Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 101


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang dia lakukan di sana? Kalau terjadi apa-apa dengan mereka, aku pasti akan menyalahkan diri ini seumur hidupku."


"Apa nomor ponsel istrimu belum bisa dihubungi juga?"


Aiman menggeleng. Wajahnya sudah terlihat sangat kacau. Rambut sudah acak-acakan dan entah sudah keberapa kalinya pria itu memukuli kepalanya sendiri.


"Bodoh … bodoh … bodoh! Dasar suami gak berguna! Buat apa kamu hidup, kalau cuma jadi beban doang buat istri dan keluargamu! Dasar banci!" Aiman terus saja menyalahkan dirinya sendiri, setelah itu dia pun berteriak kesal di dalam mobil.


Fyuhhhh. Ketiga temannya–Rafael, Riko, dan juga Ashraf– tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sedari tadi sudah membujuk, bahkan menasehati Aiman untuk tetap tenang. Akan tetapi tak jua didengar. Alhasil sekarang mereka hanya bisa berdoa dan meminta kepada Allah SWT atas keselamatan Fatimah.


"Aku tidak tahu kalau istri dari Iman ini jago beladiri," bisik Rafael.


Riko yang sedang memegang setir pun tak bisa menahan diri untuk menepuk kepala Rafael. "Diamlah!"


Bibir itu pun langsung cemberut. "Sakit, Bege!"


"Gak peduli!" sahut Riko ketus.


"Dasar, Tukang Ngorok!"


"Apa kalian tidak bisa diam! Kepalaku semakin mau pecah mendengar ocehan kalian!"


Ekor mata Rafael langsung melihat ke arah kursi bagian belakang untuk memastikan keadaan sang sahabat. "Aku yakin istrimu bisa menjaga dirinya, Man. Jadi, berpikirlah positif! Bukankah itu yang selalu kamu ucapkan kepada kami di kala sedang cemas?"


"Kepalaku sedang tidak bisa berpikir positif, Raf. Karena yang aku inginkan sekarang adalah bertemu dan melihat keadaan istriku!" Aiman meremas rambutnya lagi yang terasa berdenyut.


Sungguh, jika sampai ada apa-apa dengan Fatimah, dia akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidup.

__ADS_1


Ashraf menepuk punggung Aiman, lalu mengusapnya memberi dukungan. "Aku yakin istrimu bisa menjaga dirinya!"


Lagi, dukungan kembali datang dari sang sahabat, tetapi Aiman tidak lantas bisa langsung tenang. Yang dilakukannya sekarang hanyalah melihat ke arah keluar jendela dengan bayangan wajah istrinya yang tengah menemani. "Fatimah," ucapnya lirih.


Si pemilik hati hanya bisa mengaminkan doa dari temannya. Dia lalu memilih memejamkan mata, sambil berdoa kepada Sang kuasa untuk menjaga istrinya yang tengah dalam marabahaya.


Sesampainya di lokasi yang diberikan oleh Fatimah. Mobil mereka pun kini teriparkir di sebuah lahan samping villa berlantai dua itu. Mereka saling menatap satu sama lain, apalagi saat tidak menemukan kehidupan di sekitar.


"Ini lokasinya apa bukan, sih? Kenapa aku tidak menemukan apa-apa di sini?" Riko curiga jika GPS yang mereka gunakan ini salah alamat, apalagi setelah yang menyapa mereka hanya hamparan laut, serta villa kosong.


"Bener, Ko. Lihat, itu di sana ada Mobil Jeep terparkir!" Rafael yang sedari tadi ikut melihat sekitar segera menunjuk satu villa yang berjarak dua rumah dari tempat mereka berada.


Kedua temannya langsung menatap Rafael dengan pandangan "tumben kamu pintar? Biasanya oon!".


"Aish. Kalian tak perlu memandangku seperti itu! Sebaiknya kita keluar sekarang saja. Lagian polisi sebentar lagi juga bakalan datang. Kita bisa langsung ke TKP!" ajak Rafael tanpa menggubris pandangan meledek dari kedua temannya. Pria itu lalu berniat mengajak Aiman, tetapi ternyata sang sahabat justru sudah tidak ada.


