
Tiga hari ini Maya selalu bola-balik rumah sakit untuk menemani Riko yang tengah dirawat. Dokter sengaja meminta pria itu untuk bedrest dari segala aktivitas yang selama ini membebaninya. Ini semua dilakukan atas permintaan dari orang tua si pasien. Itu pun tanpa sepengetahuan dari siapa pun.
Selain itu, pihak keluarga juga ingin dokter sekaligus mengawasi kesehatan Riko yang ternyata beberapa hari ini bekerja terlalu berlebihan hingga lupa untuk istirahat. Kini, setelah kondisinya membaik barulah diizinkan pulang ke rumah.
Maya sendiri tidak full dalam menjaga Riko karena dia juga memiliki tugas di divisinya. Beruntung atasannya tidak mempermasalahkan keabsenan wanita itu saat acara makan-makan kemarin. Jika tidak, mungkin ia kini sudah berada di dalam sebuah ruangan yang pengap nan gelap untuk menyelesaikan sebuah misi.
Hanya ketika wanita itu selesai bekerja sajalah baru datang berkunjung. Seperti sekarang, Maya tengah memasukkan barang-barang pemberian dari rekan kerja Riko ke dalam satu tas. Untuk buah-buahan ia sudah meminta supir untuk dibawa ke dalam mobil terlebih dahulu. Kini yang tersisa hanya pakaian kotor, serta selimut.
“Kutil,” panggil Riko yang mulai bosan karena diabaikan. Dia kini memilih berdiri tegak di belakang Maya yang sama sekali belum juga membuka suara sejak setengah jam yang lalu.
“Apa?” Maya menimpali tanpa mau menoleh. Dirinya tengah sibuk untuk beberes. Jadi, tidak bisa diganggu.
“Kutil!”
Rengekan itu begitu menggelikan di gendang telinga Maya sehingga membuat wanita itu pun menoleh. Tatapannya begitu malas dan ingin sekali segera keluar dari tempat berbau obat ini. “Apa, sih, Badak? Gak usah bikin emosi, deh!”
Bibir pria itu pun mengerucut.
“Gak usah kayak gitu, deh! Jijik banget aku lihatnya!” Kembali Maya melontarkan ucapan pedas kepada Riko yang semakin menatap wanita di depannya dengan cemberut.
“Kamu udah gak sayang, ya, sama aku?”
Mata itu langsung memicing tajam. Dengkusan pun tak terelakan. “Situ sehat?” tanya Maya.
__ADS_1
Riko yang kesal karena sikap Maya yang kembali dingin, serta sarkas itu pun kesal. Tangannya menarik lengan kanan wanita tersebut, lalu digoyangkan seperti anak kecil yang minta dibelikan permen kepada ibunya. Namun, ada satu hal yang berubah dalam diri Maya, yaitu tidak menolak setiap skinship yang dilakukan oleh Riko.
“Entah kenapa aku lebih suka diriku yang sakit daripada sekarang,” ujar Riko manja, sembari menatap wajah Maya yang terlihat menyeringai setelah ia menyelesaikan ucapannya.
“Ati-ati, nanti sama malaikat dicatat omongan kamu baru tahu rasa!” balas Maya dengan begitu santai, tetapi mengandung ejekan.
“Amit-amit jabang bayi!” Riko menggetok kepalanya beberapa kali secara pelan, lalu ke arah besi ranjang tempat ia tidur selama dua hari ini. “Jangan gitu ngapa, Mayong! Emang kamu senang, ya, kalau lihat diriku yang tampan paripurna ini masuk rumah sakit lagi?”
Maya mendengkus geli. Tanpa mau menjawab ucapan Riko, dirinya kembali membalikkan tubuh untuk menyelesaikan merapikan bawaan si pasien. Mau-maunya aku bantuin itu orang buat ngelakuin ini. Sebenarnya dibayar berapa, sih, aku?
Sepanjang sisa hari itu pun Riko tidak menegur Maya, bahkan dalam perjalanan menuju ke rumahnya saja tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut. Berharap jika dengan dia diam, wanita cantik di sampingnya mau menegur terlebih dahulu. Tapi, nyatanya justru ia yang kelojotan karena bibir terasa gatal ingin mengoceh.
Perjalanan rumah sakit menuju rumah pun terasa lama sekali. Riko yang duduk di samping kemudi pun sudah gusar hingga membuat Maya yang tengah menyetir menoleh, tetapi dalam sepersekian detik mata itu sudah kembali fokus menatap jalanan di depan.
