Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 31


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Azzahra binti Muhammad dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai."


"Bagaimana, Saksi?"


"Sah!" teriak para tamu undangan yang hadir sebagai saksi.


Aiman menghela napas lega, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dirinya kini sudah sah menjadi seorang suami setelah lima tahun menduda. Perasaan cinta kepada mantan istri yang sudah meninggal memang masih ada, tetapi ia simpan rapat di dasar hati yang paling dalam.


Kini, dia mulai kembali membuka lembaran baru bersama Fatimah Azzahra. Wanita cantik yang kelak akan dibimbingnya menuju jannahNya Allah SWT. Menjadi ibu untuk Hassan dan mungkin anak-anak mereka kelak.


Setelah pembacaan ijab qobul selesai, mempelai wanita pun dipersilahkan untuk keluar dari kamar. Tempat di mana ia menunggu Aiman mengucapkan ijab qobul di hadapan Umar–ayah Fatimah. Kini, kedua mempelai pun dipertemukan di atas pelaminan.


Aiman sudah menunggu di depan dengan tuxedo putih yang membuatnya terlihat sangat tampan. Duda anak satu itu bahkan terlihat seperti masih lajang di usianya yang kepala tiga. Sorot matanya tak bisa lepas menatap Fatimah yang juga mengenakan pakaian serba putih dan terlihat anggun.


"Suamimu begitu tampan, Nak," bisik Aminah menggoda anaknya.


Tangan dingin Fatimah meremas telapak tangan ibunya yang tengah menggenggam erat di sampingnya. Dia protes dalam diam karena dirinya terlalu malu untuk mengakui paras tampan suaminya.

__ADS_1


Dia memang sangat tampan, Bu.


Fatimah terlihat sangat cantik bersinar dengan gaun putihnya. Pancaran mata seperti tak sabar untuk bertemu belahan jiwanya. Senyum tulus yang menawan, membuat Fatimah semakin tampak anggun mempesona. Walaupun dia gugup dan ragu, tetapi dia simpan seorang diri.


Fatimah terlihat sangat mantap berjalan di sisi ibunya untuk mencapai sosok yang tengah berdiri menunggunya di atas pelaminan. Bibirnya tak henti untuk mengulas senyum ketika pandangan dia mempelai saling bersitatap.


Kegugupan dirasa Aiman. Pernikahan yang kedua tidak membuatnya terbiasa, tetapi tatapan mata Fatimah membuatnya kembali tenang. Air mata Aiman menetes ketika akhirnya dia dapat bersanding dengan Fatimah di pelaminan.


"Tolong jaga dan tuntun anak saya dengan baik dan benar, Nak. Bila salah, tolong tegur dia! Tapi, jangan pernah kau sakiti hatinya. Karena itu sama saja kau menyakiti hati kami." Aminah menyerahkan tangan berhias Henna milih Fatimah dalam genggaman Aiman. Air mata yang sedari tadi ditahan, kini meluncur deras melihat anaknya sudah menemukan belahan jiwanya.


"Insya Allah, Bu. Saya tidak bisa menjanjikan harta yang berlimpah untuk anak Anda. Tetapi, saya ingin pernikahan ini digunakan sebagai ibadah dan juga sebagai rumah yang layak untuk ditinggali oleh kami semua."


"Jadi, apakah istriku ini mau berjalan bersama denganku dan juga Mas Asa dalam menuju surgaNya Allah?" tanya Aiman lembut di hadapan para tamu undangan yang tengah baper melihat interaksi kedua mempelai pengantin tersebut.


Bulir kristal itu menetes tanpa disuruh. Fatimah berharap apa yang dikatakan oleh suaminya ini memanglah benar, bukan hanya janji belaka yang diucapkan di depan banyak orang, atau lebih buruk lagi hanya janji palsu.


Dengan segala segenap hati, jiwa, dan raga. Wanita itu pun mengangguk setuju, lalu bibir itu pun terkulum.malu saat keningnya dikecup begitu hangat oleh sang suami. Kupu-kupu di dalam perutnya tiba-tiba berterbangan.

__ADS_1


Belum usai tangannya yang berkeringat dingin setelah genggaman erat Aiman. Fatimah kini dibuat melayang dengan senyuman tulus yang diberikan oleh suaminya. Ini adalah sebuah titik di mana hatinya berdesir hangat dan rasa itu benar-benar baru dan nyata terjadi pada dirinya.


Asing, tetapi begitu candu.


Bibir mereka senyum-senyum sendiri saat melihat keromantisan yang diperlihatkan oleh Aiman kepada istri barunya. Yang amish single menjadi berandai-andai mendapatkan sosok suami sempurna seperti si pengantin pria.


Aiman dan Fatimah membuat jiwa jomblo-jomblo di luaran sana meronta-ronta melihat keromantisan mereka.


Acara pun berlanjut hingga pengantin berganti kostum hingga dua kali. Aiman dan Fatimah memang menolak, jika harus bergonta-ganti pakaian hingga empat kali–itu usulan dari pihak penata rias– karena menurutnya itu tidak perlu dan juga ribet.


Kebahagiaan jelas terpancar jelas di dalam raut wajah mempelai dan keluarga. Si kecil–Hassan pun tidak kalah senang. Dia bahkan sedari tadi tidak mau lepas dari Fatimah hingga beberapa kali digoda oleh keluarga, atau kerabat yang datang.


Bibir Hassan cemberut kala rasa kantuk mulai menyerang. Dia yang biasanya bergelayut manja pada Aiman, kini justru beralih tak mau lepas dari dekapan Fatimah. Wanita itu pun hanya bisa tersenyum walau cukup kesulitan dalam bergerak.


Sampai ketika acara selesai barulah Hassan mau ditidurkan di kamar tamu bersama Siti. Sedang kedua mempelai kini sudah berada di dalam kamar pengantin. Dia orang asing yang kini sudah berubah status menjadi suami istri itu terlihat canggung hingga tidak tahu harus melakukan apa.


Fatimah yang sedang melepaskan gaun pengantinnya sebenarnya sedikit canggung saat ingin meminta bantuan kepada sang suami. Resleting gaunnya tersangkut peniti yang entah kenapa begitu sulit untuk dibuka.

__ADS_1


Kedua maniknya melirik ragu sosok Aiman yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan fresh, berbeda dengan dirinya yang masih belum kelar.


Haruskah aku meminta tolong padanya?


__ADS_2