"Makanya gak usah kebanyakan bac0t. Ngoceh mulu, sih!" Riko mencibir Rafael yang kini sudah seperti orang bodoh. Sementara itu, dia sudah keluar dari pintu lengkap dengan sebuah pistol mainan yang memang selalu dibawa untuk menakuti lawan, sedangkan keahlian sesungguhnya adalah tendangan bebas.


Riko tersenyum mengejek dan mulai pergi meninggalkan Rafael yang masih saja sibuk misuh-misuh di kursinya. Dia berlari mendekat ke arah Aiman untuk berjaga-jaga jika pria itu melakukan tindakan bodoh sehingga menggagalkan rencana mereka semua.


Maniknya kini tengah mengedar, mencari celah di mana keberadaan sang istri. Namun, selama mata memandang ia justru hanya menemukan sebuah mobil SUV yang terparkir di belakang semak-semak villa dua lantai di depannya.


Dia pun bergegas untuk berjalan menuju pintu utama yang sudah terbuka lebar. Aiman mengerutkan kening, heran akan fungsi dari pintu yang kini sudah tertidur di atas ubin.


"Lah, ngapa ini pintu malah rebahan? Apa dia sudah lelah selama ini berdiri terus?" Ini adalah sebuah pertanyaan yang tak pantas untuk mendapatkan jawaban sehingga Riko, Aiman, dan juga Ashraf memilih meninggalkan Rafael yang tengah terbengong di depan pintu.


"Man, kamu ke atas! Biar aku dan Riko ke bagian samping kanan kiri!"

__ADS_1


Aiman mengangguk, lalu dia pun mulai menaiki anak tangga dengan hati-hati. Kedua bola matanya seketika melebar kala melihat adegan yang selama ini dilihatnya di film-film, justru terjadi di depan mata. "Ibu," ujarnya dengan lirih.


"Tolong lepaskan ibuku! Kamu boleh menyakitiku, tapi jangan dia!"


Aiman segera menoleh ke sumber suara dan benar saja, ia menemukan keberadaan istri tercintanya. Jujur, pria itu terkejut dengan kostum serba hitam yang dikenakan oleh Fatimah, dia terlihat seperti wanita-wanita mafia yang ingin meringkus para bandar narkoba.


Si suami menggeleng. "Hentikan kebodohanmu, Man! Sebaiknya kamu segera tolong istri dan ibumu. Jangan hanya seperti sapi yang diam saja saat dicucuk hidungnya!"


Maya yang melihat kedatangan orang lain di villa ini pun segera mengambil kesempatan itu untuk mengecoh musuh. Dia melirik ke sekitar untuk mencari alat yang bisa digunakan untuk merobohkan lawan, lalu seringai pun langsung terulas.


"Saya gak ada urusan dengan Anda! Jadi, lebih baik pergi sebelum saya akan membunuh wanita ini!" Pria itu terus menekan ujung pistol itu ke dahi Siti yang kini hanya bisa menangis lirih. Tubuhnya sudah benar-benar lemas. Untuk berdiri saja ia tidak kuat, apalagi untuk melawan.


"Pulanglah, Nak! Ibu tak apa jika harus mati di sini! Karena ibu memang pantas mati karena sudah membuatmu terluka," sesal Siti, lalu tersenyum penuh permohonan.


Fatimah menggeleng. "Gak, Bu. Pokoknya kita harus pulang dari sini bersama-sama!"


Maya segera mengambil kesempatan itu untuk menyerang si Tejo dengan sebuah tongkat baseball dan dilayangkannya ke bagian belakang kepala pria itu dan tubuh pria itu jatuh ke lantai seketika.


"Arghhh!"


Namun, sebelum si musuh jatuh dia ternyata sempat menarik pelatuk pistolnya ke arah Fatimah. Akan tetapi, seorang lelaki lain sudah lebih dulu menariknya sehingga ialah yang terkena peluru itu.


"Abi!"


"Iman!" teriak dua orang wanita itu di keheningan villa itu. Membuat suasana yang ada di sana semakin terasa mellow.


Aiman tersenyum saat melihat dua orang yang disayanginya kini tengah berada di sekitarnya. Bibir itu terulas senyum, tetapi setelah itu matanya terpejam.

__ADS_1


Fatimah menangis keras dan memeluk tubuh Aiman. Dia terus memanggil nama sang suami yang kini sudah tak sadarkan diri setelah mendapatkan tembakan.


__ADS_2