
"Siapa, Sayang?" Aiman yang baru saja selesai memakai baju, bertanya setelah tahu sang istri masuk ke dalam kamar mereka. Tangan pria itu melingkar manja di pinggang wanitanya. Ia hirup aroma vanilla yang menguar dari dalam tubuh Fatimah, begitu memabukkan.
Wanita yang berstatus sebagai istri sah Aiman Baha Baseer tersebut memilin bajunya sendiri. Ragu untuk mengatakan siapa tamu yang sudah dengan lancang menginjakkan kaki di rumah suaminya sepagian ini.
"Apa ibu?" tanya Aiman, sambil mengusap pipi halus dan lembut milik istrinya. Bibirnya bahkan tak bisa menahan untuk menciumnya.
"Bi," rengek Fatimah malu.
Aiman terkekeh saat rona merah kembali muncul di pipi sang istri. "Kita bahkan sudah melakukan hal lebih dari sekedar kecupan, Sayang. Tapi, kenapa masih malu, hm?"
Tangan putih itu memukul dada bidang suaminya dengan bibir memberengut lucu. "Kan, ini yang pertama untukku, Bi. Apa kamu lupa, hm?" tanyanya sedikit kesal.
"Astaga. Maafkan suamimu ini, Ummaya. Bukan niatku mengejekmu, tapi salahkan saja pipi merah ini hingga membuatku tak tahan untuk menggodamu," sahut Aiman, sambil mencium pipi istrinya. "Gemesin banget, sih, Istriku ini."
Fatimah terkikik geli, lalu kedua tangannya refleks merangkul tengkuk Aiman. Pria itu dengan sengaja justru menggelitik pinggang sang istri sehingga tubuh langsing tersebut menggelinjang geli.
"Hentikan, Bi! Ini geli," ujar Fatimah, sambil berusaha menghentikan tangan suaminya yang tengah bertengger di pinggangnya.
"Tak akan. Sebelum kamu kasih tahu aku, siapa tamu yang ada di depan sana, hm!"
"Tapi, lepasin dulu, Bi!" rengeknya mulai kewalahan untuk tertawa. Hei, siapa yang tidak geli, jika pinggangnya digelitikin oleh orang lain? Kalau ada, berarti Anda hebat.
Aiman pun menyudahi aksinya dan mengganti dengan memeluk pinggang ramping sang istri. Wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher si wanita. Menghirup aroma yang sudah menjadi candunya.
"Sekarang katakan! Siapa tamu itu hm?"
__ADS_1
Fatimah menahan napas saat embusan napas pria itu menerpa kulit lehernya. Ya, entah sejak kapan jilbabnya terlepas dari kepalanya hingga kini surai basah itu terpampang nyata di hadapan sang suami.
"Iemma pun tidak tahu, Bi. Katanya, sih, temen kuliah Abi."
"Temen kuliah?" Aiman mencoba menebak siapa seorang teman yang dimaksud oleh Fatimah. "Di dalam pikiranku terlalu penuh akan wajahmu, Ummaya. Jadi, bisakah kau jelaskan siapa tamu itu?"
"Astaga, Bi. Ternyata dirimu seorang pembual juga, ya," dengkus Fatimah. "Tapi, tamu yang datang ke rumah itu seorang perempuan. Namanya Diinah."
"Hei, Ummaya. Tak perlu kau memasang wajah murung. Diinah itu hanya teman kuliah Abi ketika di Kairo. Lagipula dia juga sudah menikah. Kami hanya beberapa kali bekerja sama ketika ada tugas kelompok di sana. Jadi, istriku yang cantik ini tidak perlu cemburu seperti itu," telunjuk aiman mencolek hidung bangir istrinya.
Fatimah pun mengelak. "Aku tidak cemburu, Bi. Hanya terkejut saja tadi karena ada perempuan yang mendatangi rumahmu."
Pria itu pun mengusap wajah istrinya lagi, lalu mengecup kedua pipi, kening, hidung, kedua kelopak mata, dagu, dan terakhir adalah bibirnya. Dua pasang netra itu pun kini saling memandang, kemudian tersenyum.
"Aish, kenapa kamu bikin aku candu banget, sih, Sayang? Apa aku suruh dia pulang aja, yah?" Pertanyaan Aiman justru mendapatkan cubitan gratis di pinggang dari Fatimah.
Fatimah langsung memeluk suaminya kala melihat wajah menggoda Aiman. "Temuilah temanmu itu! Jangan kau buat tamu terlalu lama menunggu, Bi. Aih, kau membuatku merasa menjadi istri yang protektif karena begitu lama hanya untuk memanggil suaminya keluar kamar," gerutunya.
"Tapi, aku lebih ikhlas kau mengurungku di kamar, Sayang, daripada menemui orang lain," godanya semakin menjadi-jadi.
Sebelum mendapatkan cubitan gratis lagi dari Fatimah, Aiman sudah pergi menuju pintu. Namun, saat tangan itu sudah mencapai handle wajahnya di tolehkan ke arah sang istri. "Sudahkan aku bilang ini padamu, Ummaya?"
Fatimah menggeleng. "Bilang apa, Bi?" tanyanya tak mengerti.
"Sepertinya kamu berhasil menggetarkan hatiku, Sayang."
__ADS_1
Setelah itu, pintu pun tertutup. Meninggalkan Fatimah yang kini tengah memegang baju bagian atasnya–dada yang terasa berdebar. Darahnya pun berdesir hangat hingga membuat kedua pipi itu merona merah. Bibir merahnya melengkung indah membentuk sebuah kurva manis dan cantik.
"Oh, Tuhan. Kenapa ini rasanya mendebarkan sekali? Aku hampir tak bisa berkata-kata hanya karena digombalin suamiku sendiri." Senyum itu tak bisa berhenti dilengkungkan saat membayangkan penyatuan mereka tadi. Namun, bibir itu seketika meredup, mengingat sang suami sedang bertemu dengan wanita lain. "Apa aku mulai gila? Bagaimana bisa aku cemburu? Padahal kami saja baru bersama beberapa hari."
***
"Diinah. Ada apa?" tanya Aiman.
"Hai, Kak Iman. Ini, apa kamu bisa membantuku?" Wanita berbaju gamis, serta kerudung panjangnya bertanya balik kepada teman satu sekolahnya dulu.
"Apa itu?"
"Ehm, apa tadi istrimu?"
Aiman mengerutkan kening, tapi bibirnya tetap menjawab dengan jujur. "Iya, dia istriku. Ada apa?"
"Oh." Diinah terlihat ragu untuk melanjutkan niatannya datang ke rumah si teman.
"Ada apa, Diinah? Katakan saja!" Aiman sepertinya malas untuk bertele-tele. Walau Diinah ini adalah teman, tetapi hubungan mereka tidak begitu dekat. Jadi, wajar pria itu merasa kurang nyaman terlalu lama terjebak di ruangan yang sama dengan wanita tersebut.
"Aku ingin kamu membantuku untuk menikahi adikku?"
"Apa?!"
Suara benda jatuh tiba-tiba membuat Aiman yang tengah menatap Diinah tak percaya, semakin dibuat terkejut dengan keberadaan istrinya. Tangan itu mencoba menghentikan langkah Fatimah, tetapi wanita itu justru membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Arkh." Tubuh itu terlalu terkejut sehingga tak melihat jika kakinya justru menginjak pecahan gelas yang ada dibawahnya saat akan pergi menuju kamar.
"Ummaya!"