
Sebuah bogeman mentah baru saja melayang tepat ke arah hidung mancung milik pria yang kini sedang memalingkan wajahnya ke arah kiri. Darah pun mengalir tanpa bisa dicegah dari indera penciumannya.
“Pergi dari sini sekarang juga, atau saya akan menelpon security untuk menyeret Anda dari rumah saya!” Dadanya naik turun, bahkan deru napas Aiman juga terlihat memburu. Menandakan emosi masih bercokol di dalam hatinya.
Pupil matanya berubah semakin gelap kala emosi sedang menguasai tubuh. Aiman tahu tingkat kesabarannya ini tengah diuji. Namun, Dhani sepertinya salah memilih lawan. Duda beranak satu ini adalah pemilik sabuk hitam dengan tingkat paling senior.
“Jadi, sebelum saya menghajar Anda di sini … sebaiknya pergi dari sini sekarang juga!” Kembali Aiman menekankan setiap ucapannya.
Dhani sendiri kini tengah mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka jika kedatangan dirinya justru dihadiahi sebuah bogeman mentah dari calon istri dari sahabatnya.
Si tamu pun berdiri dari duduk dengan pongah, lalu menatap dingin si pemilik rumah yang masih menatap balik tak kalah dingin. Ia tidak gentar dan tetap maju untuk mendekati Aiman, kemudian setelah sampai, bibirnya pun mendekat ke arah telinga si lawan bicara.
“Jangan kamu kira saya akan diam saja mendapatkan ini semua. Oke, kali ini kamu bisa tidur nyenyak, tapi tidak untuk lain kali!” Setelah itu, Dhani pun meludah tepat di sisi kiri tubuh Aiman seolah menunjukkan bendera perang masih terus akan berkibar.
Ancaman itu tak jua membuat Aiman takut. Dia sangat tahu, jika kelakuannya tadi cukup kekanakan. Namun, sebuah harga diri seorang lelaki baru saja diinjak-injak. Jadi, wajar saja seorang pendiam seperti Aiman akan berusaha untuk menyelamatkan harga dirinya.
__ADS_1
Siti yang memang belum tidur segera mendatangi ruang tamu. Dia berjalan dengan cemas saat melihat pertikaian yang baru saja terjadi. Wanita paruh baya tersebut hendak maju, lalu melerai. Akan tetapi, si tamu sudah keburu pergi meninggalkan rumah mereka.
"Nak," panggil Siti dengan raut cemas tak dapat disembunyikan.
Tangannya mengusap bahu anaknya yang masih terlihat tegang. Dia lalu memeluk tubuh tinggi Aiman untuk meredakan emosi yang kini tengah melanda perasaan si anak. Bibirnya pun ikut merapalkan kata penenang agar ayah dari Hassan cepat tenang.
“Sshh, semua baik-baik saja, Man. Kamu gak boleh menggunakan kekerasan di sini. Ingat, Allah tidak suka umatnya saling berkelahi. Istighfar, Nak!” Siti sedih melihat anaknya yang selama ini terlihat diam dan kalem, tengah dilanda emosi.
Dia juga menyayangkan dengan niat buruk dari tamunya tadi. Jika tahu, pria itu hanya akan membuat masalah di rumah mereka. Mungkin sedari awal tak akan dibiarkan masuk, bahkan menginjakkan kakinya ke rumah ini pun dilarang keras.
Takut, jika Aiman akan berubah pikiran untuk menikahi Fatimah setelah permasalahan ini? Takut, jika pria itu akan kembali datang dan membawa masalah lain lagi ke rumah ini. Ketakutan yang membuat kakinya terasa lemas untuk berdiri tegak di sisi anaknya.
Aiman masih saja diam, tetapi tidak mengiyakan, atau membalas setiap ucapan ibunya. Ia justru berjalan masuk ke dalam kamar tanpa berbicara apa pun. Namun, langkah itu seketika berhenti saat melihat manik gelap milik anaknya tengah menatapnya takut.
Dari situlah, emosi yang sedari tadi masih memeluk tubuhnya seketika luruh, berganti menjadi ketakutan akan bagaimana reaksi dari sang anak tercinta. Lututnya dibiarkan dijadikan sebagai tumpuan, lalu tangannya dijulurkan untuk meraih tubuh mungil si anak.
__ADS_1
“Nak, kamu belum tidur?” Suaranya terdengar bergetar ketakutan.
Hassan hanya diam berdiri di depan pintu kamar yang menghadap langsung ke arah ruang tamu. Jadi, bisa dipastikan si anak kecil itu melihat bagaimana ayahnya yang tengah marah besar hingga menonjok tamunya.
“Nak,” panggil Aiman lagi. Namun, hatinya seketika mencelos ketika reaksi Hassan justru mundur.
Aiman melipat bibirnya kala pintu kayu itu diabnting tepat di depan wajahnya. Suara debuman itu seolah menjadi palu besar yang meruntuhkan air mata yang kini sudah membasahi wajah sang ayah.
“Maaf, Nak. Maafkan, abi!”
...****************...
Rekomendasi novel temen!
__ADS_1