
Jangan marah, apalagi merasa Tuhan tidak peduli padamu. Karena sejatinya, Dia jauh lebih tahu apa yang kaumnya butuhkan daripada yang diinginkan oleh manusia itu sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tidak apa jika dirimu keluar dari sana, Bi. Semua keputusan ada ditanganmu. Aku hanya akan memberikan dukungan dan doa di setiap langkah yang akan kamu pijaki."
"Ummaya, kenapa kamu begitu mulia sekali?"
Fatimah menggenggam tangan suaminya, lalu diusap secara perlahan. "Kita semua hidup karena Allah, mati pun juga karena takdir Allah. Rezeki pun sama. Jadi, Abi gak perlu merasa bersalah kepada kami. Insya Allah, pasti nanti akan ada jalan keluarnya."
"Iya, Man. Kamu sudah benar mengambil keputusan itu. Percuma naik pangkat jika ternyata harus menyogok orang dalam,” sahut Siti tiba-tiba. Dia yang baru saja duduk setelah mengambilkan jamu di dapur pun ikut nimbrung dengan pembicaraan dari anak, serta menantunya.
“Mereka tidak tahu saja, kalau itu semua juga butuh pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Kasihan juga pada anak, serta cucunya karena sudah diberi makan dari uang haram," lanjur Siti berapi-api.
Fatimah tersenyum kecil saat melihat sang mertua begitu bersemangat saat mengomentari atasan dari suaminya. Dirinya dulu memang sempat mendengar selentingan kabar tersebut. Namun, wanita itu masa bodo dan hanya menganggap angin lalu.
Sikap si kepsek kepada dirinya memang tidak terlalu kentara pilih kasih selama menjadi guru di sana. Akan tetapi, perbedaan tetap bisa ia rasakan dengan mereka-mereka yang suka menjilat pria tua itu.
"Bukankah begitu, Fa?" tanya Siti saat melihat wajah sang menantu yang tengah melamun.
“Maaf, Ibu ngomong apa?” tanyanya sedikit salah tingklah ketika ketahuan sedang melamun.
“Itu, loh, Nak. Masalah atasan kalian yang suka memanfaatkan jabatannya,” ulang Siti masih antusias dengan topik pembicaraan mereka.
"Oh, untuk masalah itu memang sebenarnya Fatimah sudah lama mendengarnya, Bu. Makanya waktu Mas Iman bertanya tentang keaktifanku dalam mengajar, aku langsung memilih mundur dan fokus menjadi ibu rumah tangga saja," balas wanita itu tersenyum malu.
"Bagus, Nak. Ibu mendukung keputusanmu. Tapi, sebenarnya ibu, sih, gak pernah memaksa kalian buat memilih. Toh, semua keputusan ada di tangan kalian berdua. Aku juga merasa tak keberatan jika harus mengurusi Hassan. Ibu justru bingung kalau gak ada kalian," ungkapnya jujur.
__ADS_1
Fatimah lalu berdiri untuk mendekati kursi sang mertua. Ia genggam tangan wanita yangs udah dianggapnya sebagai ibu sendiri dengan lembut. "Bukankah akan lebih mudah jika ibu tinggal bersama kami? Bukankah begitu, Bi?" tanyanya meminta persetujuan dari sang suami.
Aiman yang kini duduk sendiri, tersenyum mendengar usulan dari Fatimah. Dia sudah lama meminta Siti untuk tinggal bersama mereka. Namun, wanita paruh baya tersebut selalu menolak dengan alasan tak ada yang menempati rumah peninggalan sang suami.
“Benar kata Fatimah, Bu. Bukankah Iman juga sudah sering mengajak ibu untuk tinggal di sini? Tapi, ibu malah gak mau. Lagipula, sebentar lagi istriku akan melahirkan. Jadi, dengan adanya ibu di sini pasti akan berarti buat kami,” sahut Aiman lembut.
“Tapi, Iman gak bakalan maksa, sih. Semua keputusan ada di tangan ibu,” lanjut pria itu.
“Tapi, ibu cuma gak enak sama Nak Fatimah,” akunya jujur.
“Loh, kenapa saya, Bu? Apa selama ini Fatimah sudah melukai perasaan ibu?” tanya wanita itu kaget.
Aiman pun menunggu kelanjutan ucapan dari ibunya dengan harap-harap cemas.
“Aduh, ibu jadi malu ngomongnya.” Kedua manik coklat itu sedikit mengintip malu dari balik bulu mata lentiknya.
