
"Bos, saya ingin melapor.”
“Katakanlah!”
Trisa meletakkan alat tulisnya di atas meja, lalu duduk bersandar di kursi singgasananya dengan angkuh. Salah satu kakinya diangkat ke atas satunya lagi. Mata menatap dingin atas kedatangan orang kepercayaannya.
“Rencana Nona untuk membuat mereka ribut besar berhasil, Bos. Ibu Siti kini sudah pergi dari rumah anaknya dan memilih kembali ke rumah lamanya.”
“Lalu, untuk calon suamiku bagaimana? Apa dia sudah berpisah dengan istri manjanya itu?”
Pria itu menelan ludah gugup saat harus menyampaikan berita selanjutnya. Jujur, ia takut akan dilempar gelas yang ada di atas meja sang bos. Apalagi setelah mendengar apa yang dikatakannya sekarang.
"Bagaimana?"
"Silahkan, Nona!"
Trisa bergegas menerima tab yang diberikan oleh orang suruhannya. Dia tidak terlalu berharap banyak hal dalam misi yang tengah dijalankannya. Namun, ia juga mulai kesal karena targetnya terlalu kebal dengan umpan yang dilempar pada mereka.
"Wow, ini adalah pertunjukkan yang sangat seru. Aish, bagaimana bisa aku tidak menonton drama ini secara langsung? Pasti bakalan lebih menegangkan lagi, kalau kita berada di sana langsung," oceh Trisa dengan senyum lebar.
Layar yang tengah memperlihatkan perang besar antara sesama keluarga Baseer sedang dinikmati oleh Trisa. Orang yang selama ini bekerja di balik layar untuk membuat rumah tangga Aiman dan juga Fatimah hancur lebur.
Kabar ini tentu saja adalah kabar yang sangat dinanti-nantikan oleh trisa Abdullah. Rencananya untuk masuk ke dalam keluarga Baseer dengan mendekati Siti–ibu dari Aiman ternyata berhasil. Wanita paruh baya itu bahkan sudah berada di pihak Trisa yang tentu saja menjadi pengkhianat dari anak, serta menantunya.
"Berarti mereka sudah siap mengajukan cerai kan?" Senyum licik itu masih terulas di wajah Trisa, lalu menyodorkan kembali tab kepada pria yang bekerja sebagai kaki tangannya.
Belum ada satu menit Trisa merasakan kebahagiaan. Ekspresi kurang mengenakan dari pria di depannya membuat moodnya kembali anjlok. Wajah wanita itu seketika berubah dingin. Senyum itu hilang bak ditelan bumi, berganti dengan aura membunuh yang siap menghancurkan mangsa.
"Katakan!" titah Trisa tidak sabar.
__ADS_1
Pria itu langsung membungkuk sembilan puluh derajat. Ia menelan ludah gugup dengan kabar yang akan disampaikan.
"Cepat katakan, Kodok!" Trisa melempar vas bunga ke tembok yang ada di samping kanannya. Deru napasnya memburu, menanti kabar buruk selanjutnya. "Berani sekali kau membuatku terbang ke atas langit, lalu kau juga yang membantingku ke tanah. Mau mati, hah!"
Pria masih dalam posisi membungkuk. Namun, kali ini dibarengi dengan tubuhnya yang bergetar menahan gugup. "Maafkan saya, Nona. Saya tidak berniat melakukan ini. Hanya saja–"
“Maaf? Maaf untuk apa ini? Jangan bilang ….” Sengaja wanita itu menggantungkan kalimatnya karena ia cukup ragu untuk melanjutkan ucapannya.
“Benar, Bos. Mereka maish tinggal satu rumah dan bahkan hubungan mereka yang tadinya renggang, kini justru–”
Trisa langsung melempar gelas yang ada di atas meja ke arah pria tersebut. Amarahnya yang sedari tadi sudah di ubun-ubun tidak bisa ditoleransi lagi. Wanita itu marah dan muak sehingga menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
Beruntung si kaki tangan memiliki refleks yang bagus sehingga nyawanya masih berada di dalam ragan. Hanya saja, degup jantungnya yang tidak baik-baik saja.
Mulut berwarna merah darah itu masih saja mengeluarkan kata-kata kasar di depan orang suruhannya. Ia bahkan sudah menyingkirkan semua barang apa saja di atas meja hingga kini ruangannya terlihat berantakan.
Tami yang mendengar keributan di ruangan sang atasan pun segera masuk ke dalam. Dia tidak terkejut lagi dengan apa yang dilakukan oleh Trisa karena perangainya memanglah seperti itu. Ketika apa yang diinginkan tidak berjalan sesuai alurnya maka ia akan menjadi bringas.
Pria itu pun segera membungkuk hormat dan setelahnya ia pun keluar dari kandang singa yang tengah mengamuk. “Untung ini nyawa masih nempel. Coba kalau tidak, sudah koit ini!”
