
Maya langsung memukul mulut Fatimah. "Ngomongnya!"
Fatimah berulang kali memohon ampunan kepada Allah karena sudah mengumpat. Dia begitu kelepasan sehingga keluarlah kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang umat yang baik. Dia lalu menengok ke arah pintu, embusan napas lega pun langsung terembus dari mulutnya.
"Ngapa ngeliatin pintu? Takut kamu diomelin mertua?" Maya terkikik geli dengan sikap salah tingkah si teman.
Fatimah menepuk lengan Maya keras sehingga membuat si teman mengaduh kesakitan. "Kenapa?" tanyanya dengan polos.
"Noh! Sakit bege!" Bekas luka yang kemarin saja belum sembuh, kali ini Fatimah justru memukul lengannya tepat di lokasi kesakitan. Mau nangis, tapi air mata tidak mau keluar. Akhirnya, hanya ringisan yang keluar dari bibir.
Fatimah tersenyum lebar. Mengelus lembut lengan si teman, lalu memijat bahu Maya sebagai penebus rasa bersalah.
"Makanya kalau mau gemes itu liat-liat!" omel Maya dengan mata memicing.
"Siap, Komandan!"
"Dih!"
***
__ADS_1
Di sebuah rumah berlantai dua, terlihat seorang pemuda tampan dan single tengah sibuk bermain konsol game di layar lebar, bersama dengan satu temannya. Mereka asyik beradu, bahkan berteriak untuk memberikan semangat kepada jagoan masing-masing. Suara kedua laki-laki itu pun seolah menjadi pertanda jika di ruangan itu ada manusia, bukan lelembut, atau semacam lainnya.
"Riko," panggil pria dengan kaos berwarna hitam melekat pas di tubuh berototnya.
Pria itu menoleh sebentar, lalu kembali fokus ke layar besar di depan mereka. "Apaan?"
"Kemarin gue ketemu sama Maya," ujarnya santai.
Riko langsung mem-pause permainan mereka. "Di mana?"
"Kok, malah di pause, sih?" Temannya yang bernama Bagio, atau biasa disapa Gio menatap Riko protes. Akan tetapi, lelaki di hadapannya justru tidak peduli.
"Astaghfirullah. Sabar napa! Gak sabar amat jadi laki," cibir Gio, sambil menggelengkan kepala.
Riko tampak tidak peduli. Dia terus membujuk Gio untuk mengatakan di mana bertemu dengan Maya. Pria itu bahkan mendekatkan posisi duduknya agar bisa mendengar dengan jelas informasi tersebut.
"Yaelah, Rik. Ketahuan banget, sih, bucinnya!"
"Aku gak peduli. Pokoknya kasih tahu secepatnya! Udah tiga hari kami gak ketemu lantaran sibuk sama kerjaan. Kasihan banget, 'kan, aku."
__ADS_1
Gio langsung meraup wajah teman seperjuangannya. "Jijik banget, sih. Sumpah, pengin muntah aku tuh liat kelakuanmu!"
Pria itu tidak peduli. "Ayo, dong, Gi! Kasih tahu aku!"
"Astaga, kok, kamu jadi kayak cewek yang lagi bucin banget sama kekasihnya. Sampai bikin mual tahu gak? Ish, jauhan dikit ngapa! Gak usah deket-deket. Aku tuh masih suka sama yang seksi dan berdada besar," usir Gio saat melihat si teman terus saja menempeli dirinya. "Risih, woi!"
Karena terus ditempeli oleh Riko, akhirnya Gio pun buka mulut. Dia memberitahukan pertemuan tidak sengaja mereka di sebuah perumahan salah satu temannya. Maya sendiri sedang bersama perempuan berhijab yang tengah menggendong anak di jalan.
Nama Fatimah pun langsung tercetus di dalam ingatan Riko. "Apa Maya sudah sehat?"
Gio mengangkat bahu. "Meneketehe! Orang aku aja cuma say hello dan habis itu caw langsung. Mana sempet ane nanyain kabar. Aneh-aneh aja, deh, kamu!"
Riko menempeleng Gio dengan kesal. Dia sudah serius-serius, tetapi si teman justru malah ngajak gelut. "Nyesel aku tuh punya temen modelan kayak kamu. Pengin tak loakin, terus tuker sama duit sepuluh ribu. Lumayan buat beli es teh dua cup."
"Bajigur! Matamu soak. Orang ganteng macam saya ini, kok, mau dituker sama duit ceban." Gio membalas menempeleng Riko karena dirinya hanya dihargai dengan dua cup es teh.
Mereka berdua pun saling adu tatap, saling senggol, saling menampakkan otot-otot di lengannya sehingga terlihat sekali sifat kekanakan Riko dan juga Gio. Dua lelaki tampan, beda emak dan bapak, tetapi memiliki tingkah laku yang sebelas duabelas.
Tiba-tiba, terdengar suara salam dari arah pintu ruang tamu, diikuti dengan penampakan wajah dua orang yang memiliki potongan rambut sama, hanya beda poni dan tidak.
__ADS_1
"Apa yang kalian sedang lakukan?" tanya dua orang itu kompak.