“Iya, Bu. Fatimah janji akan merubah sikap jika memang ada yang tidak ibu sukai,” sahutnya dengan perasaan tidak enak.
Selama ini dia sudah berusaha menjadi menantu yang baik untuk keluarga Baseer. Namun, jika ada hal yang mungkin kurang berkenan di hati mereka, ia tentu akan berusaha sebisa mungkin untuk memperbaikinya.
Siti langsung melambaikan tangannya panik. “Bukan begitu, Sayang!” ujarnya cepat, ia tidak mau membuat sang menantu salah paham. Maka dari itu, ia mencoba menjelaskan.
“Sebenarnya beberapa waktu lalu, ibu menonton sinetron di tv untuk membunuh kebosanan saat di rumah. Tapi, ternyata jalan ceritanya cukup membuat ibu merasa takut, sekaligus ngeri karena banyak sekali percekcokan antara menantu dengan menantu ketika tinggal bersama,” aku wanita paruh baya itu jujur dengan wajah tertunduk malu.
Seketika ruang tamu itu berubah hening. Kedua orang muda di sana saling menatap satu sama lain, lalu tersenyum kaku.
Si pria mengurut kening saat mendengar alasan dibalik penolakan ibunya untuk tinggal bersama dengan mereka.
__ADS_1
Pria itu bahkan bingung harus bereaksi apa. “Jadi, ibu bimbang dan ragu hanya karena setelah menonton acara di tv?” tanya Aiman sekali lagi.
Siti mengangguk malu.
Fatimah yang sudah sadar dari keterkejutannya segera memeluk sang ibu mertua. Dia menyandarkan kepala di bahu Siti dengan sayang. “Bu, Fatimah sudah menganggap ibu sebagai orang tuaku sendiri. Justru, aku yang harusnya berterima kasih kepadamu karena telah melahirkan, merawat, dan membesarkan Mas Iman hingga menjadi seperti ini.”
“Jika bukan karena didikan kalian, Mas Iman pasti tidak akan seperti ini. Menjadi orang yang sholeh, baik, serta penyayang. Terima kasih, karena telah mengizinkan Fatimah menjadi bagian dari keluarga kalian,” ucapnya tulus dan penuh rasa syukur.
Siti yang mendengar isi hati sang menantu ikut terharu mendengarnya. Ia pun tidak menyangka akan memiliki anak sholeh seperti Aiman. Semua karena didikan dari sosok tegas Baseer dulu, terhadap anaknya tentang agama.
Mengingat itu, membuat Siti menjadi sedih. Rasa rindunya terhadap sang suami membuat ia meneteskan air mata, lalu tangannya membawa tubuh Fatimah ke dalam pelukan.
“Ibu benar-benar beruntung memiliki kamu sebagai menantuku, Sayang. Maafkan atas ucapanku tadi jika itu membuatmu tersinggung. Hanya saja …,” jedanya sedikit salah tingkah.
Fatimah menggeleng dalam pelukan sang mertua. “Gak apa-apa, Bu. Namanya hidup, pasti ada bosen dan juga butuh hiburan. Jadi, wajar saja jika ibu menonton acara tersebut. Tapi, tidak semua mertua dan menantu selalu berselisih, lho.”
“Lagian, bukankah kita ini pasangan menantu dan mertua yang kompak?” tanya Fatimah, sembari menghapus air mata yang membasahi wajah ibu mertuanya dengan senyum lebar.
Siti dengan cepat mengangguk, lalu mengecup puncak kepala Fatimah lama. “Kamu benar, Sayang. Kita ini, kan, mertua dan menantu yang kompak," angguknya setuju.
Dua wanita itu pun kemudian tertawa bersama sampai melupakan fakta jika di sana masih ada satu orang lagi, yaitu Aiman. Pria tersebut menatap istri, serta sang ibu dengan pandangan cemburu.
“Kenapa kalian meninggalkanku sendiri?”
“Diamlah! Kau mengganggu kemesraan kami saja!” tukas Siti acuh.
Aiman melongo karena merasa diabaikan oleh ibunya sendiri yang terlihat begitu sayang dengan si menantu. “Dasar pilih kasih!” cibirnya, lalu pergi menuju kamar.
__ADS_1
“Aku juga mau dipeluk, Ya Allah!” teriak Aiman tiba-tiba hingga membuat Fatimah dan Siti saling melirik satu sama lain, lalu mereka terkikik bersama di belakang pria tersebut.