
Bagus Ilham Pratama adalah sosok desainer yang sudah banyak dikenal oleh banyak orang. Karyanya yang selalu menakjubkan membuat nama pria berusia 37 tahun tersebut sering sekali disebut-sebut dalam acara peragaan busana. Baik di negaranya, maupun mancanegara.
Istrinya yang bernama Rosalina Asasi juga bukan sembarang perempuan. Dia adalah Aktris ternama. Wajahnya bahkan bisa dilihat setiap hari di televisi. Beberapa film yang dibintanginya juga sering memecahkan rekor dalam setiap kali penayangan.
"Wow, santai saja, Pak Iman!" Bagus terkekeh, sambil menepuk bahu suami dari Fatimah itu. "Gak usah tegang begitu. Saya hanya bercanda, kok," lanjutnya tersenyum manis.
Aiman melengos. Dia sendiri sudah sedari tadi mengumpat banyak kata kasar untuk klien sang istri di dalam hati. Jika boleh jujur, pria itu tidak suka dengan candaan yang terlontar dari bibir Bagus. Namun, ia bisa apa. Mau menonjok muka klien istrinya … itu tidak mungkin.
Senyum kecil pun akhirnya bisa terulas di bibir Aiman. Egonya sedang ditekan untuk tidak muncul ke permukaan. Jika sampai itu terjadi, ia hanya akan mempermalukan nama baik Fatimah.
"Sayangnya, istriku begitu mencintai kami, Pak Bagus. Dan saya pun tidak bisa membuka hati lagi untuk wanita lain," sahut Aiman begitu santai walau dalam hati kini tengah berperang.
Matanya langsung melihat ke arah di mana Fatimah, Hassan, dan juga Khumaira berada. Tatapan penuh cinta kini Aiman berikan untuk mereka. Dia sangat bersyukur karena memiliki ketiga orang tersebut di dalam hidupnya.
__ADS_1
Jika Bagus menyuruh Aiman untuk menukar mereka dengan apa pun, pria itu jelas akan menolak dengan tegas. Baginya, Fatimah sudah seperti oksigen di dalam hidupnya yang akan selalu ia butuhkan setiap hari untuk bernapas dengan baik.
Bagus mengambil minumannya dengan senyum menyeringai. "Saya tahu Anda ini pintar, Pak Iman. Aish, kaku sekali, sih, kita, Man. Bagaimana kalau kita saling menghilangkan kekakuan ini? Saya merasa usia kita tidak berbeda begitu jauh," usul pria itu santai.
Pria itu mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya dari sang istri, serta anak-anak. "Semua terserah Anda, Bang," lanjut Aiman terus menoleh ke arah kliennya.
Aiman dan Bagus pun tersenyum. Kecanggungan yang tadi sempat merundung mereka pun mulai mencair. Perkataan desainer terkenal itu ternyata hanya candaan, sekaligus mengetes seberapa besar cintanya kepada Fatimah.
Wanita itu sendiri datang bersama Khumaira dalam gendongan. Bayi itu terlalu lelah setelah bermain mengikuti kakak lelakinya. Kini, mereka pun menghampiri Aiman yang ternyata baru saja mengantarkan klien sampai pintu depan.
“Kenapa kamu nyariin dia? Apa kamu suka dengannya?” Aiman langsung mengambil tubuh Khumaira yang sudah terlelap, sedangkan Hassan sendiri juga sudah mulai bergelayut manja ke tubuh sang ibu. Nada cemburu terdengar jelas dari bibir sang suami dan hal itu membuat si istri mengerutkan dahi.
“Suka?” Dahinya berkerut. Wanita itu jelas bingung dengan apa yang dimaksud oleh si suami. “Maksud abi apa, sih?”
__ADS_1
“Dia suka sama kamu? Dan katanya dia pengen kamu buat jadi istrinya!” ujar pria itu dingin. Aiman lalu bergegas menarik lengan Hassan untuk pergi meninggalkan lokasi pertemuan itu.
Meninggalkan Fatimah yang kini tengah menganga. Dirinya benar-benar tidak mengerti akan maksud dari ucapan sang suami. “Pak Bagus suka sama aku?” Telunjuk tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan raut bingung dna tidak percaya.
“Lalu apa hubungannya denganku?” tanyanya pada diri sendiri.
Kepala Fatimah lalu menoleh untuk melihat punggung pria yang sudah dua tahun ini menemaninya setiap malam. Bibirnya berkedut saat bisa menyimpulkan jika sang suami sedang cemburu. Senyumnya langsung mengembang lebar.
Tungkai itu pun segera menyusul sang suami agar tidak tertinggal. “Abi! Tunggu aku!” seru Fatimah dengan senyum terus terulas manis di bibir pink-nya.
Sementara itu, Aiman yang mendengar seruan dari Fatimah hanya bisa tersenyum. Kakinya terus saja melangkah dengan sang buah hati yang terlihat bingung melihat sikap kepada orang tuanya hari ini.
“Abi kenapa?” tanya Hassan dengan kepala mendongak ke arah sang ayah. “Umma kenapa ditinggal? Nanti kalau diambil sama papa yang lain gimana?”
__ADS_1
Langkah itu otomatis langsung berhenti mendadak sehingga Hassan yang tidak siap, hampir terjatuh karena tarikan di tangannya. Karena ulah Aiman, sang buah hati hampir jatuh terpelanting jika saja anak tersebut tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik.
“Itu gak mungkin!” bisik Aiman ketakutan, lalu berbalik dan menemukan beberapa pengunjung lelaki yang tengah menatap penuh puja kepada istrinya. “S14l, kenapa aku lupa jika dia begitu mengagumkan!”