Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 67


__ADS_3

"Abi kenapa?"


"Hah? Oh, gak apa-apa, kok."


Hassan memperhatikan cara mengemudi ayahnya dengan pandangan menilai. Tadi pagi saat mereka pergi bersama, pria itu masih santai, bahkan mengajak si anak bercanda. Namun, yang di sampingnya sekarang adalah sosok lain.


Bukan setan, atau iblis dan sejenisnya, melainkan pria yang jauh dari kata ramah. Dia justru terlihat sangat dingin, bahkan seolah tak ingin disentuh.


"Abi, umma kenapa?" Hassan berusaha mencairkan. Dia memang suka sepi, tetapi tidak jika sedang bersama kedua orang tuanya. Anak kecil itu justru mencoba mengguyur es yang tengah dibuat oleh Aiman dengan sebuah genggaman tangan yang hangat.


Mata pria dewasa itu berkedip sekali, dua kali, dan berlanjut hingga beberapa kali sampai ketika, dia menghentikan mobilnya di tepi jalan. "Apa yang sedang kita lakukan di sini, Mas Asa?" tanya Aiman linglung.


Hassan mencoba memahami, lalu saat tengah berpikir suara panggilan dari ponsel membuatnya menunjuk ke arah ponsel milik sang ayah. “Ada telepon, Bi,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Aiman menggelengkan kepala saat dirinya merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Coba kamu yang angkat, Nak. Abi tiba-tiba pusing.”


Hassan pun mengiyakan dan tanpa banyak tanya anak kecil tersebut menekan ikon berwarna hijau, lalu suara sang neneklah yang menyapa.


“Assalamualaikum, Nek. Ini Mas Asa. Abi lagi pusing katanya. Jadi, ini Mas Asa yang disuruh angkat telepon,” jelas si kecil dengan cepat.


“Pusing? Kok, bisa. Emang kalian lagi di mana? Bukannya tadi nenek sudah meminta abimu untuk datang ke rumah sakit secepat yang dia bisa. Tapi kenapa kalian belum sampai juga?” Wanita paruh baya itu langsung membombardir si cucu dengan banyak pertanyaan.


Hassan lalu menengok ke arah jalanan di luar, kemudian menemukan plang nama yang menunjukkan di mana ia berada sekarang. Si kecil memberitahukan keberadaannya, sambil sesekali melirik lagi ke arah Aiman.


Pria dewasa itu terlihat meletakkan keningnya di atas stir dengan mata terpejam sehingga membuat Hassan tak berani membangunkan sang ayah. Dia menolak saat Nenek Siti memerintah untuk meminta berbicara dengan ayahnya.


“Abi kayaknya emang lagi sakit, Nel,” ujarnya memberi alasan. “Terus, umma gimana keadaannya sekarang? Mas Asa jadi pengen ketemu umma,” rengek si kecil dengan suara lirih, berharap Aiman tak mendengar.

__ADS_1


Siapa sangka, Pria dewasa itu justru langsung mendongak dan tangan nya dengan secepat kilat menarik ponsel yang sedang digenggam oleh Hassan. “Biar Abi yang bicara dengan nenek,” pintanya lemas.


Si kecil hanya bisa mengangguk takut, lalu mengalihkan wajahnya ke arah jendela. Memandang teriknya matahari yang menyinari bumi cukup ganas. Sudah beberapa hari ini, kondisi, atau cuaca di Indonesia cukup membuat mereka banyak mengeluarkan keringat.


Beruntung, Hassan dan Aiman bekerja di dalam ruangan ber-ac sehingga membuatnya tak terlalu mandi keringat. Akan tetapi, saat mata mereka keluar ruangan, dua manik itu langsung terpejam, silau terkena matahari.


“Kita langsung menemui umma kamu, ya, Sayang. Kata nenek, dedek bayi sebentar lagi akan lahir dan menemui kita. Kamu seneng, gak?” Tiba-tiba saja suara Aiman memecah hening setelah sedari tadi berbicara dengan Nenek Siti.


Setelah panggilan itu selesai, Aiman memutuskan untuk mengajak si anak berbicara. Wajahnya yang muram, kini berangsur membaik dan terlihat ada kebahagiaan di sana sehingga membuat Hassan sedikit mengerutkan kening, bingung.


“Abi kenapa, sih? Bukannya tadi abi terlihat marah, tapi kenapa sekarang berubah baik?” Si polos–Hassan yang akan selalu bertanya sesuatu hal yang mengganjal di dalam hati, serta pikirannya. “Aneh,” lanjut Hassan jujur.


