Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 113


__ADS_3

Tangan itu kini sudah berada di balik pinggang suami. Menyentuh kulit yang terasa hangat sehingga menimbulkan percikan seperti tersengat listrik, tetapi ini berbeda. Jari-jemari itu terus naik ke atas hingga mencapai punggung polos pria yang tengah terbaring di bawahnya.


Sebuah rintihan keluar begitu saja dari bibir Aiman saat tangan istri terus bergerilya di atas kulit punggungnya. Ia menggigit bibir bagian bawah kala titik itu bisa ditemukan oleh Fatimah. Dengan mata memohon, pria tersebut meminta wanitanya untuk terus melakukan hal itu.


“Apa sudah pas, Bi?” tanya Fatimah begitu lirih di telinga sang suami.


“Yahhh, itu enak sekali, Sayang,” jawabnya diiringi dengan ******* yang membuat telinga siapa pun orang yang mendengar akan salah paham.


Sebuah tepukan keras baru saja melayang ke bahu Aiman. Pelakunya tentu saja adalah istri sendiri. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan garang karena sudah mengganggu kosentari Fatimah yang sedang memijat.


“Sekali lagi abi bicara seperti itu, umma gak segan-segan meninggalkan bekas cukup panjang di kulitmu!” ancam Fatimah dengan sungguh-sungguh.


Aiman terkekeh di bawah tubuh fatimah. “Semua tidak akan pernah terjadi jika saja dirimu membuatku cemburu setengah mampus, Ummaya,” kilahnya tidak mau disalahkan.


Tangan Fatimah kembali menepuk keras bagian punggung sang suami sehingga membuat si empunya tubuh lagi-lagi menjerit kesakitan. “Ummaya!” seru Aiman, lalu memasang wajah cemberut.


“Makanya jadi orang gak usah lebay. Dikira situ lagi main drama kali.” Cibiran itu jelas ditujukan kepada sang suami. Bagaimana saat Aiman yang tengah cemburu justru jatuh terpelanting ke atas lantai karena hendak menarik tubuh Fatimah di lokasi pertemuan dengan klien tadi siang.


Malam ini pun Fatimah harus menjadi juru pijat gratis untuk mengurut pinggang Aiman yang terasa sakit, serta punggungnya juga. Beruntung Khumaira dipegang begitu kuat oleh si ayah sehingga saat jatuh, dirinya harus merelakan anggota tubuhnya membentur lantai.


Khumaira sendiri memang menangis keras. Mungkin dia begitu terkejut karena gerakan itu begitu cepat sampai ia yang sedang tertidur pulas harus terbangun paksa. Jadilah selama beberapa menit bayi itu menangis keras dalam pelukan Fatimah hingga sulit ditenangkan.

__ADS_1


“Semua ini gak akan pernah terjadi jika dirimu selalu ada di sisiku, Sayang!” sahut Aiman tidak mau disalahkan. Lagi.


“Iih, ngegemesin banget, sih, kamu, Bi. Jadi pengin tak ih, deh!” Fatimah mengepalkan kedua tangannya gemas. Karena sang suami justru menyalahkannya balik, padahal jelas-jelas yang sudah meninggalkan dirinya itu Aiman. Akan tetapi, dia malah jadi lempar batu sembunyi tangan begini.


Aiman langsung merubah posisi tanpa membiarkan sang istri pergi menjauh dari atas tubuhnya. Kini, tubuh Fatimah berada di atas pangkuan si suami. Tangan pria itu menyentil hidung bangir yang sedari tadi membuatnya gagal fokus.


“Sakit, Bi. “ Fatimah memasang wajah cemberut lantaran Aiman tiba-tiba menggigit pipi bagian kanannya. “Tadi hidung disentil, sekarang pipiku pun menjadi korban. Terus, nanti apalagi?”


“Ini yang akan jadi korban!” ucap Aiman penuh hasrat.


Setelah itu, tidak ada lagi teriakan, maupun omelan yang terdengar dari bibir kedua suami istri itu. Mereka kini justru sibuk menjelajahi setiap inci penuh gelora yang siap membuat suasana malam ini menjadi kian hangat.


