
"Sini, biar Abi aja yang bawa."
"Terima kasih."
Aiman menatap punggung tegak istrinya yang semakin menjauh. Sudah dua Minggu sejak kepulangan Fatimah ke rumah, dia memang terlihat biasa saja. Masih mau mengobrol, layaknya tak ada masalah apa pun yang telah membuat hati mencelos.
Semua memandang mereka pun akan tetap sama, pasangan yang serasi dan juga kompak dalam mengasuh anak. Namun, tidak bagi Aiman yang cukup mengenal Fatimah satu tahun ini. Wanita itu jelas tengah menghindarinya, tetapi dengan halus.
Ketika itu, sang istri disarankan oleh dokter untuk tetap menjaga jahitan agar tidak robek dengan cara tidak boleh banyak melakukan aktivitas berat. Fatimah sendiri menurut dan melakukan hal yang disuruh oleh dokter.
Seperti saat ini, Fatimah yang hendak melakukan mengangkat jemuran sengaja Aiman ambil alih. Pria itu tahu jika si istri ini masihlah butuh waktu untuk sembuh setelah melahirkan normal. Maka dari itu, ia sebagai seorang suami, serta ayah harus pengertian untuk membantu.
Dari mencuci baju, hingga membantu si istri mandi pun dilakukan. Sempat malu memang, tapi Fatimah tak bisa berkata-kata karena itu sangat membantu. Memang inilah saat yang tepat bagi seorang pasangan untuk membuktikan rasa cinta dan sayangnya.
Dengan seperti itu, mereka akan menjadi satu, bukan malah sendiri-sendiri.
"Apa kamu mau makan, Sayang?" tanya Aiman setelah ikut masuk ke dalam kamar merek.
Rumah terlihat sepi lantaran Siti dan Hassan sedang berada di sekolahan. Si kecil yang dulu masih TK, kini sudah memasuki jenjang sekolah dasar dan selalu diantar jemput oleh neneknya. Jika ada waktu, Aiman bergantian mengantar.
"Udah. Abi udah makan?" tanya Fatimah yang tengah duduk di atas ranjang, sambil memberikan asi kepada anaknya.
"Oh. Padahal Abi kira kamu belum makan. Niatnya mau ngajak makan bareng," ucap Aiman sedikit kecewa.
__ADS_1
Pupil wanita itu melebar. Rasa bersalah masuk ke dalam hatinya. "Maaf, Bi. Aku pikir tadi piring kotor di wastafel punya Abi. Makanya aku ikut makan."
Aiman tersenyum saat menemukan raut penyesalan yang ada di manik legam milik sang istri. Dia rindu tatapan itu. Bukan ingin dikasihani, melainkan sorot penuh sayang itu sudah dua Minggu ini tak pernah ia lihat.
"Gak apa-apa. Mungkin kita hanya miskomunikasi, Sayang. Ya udah, umma lanjut dulu aja memberi asi kepada Maira. Biar Abi makan dulu, soalnya udah lapar," ujar Aiman penuh perhatian, sembari mengusap perut ratanya.
"Mairaku, jadi anak yang sholehah, ya, Sayang. Seperti ummamu itu," lanjutnya, sambil mengusap kepala mungil milik anak gadisnya.
"Masya Allah, sepertinya anak kita sangat haus, Umma. Lihat saja bibir itu saya minta asi … begitu cepat," celoteh Aiman yang sepertinya lupa akan perutnya yang sudah merongrong, minta diisi.
Pria itu hanya terlalu malas jika makan sendiri. Kebiasaan satu tahun tinggal bersama dengan Fatimah membuat Aiman tidak bisa makan, kalau seorang diri.
Terlalu banyak candu yang diberikan wanita itu kepada si pria sehingga membuatnya tidak bisa jauh barang sejengkal pun.
"Apa sudah lapar sangat?" Fatimah seolah tak menggubris pertanyaan sang suami dan dia lebih cemas jika Aiman tidak mau makan.
Aiman tersenyum. "Lumayan, sih. Tapi, nantilah nungguin Mas Asa. Sekarang waktunya Abi buat main bareng sama Maira dan juga ummaya. Bolehkan?"
Mata itu menatap Fatimah dengan penuh rindu.
Tatapan yang juga selama beberapa Minggu ini ia abaikan hanya karena rasa cemburu. Ya, Fatimah Azzahra mengakui dirinya cemburu dan juga kecewa kepada sosok yang telah tiada. Karena wanita itu sudah mengambil ruang gerak sang sini.
Bodoh memang karena cemburu kepada orang yang telah meninggal, kalau memang harus ada yang disalahkan itu adalah diri sendiri, bukan orang lain.
__ADS_1
"Kalau begitu kita makan bersama, Bi. Aku juga udah lapar." Fatimah tidak berbohong hanya untuk menunjukkan dirinya peduli. Dia memang sudah mulai lapar walaupun baru setengah jam lalu piring berisi nasi, beserta lauk berpindah ke dalam lambungnya.
Aiman tersenyum lebar. Dia lalu mengangguk senang saat akhirnya dia bisa makan bersama dengan sang istri. "Kalau begitu kita tunggu Maira selesai minum asinya. Baru setelah itu kita makan. Bagaimana?"
Fatimah mengangguk setuju. Maniknya pun lalu turun ke bawah, menatap wajah bayi mungil yang diberi nama Khumaira Baha Baseer. Anak gadis pertama dari keluarga Baseer dan akan menjadi teman bermain Hassan Baha Baseer.
"Abi, aku mau minta maaf," ucap Fatimah tiba-tiba. "Maaf, jika diriku terlalu kekanakan karena masih merasa cemburu dengan Mbak Aish."
Aiman menatap wajah bersalah istrinya dengan tatapan sendu. "Bukan kamu yang salah, Ummaya. Tapi, Abi," elaknya.
"Abi yang seharusnya minta maaf karena masih terus terbayang Aisyah. Aku … aku hanya takut akan kehilanganmu, Sayang. Makanya selalu menutup mata dan pikiranku hingga menyebabkan bayangan kehilangan Ais lah yang muncul," jelas Aiman dengan raut bersalah yang tulus.
"Benarkah itu, Bi?" tanya Fatimah dengan wajah penuh harap.
Aiman mengangguk. "Kamu adalah wanita yang akan menjadi pelabuhan terakhirku, Ummaya. Buat apa aku berbohong. Kamu sudah menjadi sosok candu di dalam hidupku. Jadi, gak akan ada ruang di dalam hati, maupun pikiran untuk memikirkan wanita lain."
Fatimah tersenyum haru. Rasa cemburu itu akhirnya bisa luluh juga setelah dua Minggu menutup hatinya. "Umma minta maaf, ya, Bi?"
"Iya, Sayang. Abi juga minta maaf, kalau ada salah selama ini sama kamu."
Aiman dan Fatimah pun akhirnya berbaikan. Tatapan penuh cinta dan rindu kini sudah saling mereka berikan satu sama lain, bahkan candaan pun mulai terlontar dari bibir mereka sampai ketika si suami menyeletuk.
"Terus, kapan Abi boleh sayang-sayangan sama Umma?"
__ADS_1