
"Siapa An– Aisyah …." Mulut wanita itu seketika menganga dengan kedua bola mata tak kalah lebarnya. Tubuhnya pun limbung ke belakang saat melihat dengan mata kepalanya sendiri jika orang yang sudah lama meninggal justru berdiri dengan kaki berpijak pada lantai keramik.
"Ibu memanggil saya?" Perempuan yang sedang membawa satu buket bunga itu pun menoleh bingung ke arah sekitar. Namun, lorong rumah sakit masihlah sepi dan hanya ada dia dan si ibu di depannya.
"Ini ibu gak lagi mimpi, kan, Nak?"
Trisa sebenarnya risih dan ingin menampik tangan wanita itu dari wajahnya. Hei, ini adalah wajah yang setiap bulannya harus keluar masuk klinik kecantikan. Jadi, tidak sembarang boleh menyentuhnya. Namun, ia mencoba menahan diri, hanya untuk hari ini karena dia sedang senang.
Ah,kenapa wajahnya tak asing? Atau, jangan-jangan dia ada hubungannya dengan si Aiman itu, yah? Eh, apa dia ibunya? Pikiran itu seketika terlintas saat menilai raut wajah wanita paruh baya di depannya.
"Maaf, Bu. Apa kita saling kenal?" Trisa merasa jika wanita ini bukanlah orang sembarang. Jika memang benar tebakannya maka ini adalah suatu kebetulan yang sangat besar.
Kening wanita paruh baya itu mengernyit. "Aku ini adalah Siti, ibu dari Aiman, Nak. Apa kamu lupa denganku?"
Good. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui. Selain bisa mendekati Aiman, ternyata dia juga bisa mendekati ibu pria tersebut.
"Oh, jadi Anda ini ibu dari Mas Iman, toh. Perkenalkan …." Tangan Trisa diulurkan ke hadapan Siti. "Saya adalah Trisa Abdullah."
Kedua bola mata wanita itu seketika melebar. Dia menatap tangan yang sedang menunggu jabatan tangannya dengan perasaan kikuk. Orang yang dikiranya telah bangun dari kematian, ternyata justru berbeda.
__ADS_1
Siti menunduk minta maaf, lalu tersenyum canggung dengan wajah memerah. "Maaf ya, Nak. Saya benar-benar telah melakukan hal tidak sopan kepada Anda. Saya kira Anda ini adalah salah satu sanak saudara kami."
Trisa langsung menggeleng. Dia tidak akan pernah rela melepaskan kesempatan emas ini terbuang sia-sia. "Tidak apa, Bu. Beberapa orang memang sempat mengira jika saya adalah orang lain. Tetapi, its ok. Selama itu membuat mereka bahagia, aku pun ikut senang." Cuih, yang ada milik bikin tangan dan wajahku gatal-gatal karena dipegang sama tangan kotornya.
Siti menggigit bibir bagian bawahnya sungkan. Kenapa dia begitu mengingatkanku dengan sosok almarhum menantuku? Tatapannya berubah sendu. Menyadari jika dirinya memang cukup merindukan sosok lemah lembut dari Aisyah.
“Terima kasih, Nak. Sekali lagi ibu minta maaf karena sudah membuatmu menjadi bingung,” ujarnya sungkan, “Nak Trisa ini mau kemana? Apa ada teman, atau sanak keluarga yang dirawat di sini?”
Trisa tersenyum manis. “Saya ke sini ingin menjenguk teman saya, Bu.”
“Owalah, kalau gitu ibu minta maaf karena sudah membuat Nak Trisa ini malah jadi ketahan lama di sini.” Siti menepuk bahu Trisa dengan refleks. “Aduh, maaf, Nak. Ini tangan emang suka gitu, kalau lagi ngomong.”
“Saya juga seperti itu, Bu. Emang kadang kita suka refleks sendiri, Bu. Apalagi kalau lagi ada obrolan yang menarik, pasti suka lupa diri,” sahut Trisa seolah-olah dia ini adalah makhluk sosial yang memiliki banyak teman.
Walaupun kenyataannya teman Trisa bisa dihitung dengan jari. Untuk yang mengaku teman, itu hanyalah benalu yang selalu mengganggu hidupnya selama ini. Teman tidak punya akhlak karena datang ketika ada butuhnya saja.
Sementara itu, Fatimah yang baru saja keluar dari pintu ruang kamar suaminya dibuat heran dengan sang mertua yang tengah mengobrol santai dengan seorang perempuan muslim. Dilihat dari gamis, serta jilbab yang lumayan panjang.
“Ibu lagi ngobrol sama siapa, yah?” tanya Fatimah pada diri sendiri.
__ADS_1
“Ada apa, Ummaya? Kenapa kita tidak jadi pergi?” Aiman bertanya saat kursi roda yang tengah didudukinya tidak bergerak lagi, padahal mereka berniat pergi menuju balkon rumah sakit yang disulap seperti taman sehingga pasien merasa tenang di sana.
“Itu, Bi. Ibu lagi ngobrol sama siapa, yah?” Fatimah menunjuk ke arah dua orang wanita yang ada di arah belokan menuju ruang kamar sang suami.
“Mana, sih?” Aiman pun ikut melihatnya. Namun, karena sang ibu yang berdiri tepat di depan si wanita asing itu pun, akhirnya ia tidak bisa mengetahui orang tersebut. “Sudahlah, Sayang. Mungkin itu hanya salah satu anak dari temannya ibu. Lebih baik kita ke taman saja!”
“Maaf, Bi. Kadang jiwa kepo emak-emakku suka penasaran, kalau lihat yang aneh dikit,” sahut Fatimah, sambil tersenyum cerah.
Aiman yang untuk saat ini belum bisa menelengkan kepalanya ke belakang hanya bisa tersenyum. “Kamu itu ada-ada aja, sih, Sayang. Kalau gak inget aku lagi sakit, udah aku sosor kamu, Ummaya!”
“Ya, ampun, Bi. Itu kenapa pikiran selalu saja menjurus ke sana terus. Malu atuh sama semut yang mendengarnya.” Kedua pipi Fatimah sudah merona merah mendengar ucapan sang suami.
“Abi gak peduli sama si semut. Karena hanya ada kamu seorang di dalam hidupku, Sayang. Karena cinta ini memang hanya untukmu seorang, Ummaya.”
Lagi, Aiman membuat Fatimah merasa terbang hingga dirinya merasa sulit sekali berpijak di atas tanah. “Bisa banget kamu, sih, Bi,” jawabnya, lalu menoleh ke arah lain asal bukan sang suami.
“Loh, kalian mau ke mana?”
“Eh, kamu …!”
__ADS_1