Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 62


__ADS_3

"Abi, aku mau jujur."


"Jujur?"


Fatimah mengangguk.


"Tentang apa? Ah, apa ini ada hubungannya dengan teman kamu tadi?"


Lagi, kepala wanita itu mengangguk.


"Apa gak ada reaksi lain, selain mengangguk, Ummaya?"


Fatimah menggeleng, lalu mengangguk lagi.


"Aish, kenapa istriku imut sekali, sih? Ckckck, jadi pengin ngarungin, deh!"


Fatimah langsung memeluk dirinya sendiri demi bisa menghalau sang suami melaksanakan niatannya. Hei, ini masih di luar, bukan di rumah. Wanita cantik itu masih punya malu, kalau tiba-tiba ada karyawan masuk ke dalam ruangannya dan menemukan mereka tengah bermesraan.


Oh, itu bukan hal yang baik untuk dicontoh. Karena semua karyawan Fatimah masih berstatus single dan masih muda. Jadi, bisa celaka dua belas, kalau sampai ada yang melihat si bos lagi anu sama suaminya.


"Terus, kenapa sedari tadi kamu hanya diam saja. Apa aku harus memancing bibir ini untuk terbuka, hm?" Jemari pria itu sengaja mengusap bibir pink milik sang istri agar mau buka mulut.


Aiman tersenyum saat melihat wajah Fatimah bersemu merah. “Duh, manisnya senyum Bidadari surgaku,” pujinya tulus.


“Abi kenapa senang sekali menggodaku, sih? Aku, kan, jadi malu, Bi.” Tangannya memukul dada bidang milik sang suami. Fatimah tidak bisa jika harus berlama-lama dipandangi oleh lawan jenis, ya, walaupun Aiman adalah suami sahnya, tapi tetap saja malu.


“Habis, kamu itu emang ngegemesin, kok. Jadi, daripada kita serius-serius kayak lagi di persidangan. Bukankah lebih enak seperti ini. Lagipula, aku gak akan maksa kamu buat cerita sesuatu jika kamu memang belum siap, Sayang,” ujar Aiman penuh perhatian.

__ADS_1


“Ah, so sweet sekali suamiku ini. Terima kasih, Abi. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan. Sayang Abi.” Wanita itu menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat sang suami, meresapi setiap kebersamaan yang selalu akan menenangkan hati dan jiwa.


Akhirnya, Fatimah pun angkat bicara. Dia mulai menjelaskan tentang kejadian di masa lalunya. Menceritakan dari awal hingga akhir. Tak ada yang ditutup-tutupi.


Aiman pun mendengarkan dengan seksama. Tak ada niatan untuk menyela, apalagi memotong cerita Fatimah. Dia ingin wanita itu percaya jika dirinya ini akan selalu ada, di saat ada masalah, atau pun tidak. Menjadi bahu untuk bersandar dikala dibutuhkan.


“Jadi, itu yang membuatmu menghilang di kolam renang saat itu. Karena kamu masih trauma akan kejadian di masa lalumu?” tanya Aiman dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.


Selain iba, Aiman juga merasa dongkol dengan Safira. Namanya remaja, pasti akan ada saat nakal-nakalnya dan kesalahan Fatimah pun tidak terlalu fatal. Buktinya, wanita itu menolong, bahkan memberikan CPR kepada Safira.


Akan tetapi, si korban justru seperti melimpahkan semua kesalahan si pelaku kepada Fatimah. Jelas itu tidak benar, bahkan terkesan mencurigakan. Aiman curiga jika Safira ini memang menyimpan sedikit dengki kepada istrinya.


Maka dari itu, Fira selalu menghalangi setiap kebahagian yang datang kepada Fatimah.


“Maafkan aku, ya, Mas. Aku tahu aku salah saat itu karena telah meninggalkan Mas Asa seorang diri. Tapi–”


“Aku hanya menjalani saja semua ini dengan ikhlas, Bi.” Fatimah tersenyum walau yang terlihat justru meringis di mata sang suami.


Aiman langsung membawa tubuh Fatimah dalam pelukannya lagi. Diusap punggung tegar wanita itu, kemudian dikecup puncak kepalanya dengan lembut. “Masya Allah. Terima kasih Allah karena Engkau sudah menurunkan Bidadari untuk menemaniku di sini.”


“Sungguh, tak ada nikmat yang kau dustakan. Aku benar-benar beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Sudah sholehah, pintar, pemaaf, kaya lagi. Ah, iya. Aku ada pertanyaan satu yang mungkin sedikit ke arah privasi. Apa boleh, Ummaya?”


Aiman teringat pikirannya saat pertama kali menginjakkan kaki di depan butik F-Muslimah. Jadi, selagi ada kesempatan untuk bertanya maka ia pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


“Apa itu, Bi?” tanya Fatimah balik.


“Sebentar!” Aiman lalu berjalan menuju pintu dan ternyata pria itu menguncinya. Setelahnya, barulah dia kembali mendekat ke arah sang istri yang tengah menatapnya curiga. “Astaga, hilangkan pikiran kotormu itu, Sayang!” dengkusnya.

__ADS_1


“Terus, itu kenapa ada acara kunci-kunci pintu segala? Abi gak niat buat minta jatah sekarang, kan?” tanyanya dengan mata menyipit curiga.


Aiman langsung tertawa. “Astaghfirullah hal adzim. Dibilang tadi aku memintamu untuk menyingkirkan pikiran kotor, kok, ya. Kenapa masih saja berpikir seperti itu.”


“Aku tak percaya.” Wanita itu lalu mundur hingga dirinya sudah berada di pojok sofa dengan dua tangan tengah memeluk tubuhnya sendiri. Melindungi dari terkaman singa yang lapar akan dirinya.


“Ya-ya-ya, terserah kamu saja, Sayang,” jawab Aiman mengalah, lalu duduk di sebelah Fatimah.


Diam. Ruangan itu seketika membisu kala Aiman dan Fatimah justru tengah bergelut dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan karena mereka pun sedikit ragu untuk memulai.


Setelah lima menit menjadi patung, Aiman pun menggeser duduknya hingga kini dia bisa leluasa memandang wajah cantik sang istri. “Ummaya?”


Fatimah mengangguk ragu.


“Ehm, apa ada hal lain lagi yang sedang kamu rahasiakan?”


Fatimah mengernyit. Menatap Aiman dengan mata berkedip lucu seolah dirinya ini tengah berpikir hal apa yang membuat sang suami begitu penasaran akan rahasianya. “Maksud, Abi?”


Aiman menggaruk belakang kepalanya. Wajahnya terlihat canggung dan ragu untuk bertanya hal selanjutnya.


“Abi,” panggil wanita itu lagi.


“Ka-mu … gak nyesel, kan, nikah sama aku?”


“Hah? Abi ini ngomong apa, sih? Aku gak ngerti!”


“Jawab saja, Fa!” Aiman terlihat serius, bahkan tak terlihat tengah bercanda.

__ADS_1


Fatimah mendengkus bingung.


__ADS_2