah berangsur cerah saat melihat wanita yang memang sedari tadi ingin ditemui, sedang berjalan lurus ke arah mereka.


“Tante Fati!” pekik Hassan yang begitu senang, bahkan terkesan begitu heboh.


Dia seperti lnya lupa akan kejadian tadi pagi di mana si anak kecil dan sang ayah membuat Fatimah merasa terdampar di gurun pasir. Ya, tapi itulah kehebatan anak kecil. Ia bisa melakukan hal apa pun tanpa takut hal itu membuat siapa pun merasa canggung, atau tidak.


Manik Fatimah pun seketika bersinar senang, apalagi setelah melihat keceriaan yang terlihat dalam wajah Hassan. Dia lalu berpamitan kepada anak muridnya untuk pergi terlebih dahulu dan berjanji akan menyusul ke ruang kelas. “Hai, Sayang,” sapanya tak kalah semangat.


Hassan tiba-tiba saja memeluk wanita tersebut sehingga dirinya yang belum siap hampir terjengkang ke belakang, jika saja telapak tangan sebelah kiri tak digunakan sebagai penopang. Namun, dia tak marah, justru terkikik, bahagia luar biasa.


“Masya Allah, senang sekali bisa bertemu dengan anak sholeh lagi hari ini. Bagaimana tadi di sekolah, hm?” Fatimah begitu terlihat menikmati perannya sebagai tante, yang mungin sebentar lagi akan naik pangkat menajdi ibu dari Hassan.


Aish, membayangkan akan bersatu menjadi keluarga ini, membuat perutku menjadi mulas.


“Mas Asa juga senang karena bisa bertemu dengan Tante Fati lagi. Oh, iya, Tante. Mas Asa mau minta maaf soal tadi pagi.” Terlihat sekali jika anak tersebut begitu menyesal, bisa dilihat dari kepalanya yang tertunduk menatap lantai keramik.


“Hei, Anak Jagoan!” Tangannya dengan cepat menarik dagu Hassan hingga kini dia bisa melihat dengan ejals kedua manik hitam pekat sedang menatapnya sendu. “Tante gak marah, kok. Anggap saja, jika tadi pagi kita lupa untuk saling bertukar kabar karena sibuk.”


“Tapi, Mas Asa benar-benar kepikiran, Tante. Makanya, Mas Asa meminta nenek untuk mengantar ke sini. Tante Fati beneran, kan, mau maafin aku?” Kedua bola mata anak kecil itu terlihat penuh harap, bahkan terkesan memohon dan hal itu sangat menggemaskan dalam pandangan Fatimah.

__ADS_1


Jemarinya pun tanpa bisa dicegah mencubit gemas pipi si anak sholeh. “Iya, udah. Permintaaan maaf Mas Asa, Tante Fati terima dan sebagai tanda perdamaian kita, tante punya hadiah untuk Mas Asa. Tapi, tidak hari ini, mungkin nanti sepulang sekolah. Bagaimana, apa Masa Asa tidak apa?”


Fatimah bertanya dengan senyum tulus di wajahnya. Dirinya memang tidak membawa apa pun untuk dijadikan hadiah, bahkan permen yang biasa tersimpan di saku rok pun tidak terbawa.


“Emang apa itu, Tante? Mas Asa udah gak sabar pengen liatnya!” rengeknya manja. Tubuh itu terlihat begitu antusias hingga kedua tungkai si anak kecil tak bisa berhenti melompat-lompat.


Fatimah menggigit bibir bagian bawahnya, berpikir hadiah apa yang pantas diberikan kepada anak kecil. Dia lalu melirik ke arah depan dan senyum sopan pun terulas. Kala menemukan wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan sang ibu tengah melambaikan tangan kepada dirinya.


Perempuan itu pun langsung tersenyum salah tingkah. Dia lalu berdiri untuk bisa mencium punggung tangan Siti–ibu dari Aiman. "Assalamualaikum, Tante. Maaf, keasyikan ngobrol sama Mas Asa, sampai lupa gak negur Tante."


Siti tersenyum, lalu tangannya dengan cepat mengusap kepala Fatimah yang tertutupi jilbab berwarna hitam. "Waalaikumsalam. Tidak apa, Nak. Tante bisa ngerti, kok. Mas Asa ini, kalau udah nyaman emang suka lupa diri dan tak berhenti bicara."


Kode keras dari si calon mertua.


Fatimah balas tersenyum. Dia berpura-pura tidak mendengar perkataan dari Siti. Wanita tersebut hanya takut menjadi lupa diri karena merasa disanjung oleh calon ibu mertuanya. "Tante ke sini pasti mau bertemu dengan Pak Iman. Mari, saya antar! Kebetulan beliau masih ada di ruang guru."


"Tante Fati." Jari-jemari si Hassan kini sudah nyaman menggenggam telapak tangan Fatimah yang tadi menganggur. Dia bahkan menggoyangkan lengan tersebut agar ekspektasinya terlihat oleh si tante kesayangan.


"Iya, Sayang. Ada apa, hm?" tanya Fatimah, lagi-lagi wanita tersebut menyetarakan wajahnya dengan milik si anak kecil.


Kejadian manis yang sangat disukai oleh anak kecil karena mereka merasa diperhatikan.


"Saya?" Telunjuknya menunjuk tubuhnya sendiri dengan bingung. Ekor mata wanita tersebut melihat ke arah Siti seolah sedang memastikan ucapan dari Hassan.


