
Fatimah masuk ke dalam rumah setelah memberi salam. Dia masih asyik menggandeng anak pertama dari suaminya, serta si kecil–Khumaira di dalam gendongan.
"Umma, besok kita main ke rumah nenek lagi, yah? Di sana seru. Banyak mainannya," oceh si buah hati yang pertama dengan riang gembira.
"Mas Asa senang?" tanya si ibu sambung, sambil tetap menggoyangkan satu tangan mereka.
"Oh. Pokoknya besok kita ke sono lagi, ya, Umma. Mas Asa pengen main lagi sama kakek." Lagi, Hassan seolah tak henti bercerita seberapa besar bahagianya bermain bersama dengan kakek dan neneknya. Bukan karena di sini tak bahagia, melainkan ini semua berkat kreatifitas Umar dalam mengajak sang cucu dalam bermain.
Fatimah mendengarkan setiap celotehan dari Hassan seolah tak bosan. Mereka terus melangkah masuk ke dalam hingga tiba mereka di ruang tengah. Dia terdiam membeku saat mendengar jelas, bagaimana si ibu mertua julid di belakangnya.
Fatimah lalu menoleh ke arah Hassan yang masih belum sadar akan suara Nenek Siti dan Abi Aiman yang tengah berdebat. Dia lalu membelokkan arah tujuan ke kamar sang anak.
"Loh, kok, ke sini?" tanya Hassan saat tubuhnya ditarik ke dalam kamarnya sendiri. "Mas Asa, kan, pengin cerita ke abi dan nenek, Umma,"imbuhnya dengan nada merengek.
Wanita itu mencoba tersenyum walau kenyataannya sangat sulit. Pikirannya sudah bercabang, antara diam, atau maju untuk membela dirinya sendiri.
"Umma!" Hassan masih saja berusaha untuk meminta ibu sambungnya untuk membawanya bertemu dengan nenek dan Abi. "Mas Asa pengin keluar!"
Sabar, Fa! Kamu pasti bisa ngadepin masalah kayak gini. Lagian, masih ada Maira dan Mas Asa di sisimu! batinnya seolah tahu apa yang sedang di
__ADS_1
galaukan oleh Fatimah.
Belum lagi Hassan yang terus saja merengek membuat kepala Fatimah hampir mau pecah. Wanita itu segera menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dari mulut. Mata itu pun segera terbuka setelah sedari tadi terpejam erat.
"Mas Asa bukannya hati ini ada PR?" Fatimah sangat tahu jika anak sambungnya itu cukup perfeksionis. Maka dari itu, ia berusaha mencari alasan tepat untuk Hassan diam dan fokus.
"Ah, Mas Asa lupa."
Bingo. Senyum pun langsung terulas kecil dari bibir Fatimah. Dia segera menuntun tubuh kecil Hassan menuju meja belajarnya kemudian diambilkan tas punggung itu, lalu diserahkan ke si anak.
"Kalau gitu, Mas Asa ceritanya besok aja, deh. Sekarang mau ngerjain PR dulu," kata Hassan yang sudah mulai melihat soal di lembar LKS.
"Bu, selama ini Fatimah ini gak pernah mempengaruhi Mas Iman buat melakukan hal seperti itu. Fati juga bukan wanita-wanita tidak jelas yang seperti ibu maksud. Aku rela menjadi istrinya karena aku memang ingin membina sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah," jelas Fatimah, sambil berurai air mata.
Siti peduli? Tidak. Dia justru menatap di menantu dengan pandangan sinis. Asli. Raut lembut dan penuh kasih sayang yang dulu sering sekali ditujukan untuk sang menantu, berubah seratus delapan puluh derajat. Sungguh prestasi yang tidak patut untuk ditiru.
"Semua orang, kalau lagi dalam kondisi terdesak pasti akan bicara seperti itu. Gak mungkin gak," sahutnya sinis. "Lagian, yah. Orang kayak kamu itu gak pantas buat an–"
"Ibu!" teriak Aiman yang sudah mulai kesal dengan tuduhan-tuduhan tidak berdasar itu
__ADS_1
"See!" Wajah Siti seketika memerah marah lantaran anaknya kembali berteriak kepadanya dan alasan pun masih sama, Fatimah. Gadis yang ia kira sangat cantik dan baik hati, ternyata justru membawa masalah untuk hubungan keluarganya.
"Kamu membentak ibu hanya karena si wanita asing itu?" Siti balas membentak Aiman karena sudah berani berteriak kepadanya. Dia jelas tidak mau disalahkan, apalagi dikalahkan hanya karena seorang menantu. "Apa kamu sudah buta, eoh?!"
"Wanita asing?" Fatimah menatap sang mertua dengan pandangan pedih. Bagaimana bisa seorang menantu yang sudah menjadi istri, bahkan memberikan cucu masih dianggap asing di dalam keluarganya. Sungguh menyesakkan.
Aiman langsung menghampiri Fatimah yang kini sudah menangis tanpa suara. Itu jelas terlihat sangat menyesakkan. Dua wanita yang dicintainya kini tengah sama-sama terluka dan dia tidak mungkin memilih. Karena baginya, mereka adalah segalanya. Istri dan ibu bukanlah pilihan.
Dengan penuh perhatian dan tanpa mau menyinggung ibu, Aiman mencoba membawa Fatimah menuju kamar. Dia sendiri tidak mau melanjutkan pertengkaran ini di depan anaknya yang masih balita. Lagipula, Allah juga sangat membenci perdebatan yang akhirnya akan menyakiti perasaan satu sama lain.
"Aku benar-benar tidak pernah melakukan hal yang ibu tuduhkan, Bi. Fati gak–"
"Sstt!" Jari telunjuk itu kini tengah bertengger manis di depan bibir sang istri. Aiman sengaja memotong ucapan Fatimah yang sangat terlihat terpukul. Dia juga percaya apa yang ibunya tuduhkan ke si itu sama sekali tidak benar karena memang ia sudah membuktikannya. "Abi percaya, kok."
Masih dengan derai air mata, Fatimah menarik tangan suami dan diletakkannya di atas puncak kepala. Mata mereka saling memandang, jelas ada luka di sana.
"Fatimah sangat menghormati ibu, Bi. Fati juga sangat menyayangi ibu dengan tulus. A-aku–" Fatimah tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sang suami justru menempelkan b1b1r mereka sehingga ucapannya kembali tertelan.
Setelah sang istri sudah tenang, barulah Aiman melepaskan tautan b1b1r mereka. Keningnya disatukan dengan Fatimah hingga deru napas mereka saling bersahutan satu sama lain. "Kita bicarakan ini nanti dengan ibu secara pelan-pelan ya, Sayang. Abi juga minta maaf jika kata-kata ibu sudah menyakiti hatimu."
__ADS_1
Fatimah mengangguk. "Insya Allah, Bi. Semoga saja ibu akan kembali melunak!" harapnya.