Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 137


__ADS_3

Fatimah terus membantu membersihkan sisa makanan yang ada di samping mulut Khumaira. Siang ini dia baru saja makan MPASI. Si kecil terlihat bahagia karena sudah mendapatkan energi untuk dirinya berceloteh ala baby menggemaskan.


Maya sendiri yang sedang bermain di rumah Fatimah pun hanya bisa melihat dengan malas-malasan. “Fa,” panggilnya setelah melihat keponakan bermain sendiri.


“Apa? Kamu udah bosan hidup?” tanya Fatimah sarkas.


“Ckckck, sepertinya mulutmu semakin ke sini, semakin ke sana, deh, Fa. Atau, remnya sudah blong?” Mata itu menatap dingin sang sahabat. Dia datang ke sini, bukan semata-mata ingin berleha-leha, melainkan dengan maksud lain.


“Lagian tiap kamu ke sini itu bisanya cuma curhat masalah yang sama terus. ‘Kan, aku sebagai manusia yang kadang suka malas, ya, bosan boleh, dong?”


“Ya, gak usah jujur banget ngapa jadi orang,” sindir Maya dengan sikap Fatimah yang terlalu apa adanya.


“Jujur itu adalah nama belakangku. Jadi, sulit untukku membuangnya. Oh, iya. Kamu ke sini sama siapa? Bukankah pacarmu yang kaya raya itu lagi ada tugas ke Bandung?” Fatimah memang tadi tidak sempat melongok dengan siapa si teman datang karena sedang mengurus si buah hati.


“Aku dianterin sama pacar sejuta umat.”


“Hah? Emang ada?”


Kedua bola mata Fatimah berotasi dengan malasnya. Sungguh, jika dia boleh menukar temannya dengan apa pun, mungkin sudah sedari dulu ia lakukan. Akan tetapi, berhubung dia begitu sayang dan cinta pada emak anak satu itu pun akhirnya milih ngalah saja.


“Gak usah berlagak bege, deh, Fah. Atau, kamu mau aku menelpon suamimu yang udah lama gak pulang-pulang, hah?”


Fatimah justru tersenyum senang. “Boleh. Kalau begitu sekalian titip bilang ke laki akoh, nanti bawain nasi goreng spesial buat umma tercinta,” usulnya dengan senyum begitu lebar.


“Lah, malah nawar lagi. Ogah, gak jadilah aku. Mending tidur aja ketahuan enak.”


Setelah itu mereka pun terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa berniat mengajak mengobrol. Fatimah sendiri kini sedang menidurkan Khumaira di atas ranjang. Terlihat mata sayu si kecil yang sudah mulai menutup sedikit demi sedikit.


Maya sendiri sedang membuka sosial medianya. Akun yang sudah lama tak pernah tersentuh hingga beberapa kali mendapatkan notifikasi dari si pemilik platform untuk mengupdate sebuah momen yang membahagiakan. Namun, itu sama sekali tak membuatnya tergugah.

__ADS_1


"Aku ingin memeluk bulan."


Fatimah menatap sang sahabat dengan pandangan horor. Gak ada angin, gak ada hujan, Maya justru mengucapkan hal yang di luar nalar manusia. Namun, jika manusianya seperti Maya Putri Gading itu bukanlah hal yang aneh. “Gak usah mulai, deh, May!"


"Fati, kamu tahu, kan, kalau hidupku itu seperti permen nano-nano. Yang kadang ada manisnya, asam, asin, bahkan pedas,” ucap Maya sambil menumpukan kepalanya di atas lengan.


“Terus?”


“Menurutmu, kira-kira aku bisa hidup bahagia gak, sih?" tanya Maya dengan mimik serius. Tidak ada candaan, apalagi guyonan belaka.


Fatimah terdiam beberapa saat. Dia melihat wajah Maya dengan pandangan lurus. Dia sendiri juga pernah merasa dalam posisi seperti sang sahabat. Di mana dunia terasa begitu tidak adil untuk dirinya.


Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ia pun sadar jika namanya hidup itu memang tidak selamanya lurus, pasti ada saat di mana mereka harus berbelok. Manis, tidak selamanya manis, pahit tidak juga selalu pahit.


Semua rasa itu, suatu saat justru akan menjadi sebuah kenangan. Pembelajaran diri agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, apalagi terjerumus di lubang itu lagi. Jika sampai itu terjadi, berarti manusia tersebut tidak pernah belajar dari pengalaman, atau memang mereka sudah kebal? Entahlah.


"Aku bukan Tuhan, May. Tapi setiap kebahagiaan, kesakitan yang dirasakan oleh insan itu sudah ditakar oleh Sang Pencipta. Jadi, kita sebagai umat hanya bisa berusaha dan berikhtiar,” balasnya dengan bijak.


