
Aiman kini sedang berada di gudang, tempat pembuatan langsung baju-baju yang dipajang di etalase F'Muslimah. Dia bersama dengan Hartono–orang kepercayaan sang istri sedang mensurvei pekerjaan para karyawan yang berjumlah 35 orang.
Mereka semua adalah pekerja yang dipilih langsung oleh Fatimah untuk membuat sebuah pakaian yang bagus, serta berkualitas. Terbukti, setelah beberapa tahun bekerja sama dengan orang-orang hebat itu, usahanya semakin maju, bahkan banyak orang berniat menjadi reseller dari produk F'Muslimah.
Namun, bukannya menolak rezeki, melainkan Fatimah hanya ingin fokus dengan usaha sendiri dulu. Mereka pun memaklumi walau masih saja ada yang mencibir.
"Untuk pesanan Bu Henny, apa kalian sudah menyelesaikannya?" Aiman bertanya saat melihat catatan dari pelanggan yang memesan 100 pcs baju couple, grosemaids dan Bridesmaids.
"Sudah, Pak. Kami tinggal mengirimnya hari ini." Hartono memang selalu bisa diandalkan. Pantas saja Fatimah begitu percaya padanya.
"Lalu, untuk Perusahaan Maheswara bagaimana? Apa kalian sanggup mengerjakan ini dalam satu minggu lagi?" Aiman terkejut saat melihat 1000 pcs kaos Family Gathering masuk dalam list di bukunya. Dia menoleh ke arah Haryono yang sudah lebih dulu menatapnya.
"Alhamdulillah, lebih dari setengah sudah kami kerjakan, Tuan. Tapi, hari ini kami hanya meminta 10 pegawai saja untuk mengerjakan pembuatan kaos tersebut."
"Loh, kenapa? Bukankah akan lebih cepat selesai jika 20 orang yang mengerjakannya?"
Hartono tersenyum kecil sekali lagi. "Kami mendapatkan pesanan gaun pengantin dari 5 pasang calon pengantin, Tuan. Jadi, tentu kami harus membagi-bagi tugas sesuai dengan kemampuan mereka," jelasnya.
Aiman tersenyum. Dia lalu menepuk punggung Hartono, selain sebagai orang kepercayaan Fatimah, pria ini juga salah satu desainer yang cukup senior di antara yang lain. Semua karya yang dibuat oleh tangannya menjadi sebuah mahakarya menakjubkan.
Berbeda dengan Fatimah yang mengambil semua job gaun dan jas, Hartono lebih fokus ke gaun untuk perempuan saja. Walaupun seperti itu, dia tidak ngondek, apalagi kemayu. Pembawaannya masihlah gagah, tegak, dan juga ramah. Maka dari itu, semua pelanggan merasa puas dengan pekerjaan pria tersebut.
Kerjasama Hartono dan Fatimah ini memang sudah tidak diragukan lagi. Akan tetapi, karena sekarang Fatimah lebih fokus mengurus anak, serta keluarga. Pekerjaan itu diambil alih oleh pria tersebut.
"Terima kasih, Ton. Berkatmu, usaha istri saya untuk mengembangkan butik F'Muslimah semakin maju dan berkembang pesat. Sekali lagi terima kasih," ucap Aiman bangga.
__ADS_1
Hartono membungkuk sopan kepada suami dari atasannya. Dia merasa tidak pantas mendapatkan apresiasi dari Aiman karena merasa jika kinerjanya belumlah full. "Tuan terlalu memuji. Saya bahkan tidak banyak membantu di sini," ucapnya merendah.
"Jika istri saya yang mendengarnya pasti akan mencibirmu," balas Aiman yang diiyakan oleh Hartono.
"Saya dan istri Anda ini memang sudah sering bekerjasama. Walaupun dia sibuk menuntut ilmu, mbak selalu menyempatkan mengambil waktu untuk tetap datang les mendesain bersama kami. Beruntung sekali Anda mendapatkan wanita seperti beliau," puji Hartono yang sudah tahu perjuangan seorang Fatimah dari dulu hingga seperti sekarang.
Sukses tak membuat Fatimah menjadi lupa diri dan sombong. Akan selalu ada saat di mana wanita itu berbagi, bahkan memberikan bonus berkali-kali lipat kepada pegawai atas semua jerih payah mereka semua.
"Ya, kamu benar." Aiman tersenyum menerawang, membayangkan wajah istrinya yang tengah tersenyum. "Aku benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti bos kalian. Dia yang selama ini menjadi penerang gelapku."
