
"Apa kalian sudah membereskannya?"
Wanita berpakaian seksi tengah duduk di atas sofa, sambil menyilangkan kaki. Kulit putih dan mulus bak porselen kini terpampang nyata di tungkai indah milik Juwita Ratu Berlian.
Matanya terpejam, menikmati manicure dari pegawai salon langganannya. Bibir berwarna merah darah itu seolah menantang kaum Adam untuk menyicipinya, kini tengah mengucapkan dialog yang sama dengan sang artis di televisi.
"Sudah, Nona. Sekarang tinggal menunggu perintah selanjutnya dari Nona Juwi." Berkali-kali pria di ujung sana menelan ludah gugup, bahkan melonggarkan dasi yang seperti mencekik lehernya sesak. Kala sesuatu di bawah sana terasa mengembang lantaran melihat tubuh seksi dari bosnya.
Bibir berwarna merah itu terdiam untuk beberapa saat. Dia mengangguk pelan seolah tengah mencari hal lain yang bisa dikerjakan oleh pelayanannya. "Bagus. Untuk saat ini kalian bisa istirahat. Tapi," ucap Juwi berhenti, sambil memandang wajah pengawal dan pelayannya yang lain.
"Kalian harus tetap jaga mulut agar tidak ada orang lain yang mengetahui keadaan ini!" Mata itu menatap lurus ke arah sebuah piala yang ada di atas lemari kemudian menyeringai.
"Baik, Nona," sahut ketiga pria berpakaian serba hitam itu patuh. Sebelum pergi, mereka membungkuk kepada sang atasan.
"Kembalilah ke posisi kalian!" Juwi menyeringai. Dia lalu mengganti pandangannya ke arah televisi yang sedang menayangkan serial kesukaannya--film action. Di bintangi oleh artis papan atas dengan setting modern yang dibungkus sangat epik oleh produser dan juga kru filmnya.
Setelah itu, keadaan ruangan pun kembali hening. Yang terdengar hanya suara televisi dan embusan napas dari para insan di ruangan tersebut, itu pun dibuat teratur mungkin.
__ADS_1
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara di saat Nona Muda mereka tengah sibuk dengan serial kesukaannya. Jika saja ada satu orang yang berani. Maka ...
"Huatchim! Ups!" Pelayan bernama lengkap Sinta Dalila itu seketika membekap mulutnya sendiri. Mati aku!
Semua orang langsung memandang Sinta dengan pandangan kasihan. Mereka jelas tahu konsekuensi apa yang akan didapatkan karena telah mengganggu Nona mudanya.
Juwi menatap wajah Sinta dengan datar, lalu tangannya meminta si pelayan muda itu untuk datang kepadanya.
Sinta menelan ludah gugup. Dia menoleh ke arah yang lain, tetapi justru tak ada yang bisa membantu. Pandangan mereka justru dialihkan ketika gadis berusia 23 tahun tersebut menatapnya.
Juwita Ratu Berlian tak berekspresi seperti ini yang membuat para pelayan, serta pengawal merasa ketar-ketir.
"Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk membuat kegaduhan. Tolong jangan pecat saya, Nona! Ampuni saya! Saya janji tidak akan pernah melakukan. kesalahan ini lagi. Tolong biarkan saya bekerja di sini terus, Nona!" ucap Sinta dengan belepotan.
Sinta menggosok-gosokan kedua tangannya. Memohon ampun kepada Juwita yang kini tengah menatapnya datar.
Tangan Juwi langsung diangkat ke udara. Seolah-olah tengah meminta gadis itu untuk diam dan berhasil. "Siapa nama kamu?" tanya Juwita dingin.
__ADS_1
"Tolong, jangan pecat saya, Nona!" Bukannya menjawab ucapan dari Juwita, Sinta justru terus merancau, sambil menangis sesenggukan di atas lantai. Memohon ampunan dari Juwita.
"Apa kamu tuli, hah?" Juwita membentak Sinta sehingga membuat keadaan ruangan menjadi hening. Tidak ada yang berani berkomentar, maupun berniat menolong Sinta.
Mereka masih sayang dengan pekerjaan, serta uang sehingga memilih mengorbankan kehilangan teman daripada pekerjaan.
Tiba-tiba, suara ketika dari arah pintu luar memecahkan kekakuan, serta angker di dalam ruangan tersebut. Juwita berdecih sinis, tetapi tetap mempersilakan masuk di tamu.
"Selamat pagi, Nona."
"Hm. Ada apa?" Juwi menatap wajah asisten kepercayaannya dengan pandangan setengah mengutuk. Wanita seksi itu bahkan tak canggung merubah posisi kaki yang aduhai di hadapan para pengawal hingga membuat mereka malu sendiri.
"Anak kecil itu kabur, Nona," ujarnya menunduk takut.
"Apa?" Juwita hampir melemparkan ponselnya ke arah si asisten, tetapi ternyata benda elektronik tersebut tidak berada di sisinya sehingga melampiaskan kepada kursi yang didudukinya. "Bedebah Gila!"
Juwita menarik tangannya paksa, padahal ia belum selesai menjalani perawatan. Namun karena sedang kesal ia memilih untuk mengusir si pegawai tersebut. "Pergi!" sentak ya cepat.
__ADS_1
"Cari dia sampai ketemu! Kalau tidak ... nyawa kalian yang akan jadi taruhannya!"