
Kesempurnaan itu hanya milik Tuhan, bukan milik siapa-siapa. Jadi, tidak perlu bersikap sombong, apalagi merasa tinggi. Karena di atas bumi, masih ada langit. Sesekali tengoklah belakang! Sudah bersyukurkah Anda hari ini?
Keputusan sudah diambil oleh Fatimah. Dia memilih untuk keluar sebagai guru dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Semua tentu sudah dipikir masak-masak oleh wanita itu. Tidak serta merta ia akan berpangku tangan, duduk diam di rumah dan menjadi Nyonya Baseer.
Usaha yang selama ini dirintisnya diam-diam juga mulai berkembang pesat. Butik muslimah di daerah Ibukota sudah berjalan hingga memberikan dia keuntungan berkali-kali lipat tanpa kedua orang tua, serta suaminya.
Bukan perkara mudah menjalani bisnis yang tentunya akan mengalami gonjang-ganjing dalam segi finansial, serta kepercayaan pada orang baru. Namun, Fatimah mencoba untuk tetap tenang di era gempuran fashion yang cukup kurang peminat sampai menjadi seperti sekarang.
"Abi, tunggu dulu!" Fatimah yang hendak berlari segera menghentikan langkahnya saat sang suami dengan mata penuh peringatan melarangnya. Dia pun terkekeh minta maaf karena lupa akan kondisi perutnya yang tengah berbadan dua. "Maaf, lupa!"
Aiman menggelengkan kepalanya. "Ada apa, Sayang? Apa kamu butuh sesuatu?"
Pria itu sudah memakai baju dinas dan bersiap untuk berangkat menuju sekolahnya. Masih ada waktu satu jam hingga bel masuk berbunyi. Jadi, cukuplah untuk dirinya berbincang dengan sang istri.
"Abi nanti pulangnya bisa mampir gak, ke Jalan Sakura di daerah Ibukota?" tanya Fatimah gugup, sambil meremas tangannya gugup.
"Jalan Sakura?" Kening Aiman mengerut dalam. "Emang di sana ada apa"
Fatimah menggaruk kepala bagian belakang yang tertutup jilbabnya ragu.
"Hei, ada apa, hm? Istriku ini tak sedang merahasiakan sesuatu dari suamimu ini, kan?" Aiman menarik dagu Fatimah dengan lembut hingga kini mereka saling berhadapan. Dikecupnya bibir manis si istri, lalu setelah itu dirangkul tubuhnya. "Katakan saja, Sayang!"
"I-ni tentang usaha kecil-kecilanku, Bi," cicit Fatimah setengah malu.
"Apa?" Aiman mendekatkan telinganya ke bibir sang istri. Namun, wanitanya justru ikut mundur. "Hei, suaramu begitu pelan, Ummaya. Jadi, bagaimana aku bisa mendengarnya."
Fatimah berdehem, lalu mulai kembali membuka mulut. Kini, ia sedikit menormalkan suaranya agar si suami mendengar dengan baik apa yang akan diucapkannya. "Aku membuka sebuah toko baju muslim di sana, Bi."
__ADS_1
"Benarkah?" Pria itu kembali dibuat terkejut dengan informasi yang diberikan oleh istrinya. "Sebenarnya ada berapa rahasia yang kamu sembunyikan dariku, Sayang? Tolong, jangan buat aku mati berdiri dengan semua kemandirianmu!"
Fatimah terkekeh. "Apa, sih, Bi? Biasa aja, kok. Gak usah melebih-lebihkan, deh!"
Aiman mengecup pipi sang istri. "Melebih-lebihkan bagaimana? Orang kamu yang bikin aku spot jantung terus. Baru hari kemarin dirimu membawaku ke tempat di mana banyak kebahagiaan. Kini, kamu kembali memberiku sebuah informasi jika akan membuka toko baju," ocehnya begitu panjang.
