Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 111


__ADS_3

Maya berjalan sedikit tergesa lantaran merasa bersalah karena harus datang dalam terlambat dalam perjamuan sang atasan. Sedari tadi rekan satu timnya sudah berkali-kali meneror ia dengan pesan dan juga telpon. Namun, tak digubris oleh wanita tersebut.


Deru napasnya memburu lantaran harus berlari menuju restoran yang sudah dipesan oleh sang atas. Dia memandang pintu kaca yang sudah terbuka itu dengan nanar. Lebih mengejutkan lagi adalah kenapa pantulan itu justru memperlihatkan bayangan pria lain.


"Gila! Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan otakku? Bagaimana bisa aku memikirkan dia terus-menerus?" Maya menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayang-bayang tersebut. Berhasil. Kini yang terlihat adalah dirinya sendiri.


Sebelum masuk ke dalam, Maya membuka layar ponselnya. Dia berniat untuk mengecek chat dari teman-temannya. Namun, wanita itu dibuat terkejut dengan pesan dari m-banking yang masuk.


"What?" Maya langsung melangkah mundur untuk memberi ruang kepada orang lain yang hendak masuk ke dalam restoran. "Apa-apaan, sih, ini orang? Udah gila kali ngirim duit segitu buat ucapan makasih."


Tangan wanita itu refleks langsung menutup mulutnya. Dia kira itu hanya pesan salah kirim, atau gimana. Akan tetapi, nyatanya itu adalah benar. Nama pengirim pun jelas terpampang di sana.


"Ini gak bisa didiemin. Aku harus segera menelpon itu Badak. Ish, kenapa, sih, itu orang gak bisa banget bikin hari-hariku damai. Selalu saja membuat kepalaku nyut-nyutan," omelnya pada ponsel yang sedang berada dalam genggaman.


Pada dering ketiga, akhirnya panggilan pun tersambung. Tanpa menunggu si penerima telpon mengucapkan satu patah kata pun, Maya sudah lebih dulu mencecarnya. "Maksudnya apaan ngirim duit segini banyaknya? Mau pamer atau gimana, hah?"


Seseorang di seberang telepon terdengar terkikik geli sehingga membuat Maya yang mendengar ingin menonjok dinding kaca yang ada di belakang tubuhnya. "Woi, Badak! Kamu gak usah macem-macem, ya, sama aku! Ini gak lucu!"


Pria di seberang masih saja terus terkekeh. Dia bahkan tak merasa takut, maupun gentar mendengar ucapan dengan nada penuh peringatan dari Maya. Riko justru dengan santai memainkan pulpen di antara kedua jarinya, lalu diputar-putar hingga berulang kali. "Apa, sih, Mayong? Segitu rindunya dirimu sama diriku, hm? Baru juga sebentar berpisah, tapi udah nelpon aja."


"Rindu ingin menggempur kepalamu dengan batu bata!" Panggilan itu pun diputus paksa oleh Maya karena sudah dongkol duluan dengan Riko. Dia pun berniat mengirimkan uang itu kembali ke rekening pria tersebut, tetapi dua rekannya yang sedari tadi menghubungi sudah lebih dulu menyeret wanita tersebut untuk masuk ke dalam.


"Ini apa, sih? Kalian kenapa nyeret-nyeret aku?" Maya melangkah dengan sangat terpaksa karena mengikuti dua temannya yang berada di samping kanan dan kiri. Ponsel wanita itu bahkan sudah disita oleh salah satu rekannya yang bernama Laila–Si Penembak Jitu.


"Sebelum kepalamu di dor oleh atasan. Sebaiknya lekas berpikir untuk merangkai kata maaf untuk beliau!" Dirly–Si Ahli Pembuat Rencana– segera memberi petuah kepada Maya untuk memikirkan cara untuk membuat mood atasan mereka balik.


For you information, Bagio-39 tahun ini adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya–Ratih meninggal dunia saat usia pernikahan mereka baru mencapai satu tahun. Kini, setelah 3 tahun kematian sang istri, akhirnya pria tersebut mau membuka diri lagi.


Maya adalah sosok perempuan yang menurut Bagio pantas menggantikan posisi istrinya. Mandiri, tegas, serta mempunyai visi misi yang jelas dalam hidupnya. Membuat sang atasan memendam rasa kepadanya.

__ADS_1


Wanita itu sendiri memilih cuek karena menurut dia, semua orang berhak menyukai lawan jenis. Selama tidak mengganggu pekerjaan, hal tersebut bukan masalah besar. Lain soal jika sudah tahap suka sama suka.


"Ogah. Mending aku balik ke lapangan, klau disuruh ngomong ini itu di depan Pak Bagio," tolak Maya.


"Yaelah, May. Gak semua orang punya kesempatan emas untuk menjadi wanita idaman dari Pak Gio. Udah, terabas aja! Aku yakin kalian pasti bakalan cocok jika bersama!" Laila berkata dengan seringainya.


