Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 11


__ADS_3

Jika merasa lelah, maka istirahatlah! 


*


Kedua bola mata kecil itu bergerak gelisah. Bingung. Mulut bahkan terasa terkunci hanya sekadar untuk menyahut. Ia sudah berjanji untuk tidak menjadi pengadu, apa pun yang terjadi. "Tidak, Bu Guru."


Hela napas berat terdengar begitu jelas keluar dari bibir sang wali kelas. Sudah berbagai macam cara dikerahkan untuk membuat Hassan buka mulut. Namun, selalu gelengan kepala, atau bahkan senyuman palsu yang didapat.


Bu Wardah mencoba mengerti, kemudian balas senyuman Hassan dengan kecut. Anak sekecil itu bahkan sudah pandai menjaga rahasia, atau mungkin ada seseorang yang mendesaknya hingga tak berani buka mulut.


Haruskan dia mendesaknya juga? Tidak mungkin. Karena semua yang dipaksakan tidak akan berhasil.


"Mas Asa tidak sedang menutupi sesuatu, kan?" tanya Bu Wardah sekali lagi.


Tetap Hassan tidak goyah dengan apa yang dikatakannya barusan sehingga si wali kelas pun menyerah. "Baiklah, kalau begitu ibu kembali ke ruang guru dulu. Mas Asa, jangan ke mana-mana! Biar nanti ibu yang bilang ke Abi, atau nenek Mas Asa jika mencarimu."


Sekali lagi, Hassan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala kecil. Huftttt.


*

__ADS_1


Tungkainya diseret malas menuju kamar mandi. Rasa lelah tengah menggerogoti tubuh, serta pikirannya. Enam jam berada di sekolah dengan berbagai macam aktivitas, cukup membuat dirinya hampir dikejar massa.


Lebay. Ya, itu hak siapa pun menganggap Fatimah menjadi perempuan apa. Toh, hidup itu bebas dalam berbicara, berekspresi, dan juga berpendapat. Jadi, selama tak membuat orang lain rugi, itu tidak masalah.


"Fati, apa kamu sudah memikirkan masalah kemarin malam?" Diingatkan kembali akan lamaran semalam, Fatimah hampir terjungkal.


Handuk yang disampirkan di bahu Fatimah seketika melorot. Dia mengusap hidungnya yang terasa gatal. Mungkin ini adalah efek dari kehujanan tadi sepulang sekolah. Hujan memang hari ini sedang mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya.


"Apa kamu sedang flu, Sayang?" tanya Aminah khawatir ketika melihat hidung anaknya yang memerah. Dia segera memeriksa suhu tubuh si anak dan hela napas berat keluar begitu saja, setelah memastikan badan Fatimah memang hangat.


"Apa kamu lupa tak membawa payung, Sayang?" tanyanya lagi dengan mimik wajah cemas.


Aminah menepuk bahu Fatimah gemas, tapi tak begitu keras. "Lain kali jika memang sudah tahu gerimis, lebih baik cepat dipakai payungnya. Jangan menunggu deras baru kamu pakai! Lagian, kamu bawa payung itu buat jaga-jaga, bukan hanya untuk disimpan di dalam tas, Sayang," ujarnya, lalu menepuk kening si anak pelan.


Fatimah tersenyum manja, lalu memeluk tubuh ibunya seperti anak yang tak mau jauh dari sang ibu. "Bu, kenapa kamu begitu harum? Fati jadi tak ingin jauh-jauh," rengeknya manja.


Aminah tersenyum sayang. Jemarinya mengusap punggung tangan si anak manja. "Kalau gak harum, nanti ayah kamu bisa mencari cewek lain,dong, Sayang."


Fatimah langsung mendongak. Bibirnya seketika mengerucut tak suka. "Kenapa ibu bicara seperti itu? Mana mungkin ayah yang begitu mencintai Ibu Aminah bisa berbagi cinta dengan wanita lain. Tak percaya aku, Bu."

__ADS_1


"Haish. Kamu ini bisa banget, kalau disuruh bikin ibu tak bisa berkata-kata. Sudah sana mandi! Biar ibu buatkan wedang jahe dulu buat kamu," usir Aminah kepada anaknya.


Fatimah justru terkikik geli mendengarnya. Setelah kepergian Aminah, dia pun menghilangkan senyum kekanakan yang baru saja ditampilkannya, lalu berganti dengan wajah tanpa ekspresi.


“Maafkan aku, Ibu. Hanya saja, Fati belum menemukan jawaban atas lamaran Pak Iman. Lagipula, sepertinya akan sulit untuk masuk ke dalam hidup mereka. Beliau terlalu dalam membuang kuncinya selama ini,” ujarnya dengan kepala tertunduk.


Dalam beberapa sekon, Fatimah hanya berdiri diam di depan pintu kamar mandi. Dia juga merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, umurnya sudah tidak muda lagi, di lain hal, jika ingin membina sebuah rumah tangga itu tidaklah mudah, apalagi seseorang di masa lalu terlalu mendominasi relung hati calon pasangannya.


“Fati, kenapa kamu masih berdiri di sana? Bukankah seharusnya kamu sudah mandi sedari tadi?” Aminah yang baru saja selesai membuat wedang jahe, mengerutkan kening heran.


Fatimah langsung gelagapan dan lari terbirit-birit menuju pintu kamar mandi. Dia hanya terkikik geli karena mendengar omelan dari sang ibu yang pastinya akan menjadi sebuah kenangan kelak, jika dia sudah menikah dan pindah dari rumah ini.


Aminah hanya menggelengkan kepala, sambil mendengkus gemas. “Fati-Fati. Kapan kamu akan dewasa, Nak? Semoga saja kelak, kamu akan mendapatkan suami yang bisa dan benar-benar membimbingmu ke surganya Allah, aamiin.”


*


“Fati, apa kamu bersedia menikah denganku?” Seorang pemuda tampan dengan setelah parlente tiba-0tiba daja berjongkok di hadapan Fatimah, sambil menyerahkan sebuah kotak cincin berlian yang sangat menyilaukan mata.


“Mas Dhani … apa yang kamu lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2