Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 75


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?"


"Ini, Bos."


Trisa mengambil sebuah amplop coklat berukuran besar dengan tanpa ekspresi. Setelah kepulangannya dari Butik Fatimah, ia memutuskan untuk meminta sekretarisnya mencari tahu tentang apa yang menyebabkan kecanggungan dari wanita itu.


"Ckckck, kenapa kinerja kalian lambat sekali? Atau, kalian sudah bosan kerja di sini, hah?” Wanita itu bertanya dengan kesal.


“Maaf, Bos. Kami cukup kesulitan karena keluarga mereka cukup tertutup. Itu pun kami mendapatkan informasi dari salah satu mantan teman kerja lelaki itu, Bos,” jelas pria itu gugup.


“Dasar gak guna! Sekali lagi kamu bekerja seperti ini lagi … jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di kantor saya!” ancamnya dengan dingin.


“Ampun, Bos. Saya janji tidak akan pernah mengulanginya lagi!”


Trisa mendengkus sinis, lalu mulai membuka isi dari amplop tersebut. "Masa nyari kayak gini doang sampai dua ha- … Apa ini?"


Trisa terkejut dengan apa yang baru saja dilihat sehingga tanpa sadar melempar lembar foto itu. Kedua bola matanya terlihat shock, lalu memandang wajah orang suruhannya dengan wajah bertanya, meminta penjelasan.


"Kami juga tadinya kaget saat melihat ini, Bos. Tapi, memang wajah Anda dan almarhum istri dari pria itu sangatlah mirip,” sahutnya menjelaskan. “Ehm … apa Anda yakin ini bukan saudara Anda?" tanya pria itu ragu.


"Bedebah! Mana punya orang tua saya anak lain selain saya. Lancang sekali kamu bertanya seperti itu!" hardik Trisa yang tidak terima jika ada orang lain mempunyai wajah yang sama dengan dirinya.


“Maaf, Bos. Saya hanya bertanya saja,” ujarnya ketakutan.


“Keluar kamu dari ruangan saya!” usir wanita itu setelah tersadar dari rasa shocknya.

__ADS_1


Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, pria itu berjalan keluar dengan tergesa. Nyawa serta pekerjaannya akan menjadi taruhan jika perangai sang bos berubah. Cukup sekali ia merasakan kehilangan teman saat itu, kini tak akan ada lagi kedua kalinya.


Setelah kepergian pria itu, tangan lentik itu mencoba memungut dua lembar foto yang memang berada di atas meja. Ada perasaan gugup saat akan kembali melihatnya, tetapi ia bukanlah sosok penakut yang harus kalah sebelum berperang.


Dibaliknya lembaran foto itu, lalu pupil matanya melebar kala dirinya menyadari jika ini bukanlah mimpi, alias nyata. “Kuampret! Bagaimana cecunguk itu memberikan foto tanpa nama ini. Mereka pikir aku membayar mereka hanya untuk mengambil gambar saja!”


Wanita itu sedari tadi membolak-balikkan beberapa foto yang sialnya membuat Trisa harus menunduk ke lantai. Selama ini dia tak pernah melakukan hal bodoh hingga menurunkan derajatnya hanya untuk sekadar memungut selembar kertas.


Semua ini dilakukan hanya info gila yang justru membuatnya tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Dipanggilnya snag asisten untuk menemaninya berpikir. Otak wanita itu tiba-tiba terasa nge-lag, bahkan untuk mencari kacamatanya saja sulit.


“Ini semua gara-gara pria sinting itu. Aku harus capek-capek bayar orang buat mendapatkan semua informasi tak jelas ini,” gerutu Trisa yang kini memilih duduk di kursi singgasananya.


“Anda mencari saya, Bu?” tanya si asisten.


Trisa mengangkat wajahnya saat snag asisten tengah berdiri di samping pintu. “Oh, masuklah!”