Namun, Siti juga tidak mengira, kalau niat dari si cucu adalah bertemu dengan tantenya, bukan bapaknya. Akan tetapi, hal ini sama saja seperti sekali mendayung dua, tiga, pulau terlampaui. Selain bertemu dengan Aiman, dia juga bisa berbincang santai bersama Fatimah–si calon mantu.


"Loh, kok, Tante, sih?" Kembali Fatimah bertanya kepada si anak kecil.


"Ya, karena Mas Asa emang pengin ketemu sama Tante Fati," jawab Hassan jujur.


Hati Fatimah berbunga. "Masya Allah. Ternyata selain Sholeh, Mas Asa juga pandai merayu, hm?" Jemarinya mencolek hidung bangir anak di depannya.


Pipi Hassan seketika merona merah. "Ih, Tante."


Wajah Fatimah semakin berbinar saat mendapati Hassan justru merasa malu. Diusapnya surai pendek itu lagi, sambil memandangi rupa si bocil tampan. Tak pernah terbayangkan, dirinya akan begitu merasa nyaman bersama seorang anak kecil. Selama ini, ia tak begitu berniat mendekati makhluk Tuhan paling menggemaskan.


Karena apa? Ya, karena Fatimah tidak ingin merasa nyaman dan justru berkeinginan untuk memiliki seorang anak. Secara, calon suami saja belum datang. Namun, entah kenapa bersama dengan Hassan, justru membuat perasaan ingin melindungi seketika muncul.


Bahaya ini. Kalau si punya bapak mau menikah dengan dirinya? Lah, kalau tidak … bisa patah hati dia. Bukan patah hati karena tak jadi menikah dengan si bapaknya. Dia justru patah hati karena tak bisa menjadi ibu dari anak kecil nan menggemaskan seperti Hassan.


"Loh, kok, kalian ada di sini?"

__ADS_1


Suara berat seorang lelaki membuyarkan pikiran Fatimah. Dia pun menoleh, lalu menemukan bapak dari anak lelaki di depannya sudah datang. Alhasil, dia pun berdiri dengan benar, kemudian menunduk sopan.


"Abi," panggil Hassan ceria hingga membuat Aiman mengerutkan kening.


"Ucapkan salam dulu, Mas Asa!" tegur Aiman lembut.


Hassan pun cengengesan, lalu setelah itu mengucapkan salam yang dibalas oleh ketiga orang dewasa di sana secara kompak. Tidak ada yang salah, kan? Bukankah jika ada yang mengucapkan salam, harus dijawab? Jadi, jangan melihat mereka aneh seperti itu, dong.


"Ada apa, Nek? Kok, tumben ke sini? Apa ada sesuatu?" tanya Aiman yang kini sudah menggendong Hassan. Anak kecil itu begitu manja hingga tidak mau turun dari sana.


Siti tersenyum saat Hassan di dalam gendongan Aiman, tetapi justru mengajak bercanda Fatimah. Sungguh pemandangan yang sangat langka dan bahkan mereka terlihat seperti keluarga yang sesungguhnya.


"Nek," panggil Aiman sekali lagi saat wanita paruh baya tersebut justru tersenyum-senyum sendiri melihatnya.


"Oh, itu. Tadi nenek dan Mas Asa cuma kangen, pengin lihat sekolahan kamu. Jadi, gak masalah, kan, kalau kita ke sini?"


"Tapi, saya masih harus mengajar lagi, Nek. Kemungkinan satu jam lagi baru selesai," balasnya.


"Gak apa, kok. Nenek sama Mas Asa akan menunggu kalian di kantin. Sekalian, nenek juga laper," sahutnya, sambil mengusap perutnya yang rata.


"Kalau begitu, biar saya yang mengantar," usul Fatimah.


Hassan dan Siti yang mendengarnya terlihat senang, lalu setuju, sedangkan Aiman tidak bisa berbuat banyak. Ada ulangan di kelas yang akan diajarkan. Alhasil, dia pun mengizinkan, lalu menurunkan tubuh sang anak untuk berpindah posisi di dekat Fatimah.


"Bukankah kamu ada kelas juga hari ini?" tanya Aiman sedikit merasa bersalah.


Fatimah mendongak sebentar, lalu pandangannya diturunkan untuk kembali menatap Hassan yang sudah tak sabar pergi ke kantin. "Tidak apa, Pak. Saya juga sudah memberikan tugas kepada anak murid saya tadi. Nanti, setelah mengantar Tante Siti dan Mas Asa, saya baru ke kelas."


Aiman pun menghela napas lega. Eh, kenapa malah aku merasa lega? Ckckck, pasti ini hanya perasaan gila yang tidak jelas tujuannya.


Setelah berpamitan, Aiman memandang punggung ketiga orang yang kini sedang berjalan menuju kantin itu dengan pandangan datar. Dia jelas bisa melihat kenyamanan yang ditunjukkan Hassan bersama Fatimah. Sebaliknya, ia juga bisa merasakan ketulusan si wanita terhadap anaknya.


Hela napas berat kembali terembus dari hidung mancung miliknya. Ia mendongak untuk melihat ke arah langit, berharap dengan melakukan hal tersebut, wajah almarhum istrinya nampak. Akan tetapi, hingga beberapa sekon ditunggu, justru matanya yang terasa silau.


"Hahhh, kenapa berat sekali mengambil keputusan ini," ocehnya, sambil mengusap rambutnya kasar.


...****************...


Mampir, yuk ke sini!


__ADS_1


__ADS_2