Aiman tak bisa berkata-kata karena dirinya pun tidak tahu kenapa ia seperti orang linglung hari ini. Namun, setelah tahu jika Fatimah akan melahirkan, ia sedikit tahu alasan dibalik keterdiamannya.


Masih seputar trauma di ruang bersalin ternyata.


Hassan pun memilih diam dan tidak mengungkit masalah yang tadi. Si kecil hanya mengikuti ke mana Aiman mengajaknya. Yang sekarang ada di dalam pikirannya adalah segera sampai rumah sakit dan melihat calon adiknya. “Mas Asa udah gak sabar, Bi,” celetuknya di antara kebahagiaan menyambut adik baru.


“Semoga semuanya berjalan dengan lancar, Ya Allah, aamiin!”


**


“Kenapa kalian lama sekali, sih? Kalian itu ngapain aja di jalan? Kenapa bisa sampai satu jam lebih baru sampai di sini!” omel Siti saat anak serta cucunya baru saja sampai di rumah sakit setelah cukup lama menunggu.


“Fatimah bagaimana, Bu?” Aiman mencoba mengesampingkan urusan lain karena tujuannya sekarang adalah bertemu dengan istri tercinta yang tengah berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang bersalin.


Siti mendengkus melihat anaknya justru tidak menggubris ucapannya.

__ADS_1


“Fatimah menolak masuk ke dalam ruang bersalin sebelum kamu datang, Nak. Dan sepertinya anakmu di dalam sana juga sama tengah merajuk, tidak mau keluar, padahal pembukaan sudah delapan,” adunya, sambil menghela napas lelah.


“Bu, maaf. Apa suami dari Bu Fatimah sudah datang? Soalnya pembukaan sudah lengkap dan kami akan melakukan tindakan persalinan ini di ruang rawat pasien. Lalu, dia juga menginginkan suaminya untuk menemaninya,” jelas suster cepat.


“Sa-saya, Sus.” Aiman mencoba tersenyum walau yang terlihat hanya senyum kaku dan penuh paksaan.


“Kalau begitu mari, Pak. Ibu sudah menunggu sedari tadi.” Suster yang bernama Mira itu membimbing Aiman untuk masuk ke dalam ruangan di mana wanita itu tengah menunggu.


“Abi, kenapa baru datang?” Wajah Fatimah sudah berlinang air mata dengan tangan diangkat ke atas seolah meminta sang suami untuk memegangnya.


Aiman mengusap wajahnya yang entah kapan menangis karena sudah ada air mata di sana. Tungkainya segera berjalan menuju di mana Fatimah tengah tergeletak di atas ranjang yang sama seperti saat Aisyah dulu melahirkan.


Bayangan saat Aisyah menghembuskan napas terakhir, cukup membuat pria itu terguncang. Dia bahkan tanpa sengaja meremas tangan Fatimah seolah tidak mau kehilangan.


“Sayang, jangan pernah tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Please, Ais! Jangan tinggalkan aku!” racaunya tanpa sadar dengan mata terpejam di telinga sang istri.


Deg


Suara tangis bayi mereka yang baru saja lahir seolah tak membuat wanita yang baru saja melahirkan itu bergeming. Telinganya masih berfungsi dengan baik jika nama yang baru saja diucapkan oleh sang suami adalah nama mantan istrinya yang dulu, Aisyah.


“Jadi, benar, Mas. Kalau kamu itu masih belum bisa menerima kepergian Mbak Aish?” tanya Fatimah sedih.


Aiman membeku. Wajahnya perlahan terangkat untuk melihat ke arah di mana sosok yang baru saja melahirkan anaknya tengah menatap sendu. Bibir pria itu pun seketika bergetar panik.


Dengan tangan bergetar, ia mencoba mencari telapak tangan sang istri, kemudian digenggamnya erat. “Bi-bukan begitu–”


“Pak, maaf. Ini anaknya silahkan diadzani!”

__ADS_1


Setelah itu, Aiman pun merasa Fatimah mulai sedikit berubah dan lebih banyak diam. Ia sudah berusaha untuk menjelaskan, tetapi selalu saja ada yang mengganggu.


“Maafkan aku, Ummaya. Aku sungguh tak berniat untuk menyakitimu,” sesalnya lirih saat melihat wanita itu tengah menggendong tubuh kecil anak mereka dalam pangkuan.


__ADS_2