Frustasi. Akhirnya Riko pun membuka mulut. Namun, baru juga mangap, dia sudah mengatupkannya lagi. S14l! Kenapa ini sulit sekali? Asli, ini bibir udah gatel banget pengin ngoceh sedari tadi. Tapi, ini perempuan disebelah, kok, ya, bisa tahan gak ngomong.
“Hah? Apa?” Riko sudah seperti orang dungu karena belum mengerti maksud dari ucapan wanita di sampingnya.
Maya menghela napas kasar karena ternyata Riko tidak mengerti maksud dari perintah yang ia ucapkan. Dengan menahan emosi, seat belt ia lepas, lalu keluar dari mobil untuk menarik pagar tinggi bercat hitam yang menghalangi mobil masuk ke dalam rumah.
“Aish! Kenapa aku menjadi bodoh seperti ini, sih? Aku yakin Maya pasti semakin ilfill sama diriku,” rutuk Riko saat melihat Maya yang sudah berhasil membuka pintu gerbang rumahnya.
Dia terus memandangi raut wajah Maya yang kini sudah kembali duduk di kursi kemudi dengan pandangan penuh sesal dan rasa bersalah. “Kutil, maafkan aku! Otakku sepertinya masih lola karena keberadaanmu di sisiku,” ujarnya membela diri.
__ADS_1
“Udah mending kamu diem aja! Percuma juga ngobrol jika otakmu masih sakit.” Wajah wanita itumenatap penuh cemooh ke arah Riko. Bukan apa, melainkan Maya sudah terlalu malas untuk berdebat hal tidak berguna yang justru menambah beban di dalam hidupnya.
Riko pun memilih diam. Ini, sih, namanya senjata makan tuan. Berharap sama itu perempuan memang menyakitkan. Apalagi yang modelnya kaya ono. Untung stok sabarku masih banyak. Coba kalau gak, udah aku usir ini orang dari rumahku!
“Orang tua kamu ke mana? Kenapa sedari kamu dirawat tidak menemani?” Maya yang menyadari jika rumah di depannya ini begitu sepi, lalu menoleh ke arah pria yang tengah menunduk di samping mobil. Dia memutuskan untuk memarkirkan mobil milik Riko di depan garasi. "Ini beneran rumah kamu, kan?"
Pria itu mendongak untuk melihat pintu utama yang masih terkunci rapat, lalu mengangguk tanpa semangat. Desah napas berat pun terembus dari hidung Riko. “Mereka lagi di Singapore. Lagian, aku juga gak ngasih tahu mereka kemarin. Toh, percuma. Gak akan datang juga,” jawabnya lesu.
“Jadi, kamu masih punya orang tua?” Maya menarik lengan Riko yang sedari tadi justru sibuk menatap rumput gajah yang tengah mereka injak.
Riko pun menoleh saat mendengar nada terkejut keluar dari bibir Maya. “Kenapa wajahmu seperti baru saja melihat hantu? Apa aneh jika aku masih memiliki orang tua?” tanyanya sarkas. Kesal sekali dirinya karena merasa diabaikan.
Maya menggeleng. “Bukan. Bukan seperti itu!” Wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya ragu. Jika benar orang tua Riko sedang di Singapore, berarti desas-desus yang selama ini berseliweran tentang identitas keluarga pria ini benar adanya.
“Lalu, kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Riko, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Mode merajuk tengah disetel oleh pria tersebut.
Maya melipat bibirnya ke dalam. Ragu untuk bertanya, tetapi jika tidak sekarang kapan lagi. “Apa kamu anak dari Jenderal Laksamana Agung?” tanyanya dengan hati-hati.
Riko terdiam beberapa saat. Namun dalam sekejap senyum pun terulas. “Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya, “eh, jangan bilang kalau selama ini dirimu sudah men-stalking diriku yang paripurna ini?”
"Jadi benar?" Tubuh Maya hampir limbung saat mendengar jawaban Riko yang begitu santai. Jadi, selama ini yang deketin aku itu anak Jenderal Polisi? Wanita itu ingin sekali menenggelamkan tubuhnya ke dasar inti bumi hingga tidak terlihat lagi oleh siapa pun. Mati aku! Pantas saja selama ini dia begitu santai ketika bertemu dengan Jenderal Agung.
“Kutil, kenapa wajahmu pucat sekali? Ap–” Riko menghentikan ucapannya karena ada seseorang yang tiba-tiba datang dan memotong perkataan pria tersebut.
__ADS_1
“Loh, ada tamu. Kenapa gak disuruh masuk, Nak?”
Suara lembut seorang wanita menyapa gendang telinga Maya dan juga Riko. Ditemani seorang pria gagah yang juga tengah tersenyum ramah kepada tamu dari anak mereka. “Bukankah kamu anggota dari Bagio?”