Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 110


__ADS_3

"Kamu ngapain, sih, masih ngikutin aku mulu? Aku kan udah bilang, kalau aku gak mau!" Seorang wanita berpenampilan serba hitam itu berjalan tergesa untuk menghindar dari kejaran pria di belakangnya.


"Gak. Pokonya aku gak akan pergi, sebelum kamu mengiyakan permintaanku!" tolaknya kekeh. Pria itu adalah Riko, sedangkan si perempuan Maya. Mereka tengah berjalan di lorong tempat mereka mengabdi selama beberapa tahun ini.


Niat hati si lelaki ingin mengajak si perempuan untuk makan siang bersama di resto dekat kantor. Akan tetapi, Maya justru menolak lantaran sudah ada janji dengan atasan. Akan tetapi, itu tidak membuat Riko menyerah begitu saja. Karena motonya adalah Pantang pulang sebelum memenangkan hati Maya.


"Mau sampai lebaran monyet pun, aku gak bakalan bisa pergi sama kamu, Korek! Kamu bisa ngerti gak, sih?" Hilang sudah kesabaran dari Maya. Dia menatap wajah Riko dengan mata menyorot tajam. Sebab dirinya benar-benar terusik, akibat keberadaan pria itu.


"Setidaknya izinkan aku buat ngucapin terima kasih karena kamu udah nolongin aku dari kelaparan tadi pagi, Kutil!" Riko tidak kalah keras kepalanya. Dia lalu menatap penuh permohonan kepada Maya. “Please!”


Hari ini ia dan beberapa rekan kerjanya memang sudah ada janji dengan Pak Bagio–atasan mereka yang selama ini memimpin semua tugas setiap anggota di lapangan, mendapatkan promosi dari atasannya. Jadi, sebagai bentuk apresiasi makanya mereka diajak makan bersama-sama.


Maya sebagai anak buah dari Pak Bagio tentu saja kecipratan bonus tersebut. Maka dari itu, kini dia akan menyusul rekan kerja dan sepenanggungannya yang sudah lebih dulu sampai di lokasi. Ponselnya bergetar dan itu adalah panggilan dari sang atasan.


“Maaf, aku harus pergi!” Maya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu setelah itu beranjak meninggalkan lorong yang entah kenapa hari ini terasa begitu panjang sehingga untuk mencapai pintu keluar saja lama sekali.


“Kutil, tunggu dulu!” Tangan Riko sudah lebih dulu menahan kepergian Maya. Dia berdiri di depan wanita itu kemudian menadahkan telapak tangan satunya yang menganggur.

__ADS_1


“Apa?” tanya Maya tidak mengerti.


“Ponselmu!” pinta Riko. “Gak usah gitu. Aku gak bakalan ngapa-ngapain akunmu, kok!” Seolah bisa membaca pikiran dari Maya, pria itu segera menjelaskan.


“Aku gak suka basa-basi, Ko! Jadi, lebih baik kamu katakan sekarang, atau tidak sama sekali!” Maya sudah lelah harus berurusan dengan hati dan pikirannya. Yang dia inginkan sekarang adalah pergi dan menikmati bubur abalone traktiran dari sang bos.


Memikirkan itu membuat Maya menelan ludah. “Buruan, Badak!” ucapnya tidak sabar.


Sementara itu, Riko yang tadi sempat tersenyum senang, karena Maya mau memanggil nama pendeknya dengan benar, berubah menjadi murung. Namun, itu tidak berlangsung lama. Kini senyum yang sempat hilang sudah kembali lagi.


“Minta nomor rekeningmu!”


“Pokoknya ada, deh. Buruan, Kutil!”


Sekarang kondisi berbalik. Dari yang tadinya Maya yang mendesak Riko. Kini justru si pria yang menodong balik wanita tersebut.


Maya yang sudah diburu-buru waktu segera mengirimkan nomor rekeningnya tanpa perlu dipaksa. “Udah, kan? Kalau gitu aku duluan!” Setelah itu, dia pun pergi sebelum Riko kembali menahannya lagi. Bisa habis kena omelan dari Pak Bagio nanti, kalau sampai datang terlambat.

__ADS_1


Riko membuka pesan dari wanita yang menjadi incarannya dengan senyum lebar. Dia lalu masuk ke dalam aplikasi perbankan untuk memulai transaksi. Tangannya begitu lincah mengetikkan sesuatu di sana dan voila … transaksi berhasil.


“Seenggaknya itu adalah harga yang pantas untuk orang baik dan cantik seperti kamu, Kutil. Hahhhh … kalau begini, ‘kan, lega. Jadi, aku bisa bekerja kembali dengan tenang,” ucap Riko senang, lalu memasukkan kembali gawai canggihnya ke dalam saku celana.


Kaki itu kembali berjalan menuju di mana ia bekerja. Dengan langkah riang gembira, Riko bersenandung lagu cinta, sesuai dengan perasaan yang tengah meletup-letup di dalam hati, serta pikirannya.


Ingatan akan kejadian tadi pagi kembali berputar di pikiran Riko. Saat itu, dia yang tidak pulang ke rumah karena harus lembur untuk memecahkan kasus pembunuhan yang terjadi di Kontrakan Pelangi di Desa Maju. Lupa tidak mengisi perut selama seharian.


Lambungnya hanya sempat diisi ketika pagi hari, sedangkan siang, dan malam hanya kopi terus menerus. Oleh sebab itu, kini pria itu tengah meringkuk di atas sofa seperti trenggiling yang sedang melindungi diri dari musuh.


Bedanya, jika Riko melindungi diri dari rasa lapar yang sudah seperti hantu, bergentayangan sepanjang dinding lambungnya. “Uuh, sial! Kenapa perutku sakit sekali,” rintih pria tersebut.


“Makanya jadi orang jangan suka nunda-nuda lapar. Nih, makanan buat kamu!”


Nyawa yang ia kira akan segera dicabut oleh Malaikat Izrail, tiba-tiba kembali ke tempat hanya karena gendang telinga pria itu mendengar suara wanita idamannya. Riko mendongak ke atas–dengan posisi tubuh masih meringkuk di atas sofa– dan menemukan Calon Bidadari Surganya tengah berdiri, sambil menjulurkan sebuah kantong plastik hitam.


“Ckckck, katanya mau jadi pemimpin. Tapi, mendisiplinkan diri saja tidak becus. Sanksi aku dengan bawahanmu nanti, jangan sampai mereka menderita penyakit kronis setelah diketuai oleh dirimu,” ujar Maya sarkas, lalu setelah itu pergi.

__ADS_1


Kata-kata itu begitu pedas, tetapi itu yang membuat Riko kembali bangkit. Dia menyadari kesalahannya karena sudah mengabaikan jam makan. Sebab itu pula ia berdiri di sini untuk mengucapkan terima kasih.


“Asal kamu tahu, May. Jika cita-citaku ini hanya berlaku untukmu. Untuk masa depan kita. Karenamu, aku memiliki semangat hidup dan juang yang tinggi. Dengamu, aku berani bermimpi membuat satu keluarga hingga ajal memisahkan kita,” ungkap Riko jujur.


__ADS_2