“Apa kamu tahu siapa dia?” Trisa melemparkan foto wanita yang diduga mantan istri dari pria yang tengah menjadi incarannya di hadapan sang asisten.


Tami–asisten, atau sekretaris pribadi Trisa Abdullah segera mengambil foto tersebut. Ekspresi terkejut pun sama diperlihatkan saat menyadari ada kesamaan orang di dalam gambar dengan pemilik perusahaan tempat ia bekerja.


“Apa kamu tahu dia siapa? Atau, apa selama ini kedua orang tuaku telah membuat kesalahan hingga memiliki dua anak kembar, tetapi mereka justru membuang salah satu dari kami?” Trisa terlihat tidak sabar hingga mencecar sang asisten dengan banyak pertanyaan.


Tami terdiam beberapa saat, lalu setelah itu segera undur diri untuk menghubungi si orang yang diutusnya tadi. Dia mendengarkan pria di seberang menjelaskan hasil temuannya dalam beberapa hari ini. Wanita itu mengangguk mengerti, lalu memutuskan panggilan mereka.


Tungkainya yang panjang melangkah pasti untuk masuk ke dalam ruang kerja sang bos. Dia sudah mengantongi informasi tentang siapa wanita berhijab yang mirip dengan CEO mereka, juga tentang hal lainnya.

__ADS_1


“Permisi, Bos.” Tami mengetuk pintu kaca itu kembali untuk memberitahu sang pemilik ruangan jika ia ingin masuk ke dalam.


“Bagaimana? Apa kamu sudah mengetahuinya?” Trisa terlihat menggigit bibir bawahnya seolah takut akan informasi apa yang akan dibawakan oleh sang asisten. Dia tidak mau ketakutannya selama ini justru berujung kecewa. Punya saudara kembar, eoh? Itu gak mungkin.


“Menurut Amir, wanita itu bernama Aisyah, istri pertama dari Pak Iman. Dia meninggal saat melahirkan anak pertama mereka dan untuk Fatimah, dia adalah istri kedua sekaligus sahabat baik dari si mantan istri,” jelas Tami datar tanpa ekspresi.


“Terus, tentang asal usulnya!” tuntut Trisa tidak sabar.


“Tidak, Bu. Dari hasil pencarian tidak adanya indikasi jika orang tua Anda memiliki anak lain dalam hubungan mereka. Jadi, bisa dipastikan ini memang hanya kebetulan saja,” terang Tami dengan lancar.


Trisa menghela napas lega kala mengetahui jika orang tuanya memang hanya memiliki dia selama ini. Akan sangat menyebalkan jika tahu ia mempunyai saudara kembar, atau saudara kandung yang mempunyai wajah yang sama . Ouh, membayangkan saja sudah membuatku muak.


“Tapi, Bu,” lanjut Tami dengan ekspresi seolah tengah menimang sesuatu.


“Katakan!” pinta Trisa cepat.


“Bukankah jika seperti ini akan memudahkan Anda untuk mengambil hati dari pria itu,” usulnya yang sangat brilian.


Pupil wanita itu seketika melebar kalau mendengarkan ide yang sangat bagus. Dia tersenyum pongah dan mulai berpikir untuk merencanakan sesuatu tanpa harus melakukan kegagalan lagi. Cukup kemarin dia gagal, sekarang ia harus berhasil mendapatkan pria sinting itu.


“Apa kamu punya pemikiran sama dengan saya?” Trisa segera memandang wajah Tami dengan seringai misterius.


Tami mengangguk. “Saya akan siapkan semuanya, Bu.”


Kepergian Tami membuat tubuh Trisa lembung ke belakang di mana kursi singgasananya dijadikan sandara. Senyum itu terlihat cantik, tetapi cukup misterius, apalagi dengan rencana yang akan dilakukannya demi bisa mendapatkan pria itu.

__ADS_1


“Kamu pasti akan bertekuk lutut padaku, Iman!” gumamnya, sambil menyeringai licik.


__ADS_2