"Tapi," jedanya dengan mata menyipit.
Hartono melihat dengan mata memicing. "Tapi …."
"Kamu gak lagi menyukai istriku diam-diam, kan?"
Aiman mengernyit heran. Dia melihat ke arah sekitar, tetapi ia tidak menemukan hal aneh apa pun hingga membuat orang lain tertawa ngakak. Lantas, sebab apa yang membuat Hartono tertawa lepas seperti itu? Pria itu pun menggaruk belakang kepalanya, bingung.
Hartono yang sudah merasa puas tertawa pun mulai mengatur napasnya. Dia memegang handle pintu dengan dada naik turun. Namun, sisa akan tawa itu masih terlihat di bibir pria tersebut.
"Apa ada yang lucu dengan pertanyaanku?" tanya Aiman menuntut penjelasan.
Tangannya melambai, menolak praduga salah dari suami sang bos.
"Lalu, kenapa kamu malah tertawa?"
__ADS_1
Fiuuhhhhh. Hartono mengembuskan napasnya panjang. Dia lalu mendongak setelah sedari tadi membungkuk untuk meredam tawanya. "Bukan seperti itu, Tuan," kilahnya.
Aiman masih menunggu dengan sabar. Hartono sendiri masih sibuk merangkai kata untuk menjelaskan bahwa antara dirinya dan sang bos tak memiliki ketertarikan.
"Jadi, begini, Tuan Iman." Hartono lalu mulai menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Fatimah. Dari awal bertemu hingga sekarang menjadi rekan yang solid. Semua itu tentu tidak langsung berhasil, pasti ada lika-liku menuju puncak seperti ini dan tentunya semua itu jelas di luar dari perasaan.
Untuk mencintai seorang Fatimah itu sangatlah mudah, bahkan banyak teman satu angkatannya dulu begitu mengagumi wanita itu. Ada beberapa yang dengan lantang datang untuk meminta Fatimah menjadi kekasih, lalu ada pula yang melamar.
Namun, semua itu ditanggapi oleh Fatimah dengan tenang. Tanpa menyakiti, maupun memberi harapan palsu, Wanita itu mengatakan jika jalan hidup mereka masihlah panjang. Perempuan di luar sana pasti ada yang lebih dari dirinya, dan masih banyak alasan lain.
Untuk Hartono sendiri, dia sempat punya perasaan itu juga. Akan tetapi, segera dihapus karena melihat betapa kuatnya tekad Fatimah untuk menjadi seorang wanita sukses. Namun, ada satu hal yang membuat ia kagum dari Fatimah.
“Istri Anda selalu menjaga sikap dan pergaulannya dengan kami yang mayoritas lelaki. Kami tentu saja menghormati semua keputusannya untuk tidak saling kontak fisik. Bahkan lucunya, sempat ada seorang pria datang untuk melamar istri Anda itu, tetapi bukan Fatimah yang menolak,” jelasnya, sambil menahan tawa.
“Terus, siapa yang menolaknya?” tanya Aiman yang begitu senang mendengar masa lalu Fatimah yang banyak berteman dengan lawan jenisnya, tetapi dia masih tetap bisa menjaga diri.
“Kami,” jawabnya menahan tawa.
“Hah, kami? Maksudnya”
“Iya, Kami. Saat itu, Fatimah, Inaya, ah maksudnya almarhumah,” ujarnya mengoreksi ucapan pria itu sendiri. “Aku, Ridho, Ukas, Wahyu, dan Samsul yang menjawab lamarannya dengan menyebutkan semua alasan yang selalu diucapkan oleh istri Anda, sebelum dia angkat bicara.”
Aiman ikut tertawa. Dia jadi membayangkan berada di tempat yang sama dengan mereka, lalu tersenyum. Bodohnya diriku dulu sempat mau menolak dia yang begitu banyak dikagumi oleh kaumku. Beruntung, Allah segera menyadarkan pikiranku yang bodoh ini!
“Bahkan sampai sekarang istriku saja masih banyak yang menyukainya,” adu Aiman dengan wajah nelangsa.
__ADS_1
“Tapi, percayalah, Tuan! Mbak Fatimah tidak akan pernah menduakan Anda! Kecuali jika Anda bertingkah bodoh dengan menduakan dia,” lanjutnya dengan senyum ramah, tetapi mengandung banyak ancaman.