
Setelah hari itu, Aiman yang mengalami luka tembak di bagian perutnya. Kini, harus dirawat di rumah sakit untuk menjalani proses pemilihan. Beruntung timah panas itu tidak mengenai organ vitalnya sehingga masih bisa diselamatkan.
Hari ini, Fatimah datang untuk menjenguk sang suami. Kemarin ia baru saja pulang ke rumah orang tuanya untuk menemui anak-anak mereka. Khumaira terus saja menangis dan mencari ibunya. Maka dari itu, mau tidak mau Aiman dititipkan kepada Umar–ayahnya untuk gantian berjaga.
Pintu kayu itu digeser oleh Fatimah dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah sang suami. Bibirnya bergetar menahan tangis saat kedua mata milik Aiman sudah terbuka. "Kamu sudah sadar, Bi?" tanyanya haru.
Aiman mengangguk, lalu tersenyum lebar. Dia merentangkan kedua tangan seolah meminta wanita itu untuk datang ke dalam pelukannya. "Kemarilah!"
Dengan bergegas Fatimah menaruh kantong makanan yang dibawanya untuk ditaruh di atas nakas, lalu setelah itu menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan sang suami. Dia menangis tergugu di pelukan hangat Aiman yang akan selalu membuatnya rindu.
"Maafkan aku, Abi. Maaf!" Kata-kata itu terus saja terulang dari bibir Fatimah. Rasa bersalah terus saja menghantui sehingga membuat wanita itu tak bisa tidur nyenyak, makan pun tak selera. Karena yang ia butuhkan saat ini adalah kesembuhan Aiman--suami tercinta.
"Aww, pelan, Ummaya!" Aiman tersenyum meringis, sambil menahan sakit saat sang istri tidak sengaja menekan bekas luka jahitan di atas perutnya.
__ADS_1
Fatimah langsung mendongak menatap wajah sang suami yang hanya berjarak beberapa centi. Tanpa berniat menjauh, wanita itu justru memasang wajah sendu. "Fati kayaknya bikin Abi sering terluka, deh. Apa Fati ini pembawa si–"
"Ssttt!" Jari telunjuk itu kini tengah bertengger manis di depan bibir pink milik sang istri. "Kamu itu adalah pembawa Rahmat dan rezeki dalam keluarga kita. Jadi, kamu jangan pernah berpikir yang tidak-tidak!"
"Tapi–"
Aiman mengecup bibir kenyal istrinya, lalu setelah itu ia kembali membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan. "Abi rindu sangat padamu, Ummaya. Hampa sekali hidupku beberapa hari ini tanpa dirimu," tuturnya lega.
"Aku juga sangat merindukanmu, Bi." Fatimah tidak bohong jika harum tubuh Aiman selalu menjadi candunya di setiap malam. Ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak jika tak mencium aroma tubuh suaminya.
"Salahkan saja dirimu yang begitu sholeh, sehingga membuatku tak bisa jauh darimu." Bibir itu mengecimus sebal, tetapi tidak memungkiri pipi itu langsung merona merah.
Aiman mengecup kening sang istri. "Aku merasa sangat senang sekali, Sayang. Akhirnya keluarga kita bisa kembali berkumpul seperti dulu lagi. Dan maafkan aku, Ummaya. Karena aku, kamu menjadi terluka seperti ini."
__ADS_1
Fatimah menggeleng saat merasakan tangan sang suami membelai bekas luka yang ia dapatkan kemarin. "Itu bukan masalah, Abi. Ini hanya luka kecil. Jadi, Abi gak perlu merasa bersalah."
Aiman tidak begitu saja percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut si istri. Ia lantas meminta sang istri untuk memperlihatkan luka itu.
Fatimah pun menurut. Pria itu menunggu dengan sabar kala wanitanya tengah menyingsingkan atasan yang dipakainya.
"Pasti sakit sekali," ujar Aiman melihat luka yang menggores cukup panjang dan lebar di lengan sang istri.
"Tidak, Bi. Justru luka Abilah yang lebih sakit. Fati gak bisa bayangin jika waktu itu–"
"Sstt!" Aiman langsung menarik lengan Fatimah yang tidak terluka, lalu kembali direbahkannya di atas dada. "Tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Lebih baik kita pikirkan masa depan kita."
Fatimah mengangguk. "Terus, apa yang akan kita lakukan kepada wanita itu, Bi?"
__ADS_1
Aiman terdiam. "Apa polisi sudah menangkapnya?"