
Hari weekend biasanya diisi dengan bermain, berjalan-jalan, atau paling jauh ke taman komplek oleh keluarga Aiman. Namun, hari ini sangat berbeda. Di dapur yang biasanya hanya dijamah oleh Siti, Aiman, dan yang terbaru Fatimah–sebagai penghuni baru, kini si kecil–Hassan pun ikut turun ke tempat kerja seorang ibu rumah tangga.
"Umma, apa benar airnya segini?" tanya Hassan yang sedang menuangkan salah satu bahan yang akan digunakan sebagai pencair adonan.
Fatimah yang sedang mencetak adonan donat lain di dalam wadah, lalu menoleh ke arah si anak. "Sudah cukup, Nak. Segitu aja!" cegah si ibu ketika melihat anaknya berniat menyendokkan air ke dalam baskom lagi.
Berbeda dengan si kepala keluarga, Aiman yang memang hari ini libur mengajar memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan. Dia memang membuat sebuah ruangan khusus untuk menyimpan buku-buku pelajaran, kamus, dan masih banyak lainnya di dalam sana. Pria itu butuh space untuk belajar.
Sudah 3 hari Aiman mengacuhkan Fatimah. Sebenarnya buka mengacuhkan, melainkan menghindar. Entah kenapa, dia selalu melihat bayangan almarhum istri yang bersedih ketika tanpa sengaja dirinya memandangi istri barunya.
Serba salah dan juga bimbang yang dirasakan oleh Aiman.
Di satu sisi, dia merasa bersalah. Akan tetapi, di sisi lainnya, ia juga kasihan dengan wajah murung Fatimah setiap kali di abaikan olehnya. Oleh sebab itu, sebisa mungkin Aiman mengurangi intensitas kebersamaan bersama istri barunya.
Embusan napas panjang baru saja keluar dari mulut milik pria itu. Aiman hampir melakukan kesalahan tadi pagi. Saat pria tersebut terbangun dari tidur, tanpa sadar kedua tangannya sudah memeluk tubuh Fatimah erat dalam dekapan.
“Gila. Kenapa juga tubuh ini seenaknya melakukan hal yang jelas tidak boleh dilakukan,” ujarnya berbisik pagi itu.
Dia lalu berusaha untuk menarik tangannya yang digunakan untuk menjadi bantal kepala sang istri dengan hati-hati. Aiman tidak mau wanita itu salah paham, apalagi hubungan mereka sangat canggung beberapa hari ini. Maka dari itu, Aiman mencoba menghindar.
Bersyukur Fatimah tidak terbangun dan masih terlelap pulas di atas ranjang. Mulutnya menghela napas lega kala bisa menjauh dari wanita itu. Dia merasa sosok istrinya ini cukup berbahaya karena dia yang tidak sadar saja bisa merengkuh tubuh tersebut, apalagi sadar.
Membayangkan saja dirinya sudah kewalahan.
“Ya, aku memang harus menjauhinya!” Keputusan itu diambil secara sepihak oleh Aiman. Mungkin menurutnya, itu adalah keputusan yang tepat. Akan tetapi, dia justru melupakan bagaimana perasaan si wanita yang tiba-tiba dijauhi tanpa kejelasan olehnya.
Seperti sekarang. Aiman sengaja tidak keluar perpustakaan dan memilih menghabiskan waktu bersama buku-bukunya. Dia memilih mencari kesibukan dengan membaca buku dan beberapa novel. Namun, kedua manik itu seketika membelalak terkejut saat menemukan sebuah cerita tentang di mana seorang suami yang mendiamkan istri, lalu berujung perceraian.
__ADS_1
Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya bergetar saat kisah yang dibacanya justru membuat sesuatu di dalam hati tercubit. Pikiran buruk pun seketika menyelubungi.
“Bukan ini yang aku mau. Bukan ini juga yang kuinginkan. Aku mendiamkannya hanya karena merasa bersalah kepada Aisyah. Aku juga tidak membencinya, aku hanya ingin menjaga hati.” Bibir itu meracau ketakutan saat bayangan Fatimah yang akan pergi dari rumahnya.
Tangannya dengan segera menutup buku itu cepat. Buku yang berjudul “Setelah Kau Pergi” itu cukup mampu merobohkan dinding tinggi yang dibangun oleh Aiman beberapa hari ini. Menggetarkan hati yang tengah bimbang. Merobek segala kegundahan yang sedang ada di dalam pikiran.
Aiman menggigit kuku jarinya dengan ketakutan. Kedua maniknya bergerak gelisah menatap ke sana-kemari. Dia melihat dengan jelas bagaimana nenek dan anaknya sudah begitu nyaman dengan keberadaan Fatimah di dalam hidup mereka.
Lantas, jika sampai wanita tersebut pergi, itu sama saja merebut paksa kebahagian dua orang yang selama ini menjadi sumber kehidupannya dan jika itu terjadi … bagaimana hidup seorang Aiman? Apa pria itu bisa menjalani hidup tanpa rasa bersalah?
