Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 51


__ADS_3

Cengkraman tangan Raisa begitu kuat saat tahu Fatimah akan pergi meninggalkan dirinya. Wanita itu begitu memohon dengan sangat untuk tidak membiarkan dirinya hanya berdua saja dengan sang kekasih. Takut, apalagi saat mata Ibnu begitu mengawasinya.


Fatimah mencoba santai walaupun di dalam hati tengah ketakutan. Namun, jika dirinya tidak seperti ini, dia tidak akan tahu bagaimana sifat dan sikap asli Ibnu ketika hanya berdua saja dengan Raisa.


“Aku ke toilet dulu bentar. Lagian makanan juga belum siap,” ucap Fatimah yang sengaja meninggalkan ponsel dan tasnya di atas lantai kayu yang dilapisi oleh karpet.


Ya, ruangan yang dipilih oleh Fatimah memang terlihat seperti bilik yang disekat sehingga pengunjung lain tidak akan bisa melihatnya dari luar. Bodoh memang, tetapi kalau pilihannya adalah ruang terbuka juga sama aja bohong.


“Nu, titip temanku, yah. Jangan diapa-apain! Soalnya dia barang mahal.” Wanita itu masih bisa mengulas senyum di wajah ke arah pria yang tadinya berwajah datar itu. Namun, dalam sepersekian detik bisa merubah raut wajahnya menjadi seperti anak kecil yang begitu senang.


Psychopath gila. 


“Oh. Santai, Fa. Gak bakalan lecet juga.” Paling memar, lanjutnya di dalam hati, sambil tersenyum bersahabat.


Sementara itu, Raisa hanya bisa tersenyum getir saat melihat temannya sudah beranjak pergi meninggalkan dirinya bersama dengan Ibnu. Pacar, sekaligus lelaki yang akan menjadi suaminya kelak. Karena dialah yang sudah membuat dunia Raisa hancur berkeping-keping.


“Apa kamu mengadu padanya?” Seketika ruangan itu berubah sunyi, senyap, dan atmosfer pun berubah menjadi kaku dan mencekam. Ibnu yang sudah menunggu sedari tadi, kini akhirnya sudah bisa membuang topengnya. Wajah itu sudah tidak menampakan pria yang bersahabat, tetapi monster berkedok guru.


Sekilas orang tidak akan percaya jika pria di depannya ini adalah seorang psycopat. Dari model tampang, serta IQ yang tinggi, orang justru akan menyalahkan pria itu karena memilih pasangan seperti Raisa yang hanya pekerja kantoran, bukan artis, atau model.

__ADS_1


“Jawab, Raisa!” ucapnya penuh penekanan.


Tak ada gebrakan, atau bentakan. Namun, hanya mendengar suara lirih itu saja sudah membuat bulu kuduk Raisa meremang. Degup jantung tidak bekerja normal, bertalu bagaikan sedang menghindari kejaran dari maling, ataupun polisi.


Tanpa sadar, Raisa justru menggigit bibirnya dengan begitu kuat karena saking takut dan ingin berteriak. Sesuatu di dalam tenggorokannya merongrong ingin meminta tolong kepada orang lain, tetapi tidak bisa.


Raisa memejamkan mata erat saat sebuah tangan menggerayangi wajahnya yang sudah pucat pasi. Tubuh pun bergetar hebat kala merasakan sapuan lembut, tapu mununtu di bagian kepalanya.


Srek.


“Arg–”


Bibir Raisa sudah bergetar menahan tangis, bahkan darah juga sudah menetes dari bawah dagu karena terlalu kuat menahan diri untuk tidak berteriak. Dia menggeleng penuh ketakutan, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada, sambil digosok-gosokkan.


“Kamu pikir setelah membuatku menunggu hingga satu jam itu bisa dimaafkan, hah?” Masih dengan suara rendah, tapi penuh penekanan. Ibnu berusaha memperingati calon istrinya yang cukup membangkang. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu mudah. Cuih!”


Pria itu meludah tepat di depan wajah Raisa yang sudah bersimbah air mata. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, melihat apakah ada benda aneh yang tengah mengintipnya, atau tidak. Namun, tidak ada. Ponsel milik teman si calon istri ternyata dalam mode biasa. Dia pun langsung tersenyum.


Pria itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, lalu kembali menoleh ke arah sang calon istri. Seringainya begitu menakutkan sehingga membuat Raisa menggigil ketakutan. “Kita tunda kesenangan kita hari ini, Sayang,” bisiknya di telinga sang kekasih.

__ADS_1


“Karena aku yakin, temenmu yang sok suci itu pasti akan datang. Jadi, sebelum semua terbongkar … beraktinglah bahagia bersamaku, Calon Istriku.” Setelah mengucapkan itu, bibir Ibnu meng3c*p bibir berdarah kekasihnya.


Tubuh Raisa terdorong cukup keras setelah tangan Ibnu melepasnya. Wanita yang tengah mengandung itu kini hanya bisa menahan rasa sakit di kepala, serta hatinya. Dia benar-benar menyesal mengenal pria gila seperti kekasihnya itu.


“Sayang, sudah. Jangan menangis lagi! Aku paling gak bisa lihat kamu menitikkan air mata seperti itu. Sini, biar aku bantu usapkan!” Sebuah sapuan lembut kini sudah bersarang di wajah pias Raisa yang tengah menangis di dalam hati.


Pria yang dianggap akan menjadi masa depan, justru menjadi orang yang juga menyakitinya. Pria psycopat yang bisa merubah sifatnya sesuai suasana hati. Kadang baik seperti malaikat, kadang juga seperti iblis yang bisa membuat pasangannya hampir mati karena kelakuannya.


“Maaf, ya, Sayang. Ini pasti sakit sekali,” ujar Ibnu penuh penyesalan saat bibir kekasihnya mengeluarkan darah.


Wanita itu hanya bisa menggeleng pilu. Dia tidak mau ada kejadian yang membuat semua orang mual dan muntah jika Iblis di dalam diri Ibnu keluar. Cukup dia saja yang tahu dan mungkin selamanya dirinya akan terpenjara dalam hubungan toxic seperti ini.


Sementara itu, di luar ruangan, tepatnya di samping sekat yang membatasi ruang satu dengan ruang lainnya, Fatimah tengah menahan diri untuk tidak mendobrak pintu yang ada di sampingnya.


Ia sengaja meminta Raisa untuk menyambungkan panggilan ponselnya dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Jadi, wanita itu memang dengan sengaja membawa dua ponsel untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya, apalagi Ibnu ini sering sekali membajak ponsel si kekasih.


Berdasarkan pengalaman pahit itu, Raisa pun memberanikan diri untuk membeli ponsel baru tanpa sepengetahuan dari sang kekasih. Dia bingung harus meminta tolong kepada siapa lagi. Kedua orang tua sudah tidak peduli, keluarga lain pun juga sudah memandang sebelah mata pada dirinya.


Kini, usaha terakhirnya adalah si teman–Fatimah. Perempuan yang sudah lama menjadi temannya itu adalah harapannya.

__ADS_1


“Aku gak bisa berdiam diri seperti ini. Aku harus ngelakuin sesuatu!” ucap Fatimah penuh tekad.


__ADS_2