Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 115


__ADS_3

Seorang dokter keluar dari pintu ruangan yang sedari tadi tertutup. Dia lalu tersenyum kecil kepada beberapa orang dewasa yang tengah berdiri tegang di depannya. Pria berusia di atas 40 tahun tersebut, lalu mencari seseorang yang sedari tadi dicarinya.


"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" Raja tidak dapat menutupi perasaan cemas yang tengah menggelayuti tubuhnya.


"Dok, Bang Riko gimana?" Devi ikut bertanya karena dokter itu justru sibuk melihat ke arah lain daripada mereka yang tengah menunggu jawaban.


Dokter ber-name tag Dr.Charly itu lalu tersenyum kecil ke arah seorang wanita yang hanya berdiri diam di pelukan Fatimah. Dia jelas melihat jika wanita itulah yang menemani si pasien sedari awal. Maka dari itu, ia pun angkat bicara.


"Apa Anda keluarga dari pasien?" tanya Dokter Charly to the point kepada Maya.


"Mau, dokter bicara sama kamu!" Fatimah menepuk bahu Maya yang sedari tadi hanya menunduk.


Jelas terlihat jika Maya tengah cemas, serta frustasi karena menunggu kejelasan tentang keadaan Riko. Wanita itu pun mendongak dan menemukan pria yang baru saja menangani pasiennya.


“Bagaimana keadaan teman saya, Dok?” tanyanya dengan bibir gemetar. Tangannya sudah ditautkan dengan Fatimah seolah ia sedang meminta kekuatan kepada di teman.


Mungkin orang akan menganggapnya lebay, padahal pasien yang ada di dalam rumah sakit itu saja hanya pingsan, bukan mati. Namun, jelas berbeda jika hal tersebut menyangkut hidup Riko.


“Teman Anda keadaannya sudah lebih baik. Dia juga sudah sadar dan ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Maya. Apa benar itu Anda?” Dokter Charly langsung yakin jika wanita di depannyalah orang yang sedang dicari oleh si pasien.

__ADS_1


Benar saja. Wanita itu mengangguk dan berucap syukur karena Riko kini telah sadar. Dia berniat masuk, tetapi Fatimah lebih dulu menahannya. “Ada apa, Fa?”


“Sebentar, Dok. Saya ingin berbicara dengan teman saya dulu. Apa boleh?” tanya Fatimah sopan.


“Silahkan, Nona!”


Setelah mendapatkan izin, Fatimah lalu membawa tubuh Maya menjauh dari rekan kerja Riko yang kini tengah mencecar dokter untuk menanyakan keadaan pasien. Dia mengusap bahu si teman, meminta perhatian karena mata itu terus saja memandang ke arah ruangan pria tersebut.


“May,” panggil Fatimah.


“Hm, Kenapa, Fa?”


Fatimah tersenyum maklum jika Maya tidak memperhatikannya. “Ikuti kata hati kamu, May. Jangan pernah takut untuk memulai! Percayalah, jika ketentuan Allah itu adil! Tidak mungkin Dia menyesatkan umatNya ke dalam jurang yang sama seperti apa yang pernah dialami oleh kedua orang tuamu.”


“Aku memang sudah bodoh karena tenggelam di dalam jerat masa laluku sendiri, Fa. Dia memang berbeda dengan pria brengsek itu! Aku juga bukan wanita tak bertanggung jawab seperti ibuku. Aku akan mencoba untuk membuka hati untuk Riko,” ujarnya tersenyum malu.


“Alhamdulillah. Aku akan mendukung apa pun keputusan kamu, May. Insya Allah Mas Riko itu lelaki yang baik.” Tangan Fatimah kembali menepuk bahu si teman, lalu setelah itu melihat ke arah jam tangannya. “Kalau begitu aku pulang duluan yah, May. Gak enak sama suami ditinggal sama anak-anak terlalu lama.”


“Iya, Fa. Makasih, yah, dan maaf juga karena sudah membuatmu menjadi bolak-baklik seperti ini.” Maya berucap tulus dan penuh sesal.

__ADS_1


***


“Sus, Maya ke mana? Kenapa dia belum juga masuk ke sini?” Riko bertanya dengan suara lemah.


“Sebentar biar saya panggilkan lagi, Tuan.” Suster hendak berjalan keluar, tetapi pintu itu sudah leih dulu terbuka dari luar dan pelakunya adalah orang yang sedari tadi sudah ditunggu-tunggu oleh si pasien.


“Permisi, Sus.” Maya tersenyum kecil saat tidak senagja berpapasan dengan asisten dari dokter tersebut.


“Mbak ini, Mbak Maya?”


Wanita itu pun mengangguk canggung.


“Owalah, itu Masnya sedari tadi udah nungguin!” Beritahu si suster, sambil menunjuk kepada lelaki yang kini tenagh tersenyum pucat di atas ranjang rumah sakit.


“Hai!” Tangan yang tidka dipasang infus itu kini diangkat untuk menyapa Maya.


Maya hanya menunduk malu saat gelenyar aneh kembali menyapa hatinya saat melihat senyum Riko. Dia mengalihkan pandangan saat si suter izin untuk pergi ke luar untuk mengecek pasien lain.


Kini, di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Riko yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan dari wajah yangf terlihat kuyu, sedangkan si Maya justru belum beranjak dari temoat ia berdiri sedari tadi.

__ADS_1


“Apa kamu gak mau menemaniku di sini?” Riko memecah hening yang sangat ia benci jika sedang berdua dengan orang yang ia cintai.


Maya mengembuskan napasnya pelan, tetapi kaki itu tetap melangkah mendekat ke atas ranjang pasien. Tangannya mengepal kuat di kedua sisi tubuhnya. “Maaf … maafkan a-ku!” ucapnya bergetar menahan tangis.


__ADS_2