Kini, setelah datang Riko di dalam hidupnya membuat ia harus membuka mata lebar-lebar. Hidup itu tidak selalu berpusat pada masa lalu. Pria itu mengajarkan banyak hal tentang hidup. Namun, wanita itu sendiri juga tidak tahu harus membalas dengan apa kepada sang kekasih.


"Aamiin. Semoga Allah juga mengaminkan ucapanmu. Aih, kenapa kita malah jadi ngelantur gak jelas kayak gitu, sih, May. Oh, ya, aku ingin cerita." Fatimah menjadi teringat sesuatu hal yang perlu dia bahas bersama dengan sang sahabat.


Beberapa hari ini rasa itu semakin hari, semakin mengganjal. Jadi, dia butuh seseorang untuk membantunya keluar dari perasaan tersebut. Aiman pun sudah pernah diajak membahas hal tersebut bersama-sama. Akan tetapi, si suami justru memintanya untuk melupakan.


Namanya perempuan itu memiliki perasaan yang sensitif. Tidak mudah bagi dirinya untuk melupakan hal yang sudah mengganggu hati, serta pikiran, apalagi ini adalah hubungan keluarga. Tidak mungkin diabaikan begitu saja.


"Cerita apa?" Sepertinya mood Maya sudah jauh lebih baik. Dia sendiri meminta Fatimah untuk duduk di sofa panjang yang ada di luar. Akan terasa sungkan jika berlama-lama di kamar milik pasangan suami istri.


Setelah mereka sampai di ruang tengah, Fatimah meminta Maya untuk duduk terlebih dahulu, sedangkan ia mengambil minuman, serta makanan untuk si tamu. Si pemilik rumah hampir lupa menyajikan makanan karena sibuk menidurkan sang buah hati.

__ADS_1


“Terima kasih.” Maya menerima jus jeruk yang memang dibuat khusus oleh Fatimah untuknya. “Ini kamu bikin sendiri? Atau, beli di mamang-mamang depan komplek?”


“Dih. Bikin sendirilah!”


“Yaelah, gak usah ngegas juga kali. Akoh, kan, nanya nya baik-baik aja. Ngapa situ jawabnya nyolot banget,” cibir Maya, lalu meminum jus jeruk buatan si teman dengan riang. Ya, wanita itu memang pecinta rasa asam, manis, dan pahitnya kopi.


Fatimah tak menggubris cibiran si teman. Pantatnya sudah didudukkan di atas sofa panjang yang sama dengan Maya. Wajah ayu tersebut terlihat tak bersemangat setelah mengingat akan masalah yang tengah melanda hatinya. "Ini tentang sifat Mas Asa."


"Asa kenapa?”


"Beberapa hari yang lalu, anak sulungku marah kepada kami."


"Wow, ada apa ini? Tidak biasanya si anak tampan itu merajuk. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" Maya tentu saja syok dengan apa yang baru didengar. Yang ia tahu, Hassan adalah anaknya yang pendiam, tetapi juga ramah, dan hangat.


Jadi, tidak mungkin tidak ada api, jika tak ada yang menyulutnya.


"Nah, itu yang sedang ingin aku ceritakan, May.”


"Katakan saja! Mungkin aku bisa membantumu."


Fatimah pun mulia menceritakan apa yang terjadi beberapa saat lalu di rumah mereka. Dari Aiman yang sedang memanjakan Khumaira, lalu Hassan cemburu karena mengira sang ayah lebih sayang kepada si bontot.


“Lalu sekarang bagaimana? Apa Asa masih ngambek sama kalian?” tanya Maya setelah si teman selesai berbicara.


Fatimah menghapus air mata yang tiba-tiba menerobos keluar dari pelupuk matanya. Dia mencoba menutupi kesedihan itu dengan tertawa, tetapi Maya tidak bodoh untuk merasakan perasaan terluka di dalam hati sang sahabat.


Telapak tangan itu mengusap bahu si teman. “Kamu boleh nangis, Fa. Ingat, kamu itu juga manusia. Makhluk yang punya rasa dan punya hati. Jadi, daripada dipendam, bukankah akan lebih melegakan jika kau tumpahkan sekarang?”


Fatimah langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan itu semakin ke sini semakin keras. Berubah menjadi raungan menyayat hati.

__ADS_1


“Mas Asa sedikit menjauh dariku, May. Dia bahkan menatapku seperti diriku ini adalah orang jahat yang sudah mencuri barang berharga miliknya. A-aku gak tau harus gimana, May,” ujarnya diiringi isak tangis.”


“Pasti ada seseorang yang sudah mempengaruhinya. Tapi, siapa?”


__ADS_2