Melodi-melodi indah yang keluar dari bibir mereka seolah menjadi lantunan malam yang akan selalu membuat setiap pasangan merindu. Tak dibiarkan hal lain mengusik surga dunia yang tengah berusaha mereka gapai bersama.


“Aku mencintaimu karena Allah Ta’ala, Ummaya.”


“Aku juga mencintaimu karena Allah Ta’ala, Abi.” Tubuh yang sudah dibanjiri oleh peluh itu pun kini sudah ditutupi oleh selimut. Di mana kain itu akan melindungi mereka dari terpaan angin dingin yang hendak menerobos kulit.


**


“Kenapa lama sekali? Apa kamu sengaja mau balas dendam karena diriku pernah menolak ajakan makan siangmu, hah?”

__ADS_1


“Eits! Baru juga datang udah main nyembur aja. Sabar, Kutil! Mbok, ya, kasih waktu buat diriku duduk dan menikmati minuman dingin ini!” Riko menaruh cup minuman dingin yang dia beli di kasir, lalu ditaruh satu di atas meja untuk Maya yang sedang menatapnya tajam.


“Apa kamu pikir setelah menyogokku dengan minuman itu bisa membuatku langsung luluh?” Maya menyambar ucapan Riko dengan sengit. “Gak akan mempan!" sarkasnya.


Embusan napas berat terembus begitu saja dari mulutnya. Ternyata minuman dingin itu sama sekali tidak membuat panas di kulitnya membaik. Pria itu justru terlihat begitu kewalahan dan nampak jelas dari raut wajahnya yang sedikit pucat. Namun, wanita di depan sana tidak menyadarinya.


Maya terlalu larut dalam sikap egonya sehingga tidak peduli akan seperti apa Riko sekarang. “Aku memberikan nomor rekeningku padamu itu bukan untuk membersihkan semua isi tabungamu, yah!” lanjutnya ketus.


Riko memejamkan mata saat lagi-lagi perutnya kembali merasakan sakit. Seperti dihujam oleh banyak pisau yang menusuk-nusuk, lalu di bagian ulu hati pun sakit luar biasa. Mual membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya. Namun, sudah beberapa hari ini ia tidak makan dan hanya kopi saja.


Keadaan Riko sama seperti di saat Maya memergokinya tengah menjadi trenggiling di atas sofa kantor. Namun, kali ini lebih sakit. Tubuh yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit seketika langsung merunduk hingga kepala pria tersebut membentur meja di depannya.


“Gak usah akting, deh, Dak! Aku tahu kamu itu hanya sedang pura-pura saja, kan?” Maya mendengkus sinis saat melihat pria itu berkali-kali membenturkan kepalanya ke atas meja.


“Aku bilang gak usah akting, Badak!” seru Maya yang mulai tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Riko.


Hal selanjutnya yang terjadi adalah tubuh pria itu jatuh ke lantai dengan begitu keras sehingga membuat pengunjung lain menoleh kepada dua orang berbaju serba hitam itu.


Maya bergegas bangun dari kursi saat melihat wajah Riko kini sudah pucat pasi. Tangan, serta bibirnya bergetar ketakutan. Dia tidak menyangka jika Riko tidaklah sedang berakting, apalagi bercanda.


“Mbak ini gimana, sih? Udah tahu pacarnya lagi sakit malah diomel-omelin. Kalau emang udah gak cinta mending putusin aja! Dasar perempuan gak tahu diri!” ucap salah satu pengunjung kepada Maya yang kini hanya bisa terpekur di atas lantai.

__ADS_1


Tubuh Riko sudah dibawa oleh beberapa pengunjung laki-laki menuju rumah sakit terdekat. Melihat kondisi pria tersebut tidak mungkin mereka menanganinya sendiri di sini. Alhasil, mereka pun menggunakan salah satu kendaraan pengunjung untuk bisa mengantarkan orang tersebut mendapatkan pertolongan.


Kristal bening itu menetes dengan sendirinya. Tangan terkepal erat di sisi kanan dan kirinya. Mengabaikan tatapan, serta omongan buruk tentang dirinya yang sedari tadi terlontar dari mulut beberapa pengunjung. “Maafkan aku, Ko. Aku gak tahu, kalau dirimu sedang sakit,” sesalnya.


__ADS_2