Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 27


__ADS_3

"Tante!"


Fatimah yang baru saja turun dari mobil seketika menolehkan wajahnya ke asal suara. Bibir yang dipoles dengan lipstint berwarna pink itu mengembang begitu lebar. Tubuhnya diturunkan dengan kedua tangan direntangkan siap untuk menyambut anak sholeh yang sedang berlari ke arahnya.


Aiman yang melihat kebahagiaan dari anaknya ikut tersenyum. Ada sedikit kelegaan kala senyum itu kembali muncul di bibir mungil sang anak. Mereka berdua memang belum sempat saling berujar kata maaf, atau memaafkan. Niat hati, Aiman ingin melakukannya nanti setelah sampai di tempat yang akan dituju.


"Kangen," rengek suara anak kecil itu saat tubuhnya sudah mendekap erat calon ibu sambungnya.


"Tante juga kangen sama Mas Asa. Oh iya, bagaimana sekolahnya hari ini? Apa Mas Asa bersenang-senang?" Fatimah bertanya tak kalah antusias kepada Hassan. Entah kenapa baru tadi malam mereka bertemu, tetapi si kecil ini begitu membuatnya sudah tak sabar ingin bertemu.


Beruntung, sang calon suami mengajaknya untuk menjemput si anak sholeh, kalau tidak mungkin Fatimah harus menahan rasa rindu untuk beberapa saat yang lama.


Hassan terus berceloteh di depan Fatimah. Raut antusias dan semangat ketika menceritakan bagaimana harinya di sekolah membuat dia orang dewasa di sana ikut tersenyum.


"Semenjak Mas Asa diantar oleh ibunya, teman-temannya sudah tidak berani mengusili lagi. Mereka justru sekarang menjadi berteman."


"Loh, Bu Guru." Fatimah dan Aiman yang mendengarnya lantas menunduk sopan. Mereka tidak sadar, jika ada Bu Wardah yang tengah berdiri di belakang tubuh Hassan.


Saking fokusnya mendengar celotehan dari anak sholeh tersebut sehingga membuat mereka tidak tahu ada orang lain.


"Tapi, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda, Bu. Karena saya telah salah mengira tentang Anda." Wali kelas Hassan pun menunduk saat rasa bersalah merayah hati. Dia lupa, jika memang ibu kandung dari muridnya sudahlah meninggal.


Itu pun karena tidak sengaja melihat data diri murid-muridnya.


Fatimah tersenyum maklum. "Tidak apa, Bu. Saya bisa maklum, kok."


"Tapi, beliau ini memang calon ibu Mas Asa, Bu. Karena kami memang akan menikah sebentar lagi." Aiman segera menyela pembicaraan antara Fatimah dan Bu Wardah.


"Benarkah?" tanyanya dengan raut bahagia. "Alhamdulillah. Semoga acaranya berjalan dengan lancar dan semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah."

__ADS_1


Aiman dan Fatimah pun mengaminkan doa Bu Wardah. Mereka lalu pamit undur diri karena harus pergi. Ada sebuah tujuan yang ingin dikunjungi oleh Aiman dan tentunya tanpa sepengetahuan dari dua orang yang kini tengah asyik mengobrol di kursi sampingnya.


Laju mobil itu terlihat tak begitu cepat, lambat pun tidak, sedang. Karena lokasi yang dituju juga tak begitu jauh dari sekolah sang anak.


"Loh, bukankah ini bukan arah ke rumah saya, ya, Pak?" Fatimah menyadari jalanan yang sedang mereka lewati bukanlah ke alamat rumahnya. Maka dari itu, dia langsung bertanya kepada calon suaminya.


"Bisakah jangan memanggil Pak di saat kita sedang di luar?" Aiman merasa panggilan Fatimah terlalu formal, padahal mereka sebentar lagi akan menikah.


Fatimah melipat bibirnya canggung, apalagi ketika manik mereka tak sengaja saling bersibobrok. Wajahnya langsung melihat ke arah depan di mana Hassan sedang menatap wajah calon ibunya.


"Hei, kenapa melihat Tante seperti itu? Apa ada sesuatu di wajah tante?" Fatimah segera memang wajahnya karena Hassan memandangnya begitu intens hingga pipinya merona.


Ini anak kecil, loh, Fa. Kenapa tingkahmu sudah seperti dipandangi bapaknya saja.


"Tante cantik," puji Hassan jujur.


"Gantengan Mas Asa, atau abi?"


Perempuan itu mengedip lucu saat sebuah pertanyaan si anak yang duduk di atas pangkuan bertanya hal yang cukup canggung. Hei, semua orang pun tahu, jika Aiman Baha Baseer ini adalah salah satu tipe lelaki yang tidak akan pernah bosan dipandang mata. Jadi, haruskah aku jujur?


Ekor matanya melirik ke arah Aiman yang masih fokus menyetir. Namun, siapa sangka, jika pria tersebut juga penasaran akan kejujuran yang akan dilontarkan oleh Fatimah.


"Ehm–"


"Pasti Tante Fati mau bilang, kalau gantengan abi. Iya, kan?" Bibir itu mengerucut manja. Jari mungilnya kini tengah memilih kerudung yang dikenakan oleh calon ibu sambungnya.


Fatimah menahan diri untuk tidak tertawa. Namun, tangannya tak dapat ditahan untuk mencubit gemas pipi kenyal yang tengah merajuk itu. "Astaga, lucu sekali, sih."


"Tante," rajuknya yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Tawa dua orang dewasa itu pun seketika terdengar. Menyaksikan Hassan yang tengah tak sabar menunggu jawaban dari Fatimah.


"Oke. Kita sudah sampai," ucap Aiman saat mobilnya sudah sampai di sebuah taman bermain.


"Abi beneran mengajak Mas Asa ke sini? Wah … terima kasih, Abi. Mas Asa sudah lama banget pengen ke sini." Wajah yang tadinya tengah merajuk seketika berbinar cerah. Dia bahkan terlibat tak sabar dan ingin turun dari pangkuan Fatimah.


Hassan sampai lupa tentang siapa lelaki paling tampan di antara dirinya dan sang ayah. Yang dipedulikan sekarang adalah ingin cepat sampai di dalam, lalu menaiki semua wahana yang sudah lama diimpi-impikan. Akan tetapi, bibir yang tadinya melengkung ke atas, kini berubah turun, murung.


"Hei, kenapa, Sayang?"


Hassan berubah murung lagi dan kali ini Aimanlah yang mengambil alih. Digendongnya tubuh si anak ke dalam dekapan, layaknya koala. Telunjuknya mencolek hidung mungil anak tercinta. "Apa Mas Asa tidak suka?"


Wajah itu memandang ayahnya dengan lemas. "Mas Asa gak mau masuk."


"Kenapa?" tanya Aiman dengan sabar.


"Mas Asa takut ngompol," bisik anak tersebut.


Aiman menatap anaknya dengan pandangan kosong. "Apa Mas Asa bercanda?"


Anak itu menggeleng, lalu kembali mendekatkan bibirnya ke telinga sang ayah. "Kita gak akan ke rumah hantu, kan, Bi?"


Satu sudut bibir Aiman seketika naik ke atas. Dia mempunyai rencana untuk membuat anak semata wayangnya tidak akan melewatkan hari ini.


...****************...


Mampir yah, Guys?


__ADS_1


__ADS_2