Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 104


__ADS_3

“Lepaskan! Lepaskan saya! Apa kalian sudah gila, hah? Saya ini adalah Trisa Abdullah. Anak dari Tuan Abdullah yang telah memberi kalian tempat untuk tinggal di sini. Jika bukan karena ayah, kalian pasti akan terlunta-lunta hidup di dunia ini!”


“Yakh! Apa kalian tul1, hah?! Saya bilang lepaskan, ya, lepaskan!” Wanita yang memakai baju berwarna orange itu kini sedang berteriak di dalam jeruji besi. Kecantikan yang selama ini menempel dalam dirinya seolah ikut luntur setelah dirinya ditangkap atas tuduhan penculikan dan percobaan pembunuhan.


“Diamlah, Nona Kaya Raya! Kau hanya akan membuat kepala kami ini mau pecah mendengar suara cemprengmu itu.” Wanita bertubuh tambun, sebut saja Yiyi mengorek telinganya yang berdengung dengan kesal. Kedamaian yang selama ini menemani mereka menjadi pecah seketika setelah kedatangan Trisa.


Trisa hendak membuka mulutnya, tetapi suara lain sudah lebih dulu mendahuluinya. Dia pun menoleh sengit. "Apa kalian baru saja berbicara denganku?"


Satu sel yang Trisa tempati ini memang tidak hanya ditempati olehnya sendiri. Ada 3 orang lainnya yang juga tengah menempati. Entah kejahatan apa yang dilakukan oleh mereka, dia tidak peduli.


Pandangan mencemooh Trisa dapatkan dari mereka. Namun, wanita itu tidak takut, apalagi gentar. Kepalanya diangkat tinggi, lalu tungkainya berjalan bak seorang model catwalk yang tengah berlenggak-lenggok di atas panggung. Akan tetapi, ini adalah sel. Tempat di mana para tahanan dari berbagai macam kasus bercampur menjadi satu.


Ketika tubuh langsing itu sudah berdiri tepat di depan sosok tambun tersebut, bibir tipisnya mendencih sinis.


"Wah, berani sekali kamu memandangku seperti itu." Yiyi tertawa kecil, tetapi dalam sekejap rautnya berubah dingin. "Apa kamu mau mati?!"


Trisa menyeringai. “Hei, Gendut! Apa kamu tadi bilang? Cempreng?” Suara tawa itu langsung mengudara begitu lepas di ruang sempit yang hanya berukuran 4x4 meter, lalu setelahnya hilang berganti dengan tatapan tajam dan membunuh, diikuti sebuah tarikan di rambut Yiyi.


“Arghh. Sakit, Bege!” Yiyi sontak terkejut dengan gerak cepat wanita di depannya. Ia bisa merasakan beberapa helai rambutnya terlepas dari kulit, saking kencangnya tarikan tangan itu di kepalanya. "Lepaskan! Atau kamu mau mati, hah!"

__ADS_1


"Mati? Siapa? Saya?" Trisa terus mengeratkan jambakan di rambut Yiyi. Dia mengabaikan dua orang lainnya yang kini tengah berusaha melepaskan cengkramannya. "Kalian yang akan mati duluan!"


Tidak tinggal diam. Yiyi berusaha balas menarik rambut Trisa, tetapi yang didapatkan hanya lah udara kosong. Namun, saat ia tengah tubuhnya justru terpelanting jatuh ke bawah. Kembali suara teriakan keluar dari bibir hitam miliknya.


Umpatan kasar pun terlontar dari mulut Yiyi, apalagi saat merasakan punggungnya menyentuh lantai begitu kerasnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Bos?” Kedua temannya langsung membantu Yiyi yang tengah terlentang di atas ubin. Tubuh tambun itu pun kini sudah didudukkan di tikar, lalu diberinya air minum.


Yiyi yang tidak terima dikalahkan oleh Trisa langsung meludah tepat di kaki wanita itu.


Sedang Trisa sendiri hanya menatap dingin. Salah satu sudut bibirnya naik ke atas, lalu kedua tangan dilipat di depan dada seolah dia tak merasa terintimidasi akan kehadiran ketiga napi tersebut. “Jangan kalian kira saya takut dengan kalian! Jika aku mau, sudah aku patahkan tulang bosmu!” ujarnya penuh penekanan.


Yiyi dan kedua tahanan wanita lainnya hanya diam di tempat. Mereka tidak menyangka jika wanita kaya itu ternyata adalah orang yang tidak bisa dianggap remeh. Ketiga orang tersebut seketika tak berani mengusik Trisa lagi.


“Fatimah, Aiman … aku pastikan ini bukanlah akhir dari kehidupan kalian. Karena setelah aku bebas, bisa kupastikan hidup kalian tidak akan pernah damai lagi!” ucap Trisa dengan suara lirih, tetapi penuh dendam.


**


“Woi, Kutil! Mau ke mana kamu?”

__ADS_1


“Dih, sombong amat, sih, Neng. Masa ada yang ngajak bicara malah dicuekin.”


Maya yang tengah berjalan menuju salah satu kamar rawat temannya hanya memutar kedua bola matanya malas. Dia mengabaikan satu orang lelaki berpakaian serba hitam–sama seperti yang dikenakan oleh wanita itu juga– dan tetap berjalan lurus, tanpa menggubris kehadirannya.


“Dih, si Kutil ini kayaknya memang minta dicipok–” Belum usai pria yang diketahui bernama Riko selesai bicara, sebuah tangan lebih dulu mampir di depan bibirnya. Tanpa segan, Maya menampar mulut pria itu. “Sadis banget sih, Neng!”


“Aku gak nyuruh kamu buat ngoceh sedari tadi, Badak. Jadi, sebelum saya meremukkan pusakamu, jangan pernah mengurusi hidupku lagi!” ujar Maya penuh peringatan. Tidak ada candaan.


Riko dan Maya bekerja di satu bidang yang sama, hanya saja pria itu banyak melakukan aktivitas di dalam kantor, sedangkan si wanita di lapangan. Pertemuan mereka pun terjadi jika sedang menerima dan melaporkan tugas saja.


Maya sendiri bukanlah wanita yang buta akan perasaan orang lain. Dia jelas tahu bagaimana Riko mengejar, atau mencari perhatiannya. Namun, hatinya memang belum ingin dibagi dengan kisah-kisah romansa yang jelas akan membuatnya menjadi lemah.


"Kutil, nikah, yuk!"


Tubuh Maya langsung berbalik. Bibir itu mengulas senyum cantik yang sangat jarang sekali dia perlihatkan pada siapa pun. Jari-jarinya mengelus rahang tegas milik pria di depannya dengan mesra.


Riko sudah percaya diri saat melihat senyum Maya. Pipinya bahkan bersemu saat bibir wanita itu mendekati telinganya. Namun, bisikan itu justru membuatnya nge-lag.


"Nikah sono sama monyet!" balas wanita itu ketus setelahnya.

__ADS_1


Riko terkejut. Mulutnya hampir saja jatuh saat ia sudah merasa di atas angin, tiba-tiba dibanting secara sadis oleh wanita yang kini sudah lebih dulu masuk ke ruang rawat suami dari sahabat baiknya.


"Dasar, Kutil Badak. Kutil-kutilan, Sinting. Aish, padahal kita ini cocok, loh. Kenapa kamu sulit sekali, sih. Harus dengan apa aku mendekatimu?" Tangan Riko menjambak rambutnya frustasi. "Tuhan, tolong satukanlah kami! Jika kami tak berjodoh, tolong jodohkanlah kami!" ujarnya memaksa kepada Sang Pencipta.


__ADS_2