Karena sejatinya, Aiman lah yang sudah mendorong Fatimah untuk pergi dari hidup mereka. Pria itu lalu menggeleng panik. Tubuhnya seketika berdiri dari duduk, lalu dengan cepat berjalan menuju pintu keluar.
Aiman segera menelusuri di mana keberadaan istri dan anaknya. Ketika pintu itu terbuka, dia tidak menemukan satu pun di antara mereka. Namun, saat kebingungan melanda, telinganya justru mendengar jelas obrolan dua orang yang sedang dicari di belakang.
Dapur. Aiman dengan jelas bisa tahu dari mana asal suara itu berasal. Dengan langkah cepat, bahkan terkesan terburu-buru dia membelokkan tubuhnya menuju ruang masak tersebut dan benar saja, Fatimah dan Hassan sedang saling bercengkrama bersama.
“Eh.” Kedua pupil mata Fatimah seketika membesar saat merasakan tangan seseorang melingkar erat di perutnya. Namun, ekspresi itu seketika melunak kala menyadari, jika orang itu adalah suaminya sendiri.
“Abi lapar?” tanya Fatimah tersenyum tulus. Jujur, jantungnya tidak baik-baik saja setelah sang suami memeluk tubuhnya.
“Abi ngapain, sih, peluk-peluk umma? Umma itu lagi masak sama Mas Asa. Jadi, jangan ganggu kami!”
Hassan yang melihat ayahnya sudah mengganggu me time-nya dengan sang ibu sambung seketika merajuk. Bibir itu pun cemberut, lalu kedua tangan dilipat di depan dada dengan mata memincing kepada sang ayah.
Kedua kelopak mata Aiman terbuka, lalu dagunya diletakkan di atas bahu sang istri. Dia sengaja tidak melepaskan pelukan dan justru menyamankan posisinya. Segala kegundahan yang selama ini dirasakan, seketika hilang setelah berada di dekat Fatimah.
“Loh, umma ini, kan, istri nya abi. Jadi, boleh, dong, kalau abi bermanja-manja dengan istrinya sendiri,” sahut Aiman tidak mau kalah, sambil menggoyangkan tubuhnya dan tubuh sang istri manja.
__ADS_1
Fatimah sendiri hanya bisa berdiri kikuk, tidak tahu harus berbuat apa, atau melakukan apa. Suaminya ini cukup membingungkan. Tingkahnya juga sering berubah-ubah hingga membuat wanita tersebut harus menyiapkan stok sabar, jika mood sang suami berubah lagi.
“Bukankah begitu, Umma?” tanya Aiman yang tiba-tiba mengecup pipi istrinya.
Fatimah tersenyum kaku dalam pelukan sang suami. Jantungnya hampir melompat keluar sarang, saat bibir itu mengecup pipinya tiba-tiba. Oh, setidaknya tolong beri aku sinyal, atau aba-aba jika ingin melakukan skinship, Wahai Suamiku! jeritnya di dalam hati.
“Umma, bilang kepada suami umma itu yang manja,” panggil Hassan, sembari menarik daster panjangnya yang ditarik-tarik oleh si imut–Hassan. “Jangan suka sok mengakui milik orang lain!” lanjutnya dengan penuh cibiran.
“Oh. Ada apa, Sayang?” tanya Fatimah bingung, lalu dia berniat berjongkok, tetapi gerakan itu tidak jadi dilakukan karena ada sebuah tangan kekar yang melingkar erat, tidak mau melepaskan tubuhnya.
Astaga, ini orang kenapa, sih? Perasaan kemarin dia cuek bebek sama aku. Giliran sekarang udah kek, orang paling bucin di dunia. Hadeuh, punya suami kok, gini amat, yah.
“Abi! Jangan peluk umma terus! Mas Asa itu belum selesai belajar membuat donatnya.” Si kecil sepertinya sudah mulai bosan hingga mengajukan protes untuk meminta sang ayah melepaskan rangkulan tangannya di tubuh si ibu tersayang.
“No-no-no. Umma itu milik Abi. Titik!” ucapnya penuh penekanan.
Jangan lupakan juga seringai Aiman yang tidak mau mengalah kepada anak bujangnya.
“Abi, Mas Asa,” panggil Fatimah yang sepertinya mulai bingung harus melihat keributan yang sedang dua lelaki berbeda generasi itu.
“Iya, Ummaya,” jawab dua lelaki itu kompak. Namun, mereka saling menatap tajam, kemudian membuang muka satu sama lain.
Fatimah yang melihat itu hanya bisa menepuk jidatnya. Astaga, aku merasa jadi mempunyai dua anak sekaligus. Mereka tidak ada yang mau mengalah.
Ya Allah, beri hambamu ini kesabaran dalam menghadapi dua manusia baru ini. Dan tolong ajarkan kepada suamiku, jika diriku ini juga butuh pasokan oksigen supaya diriku bisa bernapas! ringisnya di dalam hati saat merasakan pelukan suaminya begitu kuat.
***
__ADS_1
Terima kasih buat yang masih setia baca cerita ini. Ditunggu like, komen, dan hadiahnya, yah, Bestie. Karena itu juga adalah penyemangat bagiku. Sekali lagi terima kasih.