Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 138


__ADS_3

"Hai, Sayang." Seorang wanita cantik berhijab cream menyapa dengan riang kepada anak kecil yang sedang duduk di bangku depan sekolahnya. Dia terus melangkah riang, sambil menjinjing tas dan juga kantong plastik dari salah satu minimarket terkenal.


"Hai, Tante Juwi." Hassan yang sedang menunggu jemputan pun tersenyum, bahkan sinar mata itu juga terlihat tak kalah antusias bertemu dengan wanita tersebut. "Tante, kok, baru ke sini lagi, sih? Padahal Mas Asa udah nungguin dari kemarin."


Juwita Ratu Berlian, atau biasa disapa Juwi oleh orang terdekat memasang wajah menyesal. Dia mengusap pelan pipi Hassan yang terlihat menggembung lantaran tengah merajuk. "Maaf, ya, Sayang. Tante Juwi kemarin ada acara di luar kota. Makanya gak bisa nemuin Mas Asa," jedanya penuh sesal.


"Tapi, sekarang, kan, kita udah bertemu. Jadi, Mas Asa gak perlu sedih, apalagi merajuk. Nanti, gantengnya hilang, loh." Juwi terlihat begitu tulus memberi perhatian kepada anak kecil tersebut.


Pertama kali bertemu adalah karena ketidaksengajaan. Bermula dari ia yang tengah menunggu teman–salah satu guru di tempat mengajar Hassan–, akhirnya mereka malah menjadi sering bertemu. Namun, beberapa hari ini Juwi tengah ada kerjaan di pulau seberang sehingga membuatnya tidak bisa menemui Hassan.


"Oh, iya. Tante punya sesuatu, loh, buat Mas Asaku yang ganteng."


"Wah, Robot! Terima kasih, Tante Juwi!" seru Hassan senang, apalagi setelah melihat yang dibawa oleh si Tante kesayangan adalah mainan favoritnya. Tambah bahagia ia menerimanya.


Akan tetapi, senyum itu seketika luntur, wajah pun berubah sedih tatkala mengingat akan nasihat dari orang tuanya.


"Loh, kenapa wajah Mas Asa jadi sedih begitu? Apa mainannya kurang bagus?" Juwi jelas bingung dengan perubahan raut si bocah tampan di sampingnya. Dia pun menghela napas bingung.


Barang ini Juwi beli dengan harapan bisa membahagiakan Hassan, tetapi jika seperti ini tanggapannya. Dirinya menjadi keki. "Apa Mas Asa ingin mainan lain?"


Kembali Hassan menggeleng. Dia lalu mendongak, menatap wajah Tante Juwi sendu.


"Terus, Mas Asa mau apa? Apa ini ada hubungannya dengan Umma Mas Asa?" Juwi memang sudah mendengar tentang bagaimana sifat dan perangai dari ibu dari Hassan. Tentunya ia ikut senang, apalagi pernah sekali berpapasan dengan sosok Fatimah di jalan.


Juwi akui, Fatimah itu adalah wanita yang cantik dan tentunya wanita idaman buat para lelaki. Dia yang masih berusia 26 tahun saja merasa minder dengan aura kecantikan ibu dari Hassan. Sungguh parasnya mengalihkan dunia.


"Umma sebenarnya tidak akan marah. Tetapi," jedanya, sambil menggigit bibir.


Juwi menunggu dengan sabar. Dia bahkan sengaja tidak memotong ucapan anak kecil tersebut.


“Kenapa, Sayang?” Karena tidak sabar, Juwi akhirnya bertanya. “Oh, ya. Hubungan kalian sudah baikan, kan?”


Mendesah lelah, Hassan lalu membuang muka ke arah lain. “Mas Asa sudah beberapa hari ini mendiamkan umma,” ceritanya dengan wajah bersalah.


Juwi yang melihat wajah bersalah Hassan menjadi tidak tega. Tangannya mengusap surai pendek milik si anak penuh perhatian. “Ini sudah lebih dari dua minggu, loh, Sayang. Kenapa belum mau memaafkan umma?”


Hassan mendesah berat. “Aku merasa abi semakin sayang dengan adek, sedangkan padaku menjadi cuek. Mas Asa juga ingin disayang seperti dulu,” ucapnya penuh harap.

__ADS_1


Juwi lalu memeluk tubuh Hassan ke dalam dekapannya. Dia mengusap punggung ringkih anak tersebut, kemudian mengecup puncak kepalanya penuh sayang. Dia sendiri yang begitu sayang dengan anak kecil menjadi tidak tega.


“Mungkin saja abinya Mas Asa tidak sengaja melakukan itu,” ujarnya memberi pengertian. Namun, Hassan justru menggeleng.


“Gak, Tante. Abi memang sudah berubah. Kasih sayang yang dulu sepenuhnya buatku, menjadi terbagi dan aku gak suka,” bantah Hassan, kekeh dengan pendiriannya.


Juwi pun akhirnya hanya bisa memberikan usapan, sentuhan lembut, hingga perhatian yang mungkin saja sudah lama tidak dirasakan oleh Hassan. “Kalau begitu, biarkan Tante Juwi saja yang menggantikan mereka. Tante pasti akan memberikan perhatian dan kasih sayang penuh untuk Mas Asa.”


“Apa Mas Asa mau?”


“Mas Asa.”


