Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 121


__ADS_3

Wanita yang tengah terlelap itu seketika terbangun setelah mendengar dering ponsel yang ada di atas nakas, samping tempat tidur berbunyi. Dia mengangkat tubuhnya yang baru saja digempur oleh pria di sampingnya.


"Siapa, sih, yang malam-malam telepon?"


Dia mengusap kelopak mata yang terasa berat untuk terbuka. Walaupun ini cukup mengganggu, tetapi tidak mungkin wanita tersebut mengabaikan panggilan di tengah malam yang kemungkinan adalah panggilan penting.


"Kamu mau ke mana, Sayang?" Sang suami yang merasa kehilangan menggeliat di bawah selimut saat menyadari guling hidupnya berubah posisi. Dia membuka mata sekejap, untuk mengintip ke mana istri tercintanya. Setelah itu, ia memilih kembali memejamkan mata dengan tangan memeluk pinggang istri.


"Mau ngangkat telepon, Bi. Takut ada panggilan darurat." Tangannya menggulung rambut panjangnya hingga menjadi sebuah sanggul.


"Siapa emangnya, Ummaya?" tanya si suami sekali lagi dengan suara serak, khas bangun tidur.


"Ntar dulu, Bi. Aku belum melihat siapa yang menelpon." Fatimah mengambil gawai yang masih menyala dan saat id caller itu terlihat, nama dari Maya Si Agen lah yang memenuhi layarnya. "Ini temen aku. Sebentar, ya. Aku angkat dulu!"


"Cewek apa cowok?"


"Maya, kok, Bi. Nih, kalau nggak percaya!" Fatimah memperlihatkan layar ponsel yang memperlihatkan nama Maya terpampang jelas di layar.


"Ouh." Setelah itu, Aiman pun bisa kembali tidur dengan tenang.


Fatimah yang melihat Aiman kembali memejamkan mata untuk menjemput alam mimpi pun hanya menggelengkan kepala. Tanpa membuang waktu, ia menempelkan ponsel itu ke telinga bagian kiri.


"Ada apa, May? Tumben malam-malam nelpon. Apa ada hal yang penting?" Fatimah langsung mencecar temannya yang sama sekali belum juga mengucapkan satu patah kata pun, padahal yang menelpon siapa, tetapi yang heboh justru malah yang dihubungi.


"Fa … aku galau." Rengekkan di seberang telepon membuat Fatimah yang setengah mengantuk menggelengkan kepala. Dia lalu melihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari dengan pandangan sedikit mengabur.


"Kamu nelpon aku jam segini hanya ingin bercerita seperti itu?" tanyanya menggeram kesal. "Wah, kamu benar-benar teman yang paling best friend forever!" sindirnya menahan emosi.

__ADS_1


"Aku nggak mau tahu, Fa. Pokoknya aku pengen cerita. Kamu jangan tidur dulu!" Maya begitu memaksa seperti anak kecil sehingga membuat Fatimah mengiyakan sebelum terjadi perang dunia kesepuluh. Bisa hancur dunia persilatan nanti yang ada.


"Iya-iya, Bawel. Ada apa?" tanya Fatimah pelan di ujung kalimat. Dia lalu beranjak pelan-pelan dari atas ranjang supaya tidak mengganggu sang suami tidur. Pantatnya ia dudukan di atas sofa panjang agar bisa selonjoran.


Wanita di seberang sana sepertinya benar-benar tengah galau berat sehingga memaksa Ibu satu anak itu untuk menemaninya malam ini.


Fatimah pun akhirnya mengalah, mencoba membuka mata yang benar-benar terasa berat. Dia memandang wajah suami yang sudah terlelap seperti bayi, begitu damai dengan napas naik turun teratur.


"Woi! Denger gak, sih?"


"Hah, kenapa? Kamu ngomong apa, May?" Fatimah gelagapan saat mendengar suara Maya yang terlihat kesal saat tidak sengaja diabaikan olehnya. Karena masih mengantuk, dia pun tak bisa menahan diri untuk menguap.


"Jangan tidur, Fa!" Maya segera meminta si teman untuk membuka mata, tidak boleh tidur sebelum ia menyelesaikan sesi curhatnya.


"Katakanlah! Ada apa? Aku udah ngantuk banget, nih." Fatimah beberapa kali menguap. Jujur, rasa kantuk sudah semakin menguasai tubuh lelahnya sehingga bawaannya ingin lari ke pelukan sang suami, lalu mengarungi mimpi bersama-sama.