Sementara kedua rekan satu timnya terus mengojok-ojok Maya untuk menerima perasan Bagio. Wanita itu sendiri justru sibuk mencari cara untuk melepaskan diri dari cengkraman Laila dan juga Dirly. "Kenapa gak kalian saja yang nikah sama Pak Gio?"


"What?!"


"Kamu gila!"


Maya menutup kedua telinganya karena mendengar teriakan dari sisi kanan dan kiri. "Kalian yang gila!" teriaknya kesal, lalu memilih balik badan.


"Yakh! Mau kemana kamu?" Laila bertanya bingung saat melihat Maya justru kembali menuju pintu keluar.


***


“Bosan.” Rengekan manja seorang anak kecil menyapa gendang telinga dua orang dewasa di sampingnya. Mereka kemudian mengusap kepala anak tersebut dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


“Sebentar lagi ya, Mas Asa!” bujuk Fatimah kepada anak sambungnya. Dia lalu menoleh ke arah pria di samping kiri Hassan. “Abi!” panggilnya.


“Iya, Sayang. Ini sebentar lagi juga selesai, kok. Mas Asa di sini dulu bareng Umma dan Abi aja. Lagian, bukankah acaranya seru?” tanyanya mengalihkan pembicaran. “Nanti, kalau udah selesai baru kita bermain. Oke?”


Hassan pun akhirnya hanya bisa menuruti keinginan ayah dan ibu. Dia memaksakan diri untuk tetap bertahan di acara yang begitu membuatnya tak bisa berlarian sesuka hati. Sedang kaki sudah tidak sabar ingin menjelajah tempat baru, penuh dengan banyak ornamen khas anak kecil.


“Padahal Mas Asa udah pengin banget main trampolin,” ujarnya lirih, sambil memandang beberapa anak kecil yang sedang melompat-lompat di udara.


Fatimah yang mendengar gumaman dari Hassan pun merasa bersalah. Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang bertemu dengan klien untuk butiknya. Dia melihat si suami yang tengah berbicara serius dengan dua orang di depannya, lalu beralih kepada Hassan.

__ADS_1


“Permisi, Pak Bagus. Mungkin perbincangan ini nanti akan dilanjutkan dengan suami saya. Karena saya ingin mengajak buah hati kami bermain di sini. Apa kalian tidak keberatan?” tanya Fatimah.


“Umma beneran mau nemenin Mas Asa?” Saking senangnya, Hassan sampai menggoyangkan lengan sang ibu.


Fatimah mengusap rambut anaknya yang sudah mulai panjang. Senyum manis pun terulas, lalu diikuti dengan anggukan dari wanita tersebut.


Anak tersebut pun mengepalkan tangan, lalu menjualnya ke udara, sambil berseru, “Yes!”


Pak Bagus yang melihat betapa senangnya anak dari kliennya tidak mungkin memadamkan kebahagian itu. Dia pun menyetujuinya. “Silahkan, Mbak Fatimah.”


“Harap maklum, ya, Pak!” Kondisi Aiman memang belum sembuh total, tetapi dia tetap bersikeras untuk menemani Fatimah bertemu dengan klien di sebuah wahana bermain di daerah Jakarta.


Mereka pun tidak tahu kenapa Pak Bagus memilih lokasi ini untuk membahas masalah bisnis, padahal ada banyak tempat lebih privat, atau lebih tenang dibandingkan wahana bermain anak-anak. Ramai dan berisik tentu saja menjadi background pertemuan kali ini, tetapi Pak Bagus seolah tidak terganggu dan wajah pun tetap berseri.


"Iya, Pak Iman. Saya sendiri memang suka dengan anak kecil. Makanya suka, kalau ada di sekitar mereka." Pandangan Pria itu kini tertuju kepada anak-anak yang sedang tertawa bahagia di sana.


Semua ini tak luput dari mata elang Aiman. Pria itu mengangguk mengerti, lalu setelah itu mereka pun lanjut membicarakan soal pekerjaan. Klien memang berniat memesan baju di butik Fatimah untuk acara fashion show.


Pak bagus tertarik dengan rancangan pakaian muslim yang ada di butik Fatimah. Maka dari itu, ia bersikeras mengajak si owner untuk bekerja sama, sekaligus membantu mempromosikan pada dunia jika pakaian muslimah memang patut untuk mendapatkan perhatian khusus.


Fatimah sendiri setuju dan hal itu juga membuat kebanggaan tersendiri untuk Aiman karena memiliki istri yang berbakat. Kerja sama itu pun berlangsung. Butik Fatimah akhirnya kini sudah mulai dilirik oleh desainer lokal yang siap mengangkatnya untuk dijadikan sebuah ikon baru.


"Kalau boleh tahu, apa Pak Iman tidak ingin mencari istri lagi?"


"Hah? Maksudnya?"


"Siapa tahu Pak Iman ingin bertukar istri dengan saya?"


Br3ngs3k!

__ADS_1


__ADS_2