Hassan menoleh ke arah depan. Dia menemukan seorang lelaki berpakaian koko, serta celana panjang, minus peci. Kemungkinan pria tersebut datang untuk menjemputnya, lalu setelah itu lanjut pergi ke Masjid untuk shalat jumat berjamaah.


“Abi.”


Juwi lantas melepaskan rangkulan di bahu Hassan, kemudian berdiri untuk memberi salam. Namun, pria yang diketahui bernama Aiman justru hanya menunduk pelan, tanpa membalas senyumnya.


Aiman sendiri lalu mengulurkan tangan di depan Hassan dan setelah itu mereka pun pergi menuju mobil di mana sang ayah parkir. Dia sempat melirik ke arah perempuan yang masih berdiri di tempat yang sama, tetapi hanya sebentar.


Juwi tersenyum lebar saat melihat Hassan membuka jendela mobilnya. Dia melambaikan tangan dengan riang setelah mobil itu melaju meninggalkannya sendirian. Senyum yang tadi sempat menghiasi wajahnya, kini menghilang tanpa jejak.


***


“Tadi siapa?”


“Tante Juwi.”


“Apa kamu sudah mengenalnya lama?”


Diam. Hassan yang ditanya pun hanya terdiam membisu. Membuah wajah ke arah luar seolah-olah tidak ingin berbicara banyak dengan sang ayah. Suasana di mobil itu pun berubah hening.


Aiman sendiri sudah berulang kali memancing Hassan untuk berbicara, tetapi anak tersebut justru berpura-pura tuli. Suasana canggung ini sudah terjadi beberapa hari yang lalu sampai hari ini. Sebagai ayah, tentu saja ia tidak mau berlama-lama saling diam dengan sang anak.


Bukan tidak pernah mencoba untuk mengajak si anak untuk berbaikan, melainkan sering, bahkan setiap hari, jam, menit, detik. Akan tetapi, sifat keras kepala yang diturunkan oleh nya kepada Hassan justru menjadi bumerang sendiri untuknya.


“Mas Asa. Apa kamu masih masih dengan Abi?” tanya Aiman yang sedang menyetir. Matanya pun berulang kali mencuri tatap kepada sang buah hati, tetapi sama saja. Tidak berhasil.

__ADS_1


“Abi,” panggil Hassan setelah lama menutup mulut.


“Iya, Sayang. Mas Asa mau tanya apa?”


Aiman sudah harap-harap cemas, menunggu akan kata apa yang akan terucap dari mulut mungil Hassan. Dia bahkan tanpa sadar memegang setir dengan begitu erat karena terlalu gugup.


“Kenapa abi menikah lagi, sih?”


Pupil matanya seketika melebar. Terkejut dengan pertanyaan sang buah hati yang terlalu random. Aiman sudah menduga jika diamnya Hassan pasti berhubungan dengan istri, serta anak bontotnya dari Fatimah.


“Sebelum abi menjawab pertanyaanmu … Abi ingin bertanya dulu pada Mas Asa. Apa boleh?” Aiman harus bisa memberi contoh yang baik kepada si anak. Dia juga sedikit tidak suka dengan sikap yang diambil oleh Hassan.


Hassan mengangguk.


Aiman pun mencoba menarik napas, lalu membuangnya dari hidung. “Apa ada yang mempengaruhimu?”


“Apa, Bi?” Hassan inilah masih tetap anak kecil. Jadi, wajar saja ia belum mengerti akan maksud dari pertanyaan sang ayah. “Mas Asa gak ngerti.”


“Jadi gini, apa selama beberapa bulan ini ada orang asing yang mencoba mendekati Mas Asa? Terus, mengatakan hal yang tidak-tidak tentang umma?” tanya Aiman langsung.


Si anak pun kembali diam. Dia menggigit bibir bawahnya ragu. Hassan juga tengah berpikir, mencari orang yang dimaksud. “Tante Juwi,” jawabnya setelah lama berpikir.


Aiman lalu mengingat akan wanita yang baru saja menemani anaknya di halte. Dia terdiam, mencoba mengingat akan paras wanita berhijab tadi. Akan tetapi, ingatan itu terasa berbayang karena tak terlalu memperhatikan paras orang tersebut.


“Abi tidak berniat melarang Mas Asa untuk berteman, maupun bergaul dengan siapa pun. Tetapi, yang perlu diingat oleh Mas Asa adalah jika ada orang asing yang mencoba mendekat, apalagi dengan tujuan menghasut lebih baik jauhi!” ujar Aiman.


Namun, Hassan justru mendengkus.


“Apa Mas Asa baru saja mendengkus pada abi?” Aiman tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh anak sulungnya. “Abi sama sekali tidak pernah mengajarkan Mas Asa untuk bersikap tidak sopan. Minta maaf!”


“Minta maaf, Abi,” ujarnya ogah-ogahan.


“Minta maaf yang betul!” balas Aiman yang tahu jika permintaaan maaf sang anak tidaklah dari hati.


“Apa, sih, Bi? Mas Asa, kan, udah minta maaf. Kenapa malah diperpanjang, sih?”


“Siapa yang mengajarimu bersikap seperti itu?”

__ADS_1


“Gak ada,” balasnya cuek.


“Mas Asa!” sentak Aiman dengan mata menyorot dingin kepada anaknya. Yang lagi-lagi justru melengos pergi begitu saja.


__ADS_2