Setelah kepergian Anjar, Tami pun segera menelpon office boy untuk datang ke lantai atas dan sekalian membawa peralatannya juga. Kini, dia memilih undur diri sebelum ikut menjadi sasaran empuk dari bosnya.
Trisa sendiri kini masih dikuasai oleh emosi sehingga deru napasnya pun terlihat memburu. Sudah beberapa menit yang lalu ia mengamuk dan membuat ruangannya hancur. Namun, seolah masih belum puas, wanita itu pun segera mengambil gawainya dan meminta Tami untuk mengantarkannya ke tempat biasa ia menghilangkan penat.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kekacauan. Trisa tidak peduli akan luka lecet yang ada di buku jarinya karena ia gunakan untuk memukul meja kerjanya. Rasa sakit itu ia abaikan karena di dalam hatinya lebih butuh pelampiasan.
Dalam perjalanan, Trisa dan Tami sama sekali tidak ada yang mengeluarkan suara. Suasana hati dari sang bos membuat si asisten enggan untuk mengusik. Maka dari itu, tidak mengajaknya berbicara adalah jalan terbaik. Karena nanti yang didapatkan hanya bentakan.
“Apa kamu tidak bisa menyetir, hah?”
__ADS_1
Tuh, kan. Baru juga diomong. Eh, malah udah kena damprat. “Maaf, Bos. Sepertinya di depan ada kecelakaan. Makanya jalanan cukup macet.”
“Bekicot! Lagian ngapain kamu lewat sini. Jadi orang itu harus memiliki strategi yang mumpuni sehingga apa yang akan kamu hadapi nanti itu sudah terorganisir tanpa membuat hal tidak berguna seperti ini. Lalu, kalau sudah seperti ini … aku harus bagaimana? Jalan, hah!" bentak sang bos murka.
Trisa yang sudah terlalu muak akhirnya memilih keluar mobil. Mengabaikan tatapan aneh dari pengendara lain yang melihatnya. Maniknya menatap ke arah tukang ojek yang tengah mangkal di pinggir jalan. Dia tahu apa fungsi dari orang-orang tersebut. Tanpa pikir panjang ia pun meminta salah satu dari mereka untuk mengantarnya ke tempat tujuan.
Hela napas berat dikeluarkan oleh Tami saat melihat Trisa yang mulai membuat ulah. Dia tidak tinggal diam dan memilih supir untuk menyusulnya nanti, sedangkan wanita itu pergi menyusul sang bos menggunakan ojek juga.
Sesampainya di tempat tujuan mereka berdua turun. Tami segera memberikan dua lembar uang berwarna merah kepada dua tukang ojek itu. Mereka tidak tahu berapa ongkos yang sebenarnya. Jadi, ia asal saja.
"Ckckck, lambat!" cibir Trisa saat melihat Tami sudah berada di belakang tubuhnya.
"Maaf, Nona. Tadi motornya harus diisi bensin dulu. Makanya kami telat," sahut Tami dengan kepala tertunduk.
"Masuk!"
Tanpa disuruh dua kali, Tami pun mengikuti ke mana sang bos pergi. Mungkin bagi orang awam tempat yang sering dikunjungi mereka itu hanya lahan kosong tak berpenghuni. Namun, siapa sangka saat kaki itu lebih masuk lagi ke dalam justru hingar bingar khas club malam lah yang tersaji.
Bau nikotin, serta alkohol langsung menusuk hidung Tami. Sementara Trisa justru tetap berjalan santai menuju lantai dua di mana ia biasa menghabiskan waktu di tempat ini. Royal Dis adalah nama klub malam yang sedang mereka pijaki.
Sebelum mencapai puncak anak tangga, Trisa sudah meminta Tami untuk mencari pesanannya. Sedang ia kembali menunggu di ruang khusus yang biasanya pakai ketika datang ke Royal Dis. Mata itu menjelajah ke sekitar dan menemukan banyak para wanita yang tengah bersama para lelaki dengan posisi tidak lazim jika di luar sana. Berbeda jika ini klub malam, hal itu sudah bukan hal baru, melainkan hal biasa.
"Hai, Sayang. Kenapa baru datang? Aku Sudan merindu–"
Suara itu tertelan begitu saja oleh aksi dari Trisa. Wanita itu begitu beringas dan tak mau bertele-tele. Dia tidak membiarkan pria yang biasa menemaninya itu terlalu banyak bicara. "Cukup layani aku dan jangan banyak omong!"
Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam ruangan khusus yang memang biasa digunakan oleh mereka yang ingin bersenang-senang tanpa dilihat oleh orang lain. Trisa melampiaskan kekesalannya dengan menjambak, mencakar, hingga menampar partnernya.
Tami sendiri hanya duduk diam di sofa sambil minum gelas kecil yang berisi alkohol. Kepalanya berdenyut sakit saat harus mengikuti rutinitas gila dari sang bos. Namun, semua ia lakukan semata memang karena uang.
__ADS_1
"Semoga saja semua baik-baik saja!" pintanya yang terdengar sangat ambigu.