
"Abi, kenapa kita malah ke sini, sih? Tadi, Mas Asa, kan, Arghhh, Ummi, tolongin Mas Asa!" jerit anak kecil di dalam sebuah labirin berlampu pudar.
Kedua kelopak matanya terpejam erat dengan tangan memeluk perut perempuan yang ada di sampingnya. Dia berteriak karena ada sesuatu yang memegang rambutnya dari atas. Wajahnya bahkan sudah pucat pasi ingin segera keluar dari tempat laknat tersebut.
Ini semua salah Aiman yang dengan seenaknya membodohi Hassan. Sang ayah berpura-pura mengajak si kecil untuk melihat rumah aneka film kartun yang ada di Indonesia. Namun, ternyata setelah berhenti, kereta yang mengangkut ketiga pengunjung itu justru kembali berjalan.
Dari yang tadinya antusias, kini justru mengkerut ketakutan hingga tidak ingin melepaskan pelukan di tubuh Fatimah.
"Sshh, ada Tante, Sayang. Jadi, Mas Asa gak perlu takut. Abi juga ada di sini bersama kita." Perempuan cantik itu begitu lembut saat menenangkan calon anaknya. Sebenarnya, ia sendiri pun cukup takut, tetapi ketika merasakan pelukan yang begitu erat dari Hassan, membuat keberaniannya mulai naik.
Ini semua demi Hassan, bukan untuk pria di sampingnya.
Posisi mereka saat ini adalah Hassan yang duduk diapit oleh Aiman dan juga Fatimah. Sementara deretan bangku di belakang diisi oleh keluarga, serta pasangan remaja yang sedang kasmaran.
"Iya, Mas Asa. Tenang, Abi dan Tante Fati pasti akan melindungi Mas Asa dari gangguan setan yang terkutuk," canda Aiman yang langsung dibalas pukulan di pahanya dari sang anak.
"Abi!" pekik Hassan yang cukup kesal dengan penuturan dari sang ayah. "Mas Asa ini lagi takut, loh," imbuhnya hampir menangis.
__ADS_1
Fatimah hampir mengomel ke arah calon suaminya. Akan tetapi, melihat kikikan geli dari sosok yang selama ini jarang sekali berekspresi membuat mulut itu pun kembali menelan ucapannya. Kenapa selemah ini hamba, Ya Allah? Hanya karena melihatnya seperti ini saja, jantungku sudha berdegup tak karuan.
"Tante," panggil Hassan yang kini tengah mendongak polos menatap perempuan dewasa di depannya.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Fatimah, sambil merapikan rambut Hassan yang sedikit berantakan karena tadi mendusel tubuh dirinya.
"Tante Fati takut, ya?" tanya Hassan dengan polosnya.
Fatimah menatap Hassan tidak mengerti, lalu matanya pun melihat ke arah Aiman yang juga tengah memperhatikannya. Dia lalu kembali melihat wajah si anak. "Enggak, kok. Emang kenapa?"
Fatimah langsung speechless. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab. Di antara pertanyaan yang ada di dunia ini. Kenapa harus kalimat tersebut yang ditanyakan? Apa Hassan tidak tahu, jika ayahnya adalah si pelaku debaran tidak jelas yang tengah dirasakan oleh Fatimah.
Sungguh tidak adil sekali hidup ini, ringis Fatimah dalam hati.
Aiman langsung melihat wajah Fatimah yang tengah tertunduk malu. Entah kenapa, dia merasa jika debaran jantung yang dirasakan oleh Fatimah itu bukanlah karena takut, melainkan hal lain.
"Tante Fati gak usah takut. Di sini ada Mas Asa dan juga Abi. Jadi, tante bisa tenang."
__ADS_1
"Apa Mas Asa baru saja copy paste perkataan yang diucapkan oleh tante tadi?" Fatimah langsung mendongak dan menatap wajah Hassan dengan pandangan takjub.
Dia tidak tahu dibalik keceriaan Hassan, ada keusilan yang pasti diturunkan oleh orang tuanya, salah satunya dari Aiman. Namun, sebelum jawaban itu sempat menghebohkan labirin gelap nan menakutkan itu, Fatimah segera mengklarifikasinya.
"Aduh, jadi ketahuan, deh," ucap Fatimah, sambil cengengesan.
Aiman bukan Hassan yang dapat dibohongi alasan klasik Fatimah. Dia tetap berspekulasi bahwa jawaban perempuan itu tidaklah benar.
"Abi, ternyata Tante Fati juga takut, sama seperti aku," kikiknya geli, lalu memandang kembali Fatimah dengan sorot mata jenaka. "Cie, tapi tante gak ngompol, kan?"
Fatimah langsung menatap datar Hassan. "Tante bukan Mas Asa yang hobi ngompol," elaknya.
...****************...
Rekomendasi malam ini!
__ADS_1