"Ish, tungguin dulu!" Maya mencegah Fatimah yang seakan hendak pergi meninggalkannya, apalagi setelah sedari tadi melihat si teman terus saja menguap di seberang telepon.


"Iya. Tapi, apa?" Gemas sekali Fatimah kepada temannya. "Kalau dalam beberapa detik lagi kau masih saja bungkam, jangan salahkan aku menutup pang–"


"Ternyata Riko adalah anak dari seorang Jenderal!" sergah Maya saat Fatimah hendak memutuskan panggilan mereka. Enak saja. Diriku belum juga curhat, udah mau matiin telepon.


Dalam beberapa detik tak ada tanggapan dari seberang sehingga membuat Maya mengerucutkan bibir. "Kamu tahu Jenderal Polisi, kan, Fa?" tanya wanita tersebut mencoba bersabar.


"Hah, yang bener kamu?" Akhirnya, Fatimah mengeluarkan suara juga. Dia sebenarnya syok tadi hingga mulutnya sulit untuk berkata-kata. "Tapi, Abi gak pernah menyinggung masalah itu," lanjutnya pada diri sendiri.


"Buat apa aku bohong, Fa. Males, dapat pahala kagak, dosa iye," sahutnya sedikit ketus.

__ADS_1


"Ngapa jadi situ ngomel ke saya?" Fatimah sepertinya sudah memiliki kesadaran di atas 80% sehingga sudah bisa menanggapi dengan cukup cepat. Terbukti, mata itu sudah terlihat segar serta bibir yang berkali-kali berdecak sebal kepada si teman.


"Whatever!" balas Maya setengah malas. Akan tetapi, dia lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi, Fa. Aku sekarang justru jadi maju mundur cantik buat deketin dia. Secara kamu tau sendiri siapalah aku ini. Anak broken home yang ditinggal minggat sama emak bapak."


Fatimah ikut iba mendengar nada bicara Maya yang terdengar begitu lesu. Dia jelas tahu bagaimana sifat si teman. Jika wanita itu sudah seperti itu, berarti sedang berada di tahap tidak baik-baik saja.


"Maya," panggil Fatimah.


"Hemm," balas wanita itu dari seberang telepon.


"Kamu percaya takdir Allah, kan?"


Untuk beberapa saat, suara Maya tidak terdengar. Seperti ada keraguan yang kini nampak jelas tengah menggerogoti hati, serta pikiran sang sahabat.


"Apa aku mundur saja, Fa?" Setelah sekian menit terdiam, kenapa justru keraguan yang harus terucap dari bibir Maya. "Mereka terlalu tinggi untuk kuraih," lanjutnya sendu.


Fatimah bisa merasakan kepercayaan diri Maya yang menghilang setelah mengetahui asal-usul dari pria yang akan menjadi calon masa depannya. Kemarin-kemarin, wanita tersebut masih bersikap optimis akan hubungan mereka bisa berlanjut. Namun, sekarang ….


"Keluarga Riko bagaimana kepadamu?" tanya Fatimah sedikit mengubah topik pembicaraan mereka.


"Mereka … welcome, sih. Tapi, kamu tau sendiri, kan, aku bagaimana?"


"Aih, berat sekali perbincangan kita malam ini, May. Apa kau tak ingin membicarakan masalah ini besok pagi aja? Asli, kepalaku masih belum bisa seratus persen untuk diajak berpikir," ujar Fatimah yang merasa obrolan mereka kurang greget jika dilakukan by phone.


"Oke, besok pagi aku ke rumahmu. Sengaja aku mengambil cuti besok. Toh, percuma ini otak diajak kerja, tapi nyatanya justru bakalan hanya jadi onggokan sampah karena tak akan maksimal." Sahutan penuh semangat itu membuat bibir Fatimah seketika tersenyum.


Panggilan itu pun berakhir dengan Maya yang mengakhiri. Wanita itu hendak menuju balkon apartemen yang terhubung langsung dengan pemandangan malam yang begitu indah dan damai. Namun, baru tiga langkah kakinya terayun, ada sebuah pesan masuk.

__ADS_1


Ekspresi itu berubah keruh saat lagi-lagi dirinya harus menerima pesan singkat dari orang yang sama beberapa bulan ini. "Apa dia pikir aku ini mesin ATM-nya? Selalu saja menambah beban hidupku. Kalau emang mau pergi, tak usah kembali sekalian. Jangan hanya datang untuk membuat hidupku semakin gila! Br*ngs*k!".


__ADS_2