"Lalu, aku harus bereaksi bagaimana, Sayang?" Wajah Aiman terlihat nelangsa hingga mendusel ke perut rata istrinya. "Baby, Abi sepertinya curiga jika selama ini, ummamu adalah seorang kaya raya. Tapi, memilih menyembunyikan semua dengan hidup sederhana," adunya pada si calon jabang bayi di dalam perut Fatimah.
Wanita itu tertawa. Dia tidak menyangka jika suaminya mempunyai pemikiran layaknya tokoh yang ada di dalam novel-novel. Ia pun menggeleng, sembari mengusap rambut rapi Aiman. "Aamiin, Bi. Terima kasih atas doanya. Semoga saja usaha yang telah aku geluti selama ini bisa bermanfaat buat semua orang!"
"Lihatlah, Baby! Ummamu ini hatinya sebenarnya terbuat dari apa, sih? Kebaikan apa yang telah Abi perbuat hingga mendapatkan wanita sebaik dan secantik ini?"
Fatimah semakin terkikik kala mendengar kelakar dari Aiman. Sungguh, suaminya ini ternyata menyimpan jiwa lebay yang selama ini ditutupi dari sikap dingin dan jaimnya.
Aiman lalu berdiri hingga membuat perbedaan tinggi badan mereka pun terlihat. Fatimah sendiri hanya mencapai dagu si suami. Namun, justru mereka terlihat semakin cocok ketika bersanding bersama.
"Insya Allah, Abi nanti mampir ke sana. Maaf, ya, gak bisa nganterin kalian," sesal Aiman saat tahu keluarganya akan pergi sendiri. "Oh, iya. Nanti mau naik apa?"
"Nanti naik *taxi* online aja, Bi. Biar lebih gampang juga."
Aiman mengangguk setuju. Dia memang merasa lebih tenang jika istri, anak, dan ibunya berangkat dengan mobil tersebut. "Kalau gitu, nanti kalau udah sampai kasih tau aku, ya. Biar Abi juga tenang mengajar di sekolah!" harapnya.
"Ya, udah sana berangkat! Nanti malah telat lagi," usir Fatimah, sambil mendorong tubuh Aiman menuju pintu.
"*Kiss*-nya mana?" Aiman menodongkan pipinya sendiri di depan sang istri. Dia menolak berangkat jika bibir manis Fatimah belum mendarat di wajahnya.
__ADS_1
"Astaga, Abi!" Fatimah menggeram setengah malu lantaran keinginan Aiman semakin ke sini, semakin aneh.
"Loh, kenapa? Kan, minta sama istri sendiri. Jadi, boleh–"
Cup
Mulut itu langsung terdiam, digantikan dengan lengkungan puas saat merasakan kelembutan dari bibir sang istri. "Apa aku cuti aja, ya? Tiba-tiba aku ingin berada di rumah bersama kamu, Sayang."
"Gak ada!" tolak Fatimah saat mendengar usulan Aiman. "Mau dikasih makan apa aku dan Mas Asa nanti jika Abi cuti mulu?"
"Ya Allah, masa suami pengen bermesraan sama istri gak boleh. Jahat sekali kamu, Ummaya."
Fatimah melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memandang wajah sang suami dengan datar. "Berangkat sekarang atau tidak ada jatah nanti malam!"
Aiman menelan ludah pahit. "Jangan dong, Sayang! Kasihanilah suamimu ini," ucapnya memelas.
"Berangkat atau tidak!"
"Iya-iya, berangkat!" Aiman langsung mencium kening sang istri, lalu melangkah keluar rumah dengan bibir cemberut.
"Gak usah cemberut gitu. Nanti gantengnya luntur, loh," goda Fatimah, sambil mencolek dagu si suami.
"Pokoknya nanti malam aku mau satu ronde."
"Terus?"
"Tiga! Gak mau nego lagi." Setelah mengatakan hal tersebut, Aiman pergi meninggalkan rumah dengan seringai penuh kemenangan.
__ADS_1
Fatimah hanya bisa menelan ludah gugup saat membayangkan akan seperti apa nanti malam. "Semoga aku bisa melalui malam ini dengan selamat!" Doanya, sambil meringis.