
Pernikahan Aiman dan juga Fatimah sudah ditentukan. Setelah menimbang ini dan itu, akhirnya tanggal pun sudah didapatkan. Tepatnya dua bulan lagi.
“Jadi, sudah diputuskan jika pernikahan kalian berdua diadakan bulan Mei, ya,” ucap Pak Basuki kepada kedua orang yang sedari tadi diam, seperti patung hidup.
Mulut mereka terkunci, tak ada suara sanggahan, apalagi bantahan untuk menepis setiap ucapan dari ketiga orang dewasa di sana. Si kecil pun seolah tak terganggu dengan obrolan mereka semua. Tangannya sibuk memainkan benda persegi panjang yang sedang memperlihatkan sebuah gambar hewan, serta angka.
Setelah kepergian keluarga Dhani, dua keluarga tersebut segera membicarakan dan mencari tanggal yang cocok untuk pernikahan Aiman, Fatimah.
Sementara si para orang tua sibuk berdiskusi tentang kapan hari yang bagus untuk pernikahan anak-anak mereka, Aiman justru sibuk mencuri pandang sosok calon istrinya yang masih terlihat cantik di jam malam.
“Hush, jaga mata kamu!” Siti segera mengibaskan telapak tangannya di depan wajah si anak sehingga membuat Aiman pun terkejut.
“Bu,” rengek Aiman pelan. Dia masih punya malu untuk tidak berteriak melihat keusilan dari Siti. “Apa, sih, Bu?”
__ADS_1
“Kamu itu yang ada apa? Ditanyain sedari tadi, bukannya jawab yang benar malah sibuk sendiri memperhatikan calon istrinya.”
Suara Siti yang cukup keras membuat Fatimah yang mendengarnya tersenyum malu. Dia yang sedang memangku Hassan hampir dibuat melayang kala mendengar calon suaminya ternyata sedang memperhatikan.
“Tante Fati, boleh nanya gak?” tanya Hassan yang sudah mulai bosan dengan p
gawainya.
Fatimah mengangguk cepat. “Ada apa, Sayang?”
"Masya Allah, sepertinya tidak ayah, tidak anak, semuanya terpesona dengan Anak dari Pak Umar dan Bu Aminah," goda Bu Siti yang hafal betul dengan sikap malu pasangan ayah dan anak tersebut.
Aiman dan Hassan hanya bisa menggaruk belakang kepalanya. Like father like son. Semua sifat dan perilaku Hassan tidak jauh berbeda dengan Aiman–ayahnya. Seperti sekarang, jika mereka tengah malu pasti akan menggaruk belakang kepala.
__ADS_1
Fatimah melipat bibir saat senyum hampir terukir di wajah cantiknya. Perempuan muda, nan cantik, serta sholehah itu sedang berbahagia. Di mana sebentar lagi akan mengakhiri masa lajang. Bukan dengan seorang pemuda, melainkan duda bonus satu anak lelaki yang pandai dan tampan.
Pembicaraan kedua keluarga itu pun berlanjut hingga ke arah rencana gedung, siapa saja tamu undangan yang akan diundang, sampai baju pernikahan si calon mempelai. Fatimah sengaja meminta pesta tak diadakan terlalu mewah, cukup sederhana saja.
Sama seperti apa yang diminta oleh Aiman. Dia juga tidak terlalu suka kehebohan. Lagipula, ini adalah pernikahan keduanya, ada rasa sungkan, jika dirayakan begitu meriah.
"Lagian, bukankah yang penting niat dan tujuan pernikahan itu sendiri? Bukan seberapa meriah pernikahan itu berlangsung, melainkan kehidupan kedua si pengantin kelak dalam menghadapi setiap perbedaan baru di dalam rumah mereka?"
"Jadi, kehidupan seperti apa yang kamu inginkan kelak, Nak Fatimah?" tanya Siti yang begitu kagum dengan pemikiran dari calon menantunya.
Fatimah melihat kedua orang tuanya, lalu ke arah calon ibu mertuanya, kemudian anak kecil yang kini begitu nyaman duduk di pangkuannya. Terakhir matanya menatap sang calon imam. "Aku …."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya temanku, terima kasih!