
Dejavu. Fatimah merasa kembali ke masa di mana saat itu, ia datang ke ruang sakit ini seorang diri untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Dia adalah Aiman. Orang yang dulu tidak pernah disangka akan menjadi pasangan hidupnya.
Rekan sekaligus mantan suami dari almarhum sahabat baiknya. Kini, justru menjadi seseorang yang sangat dirindukan setiap hari, setiap ia bangun tidur, dan setiap detiknya.
"Fa, obati dulu lukamu! Takut nanti infeksi." Maya yang baru saja datang setelah pergi ke kanti tadi, kini kembali dengan membawa satu kantong makanan di tangannya. "Jangan bertindak bodoh dengan hanya berdiam diri seperti itu! Itu tidak akan membuahkan hasil apa pun!"
Fatimah mengangguk, tetapi kakinya tetap tidak mau beranjak meninggalkan pintu ruang UGD. Tempat di mana Aiman tengah mendapatkan penanganan. Sejak kedatangan mereka satu jam lalu, dokter belum juga keluar memberitahukan bagaimana keadaan sang suami hingga membuat wanita itu khawatir.
"Ibuku di mana, May?" Bukannya pergi mengobati lukanya, Fatimah justru menanyakan keberadaan sang ibu mertua. Wajah itu terlihat pucat dan lelah, tetapi tidak dipedulikan. Belum lagi ada rasa nyeri di bagian d*d*nya yang besar kemungkinan karena tampungan asi butuh dipompa. Namun, tak diindahkan oleh wanita beranak satu itu.
"Astaghfirullah hal adzim. Fatimah, kamu tuh, kenapa nyebelin banget, sih!" Sang sahabat pun hanya mendesah jengkel. Mencoba bersabar di saat kesabaran seorang Maya hanya setipis tisu yang dibagi menjadi 8 bagian.
Sikap keras kepala Fatimah jika sedang kumat memang akan membuat kepalanya pusing. Lantas, daripada dirinya harus berdebat panjang kali lebar dengan wanita yang tengah menunggu kepastian dokter, akhirnya ia pun lebih baik mengalah. Karena orang sabar katanya pantatnya lebar dan wanita itu percaya saja.
Maklum, dia ini adalah tergolong wanita dengan pantat tepos. Maka dari itu, ia Ngin membuktikan mitos itu. Awas saja, kalau itu tidak berhasil. Akan aku tuntut mereka yang menciptakan omongan itu!
__ADS_1
"Kamu gak usah khawatir. Mertuamu sedang berada di ruang rawatnya. Beliau mengalami demam tinggi dan darah tingginya juga kambuh. Sehingga harus mendapatkan perhatian khusus." Maya menjelaskan apa yang baru saja didengarnya dari sang dokter. Dia sendiri yang memang mengajukan menjadi wali karena tidak mungkin juga Fatimah. Wanita itu sedang terpukul akan kejadian yang menimpa keluarga tercintanya.
Kristal bening itu kembali menetes di pipinya. Dia hampir saja limbung jika saja Maya tidak cepat tanggap menolong dirinya. Raut wajah Fatimah sudah benar-benar kuyu hingga sang sahabat pun menariknya untuk duduk di kursi tunggu.
"Makanlah!" Sebuah roti kini sudah berada di atas tangan Fatimah. Namun, wanita itu kembali menggeleng. Sungguh, Maya mulai kesal.
"Fa, jangan seperti ini terus, dong! Kalau kamu sedang bersedih pun harus kau paksakan makan! Ingat, kamu juga sedang menyusui. Ada satu nyawa yang bergantung dengan asimu. Jika seperti ini terus, kau justru hanya akan menambah daftar pasien di rumah sakit ini. Ngerti gak, sih!" omel Maya kesal.
"Tapi aku gak lapar, May!" Fatimah tetap bersikeras menolak makanan itu. "Aku gak mau makan sendiri, sementara suami dan ibu mertuaku maish terbaring lemah di sana. Aku gak Setega itu, May!"
Maya langsung bergegas pergi menuju keluar. Hatinya sedih saat sahabatnya justru sama sekali tidak mau menerima perhatiannya. Wanita itu mengusap ujung matanya yang entah bagaimana bisa mengeluarkan kristal bening yang sangat jarang sekali keluar dari sana.
"Br3ngs3k! Gara-gara dia aku jadi mellow begini! Fatimah menyebalkan. Fatimah kentut!" Bibir itu terus meracau, mengumpat, mengomeli udara kosong yang kini tengah menemani emosinya.
Di taman rumah sakit yang terlihat sepi itu, Maya mengeluarkan segala uneg-unegnya selama ini. Dia tidak peduli jika di sekitar ada orang, atau tidak. Sebab suasana hatinya ini memang sedang tidak baik-baik saja. Rasa cemas kepada Fatimah lebih mendominasi.
__ADS_1
"Astaga, Mbak. Kalau mau marah-marah jangan di sini, dong! Ini tuh bukan hutan, atau gunung yang bisa leluasa untuk menyalurkan perasaan kesal." Seorang lelaki yang yang ternyata berada sedang tertidur di atas bangku taman itu menguap lebar, terganggu atas aksi bar-bar dari wanita di depannya.
"Lah, si Mayong! Ngapain kamu kayak orang gila? Si Gendut kagak ngasih transferan?" Ternyata pria itu mengenal si wanita bar-bar setelah dirinya membuka mata.
"Berisik banget, sih! Pergi sana! Badak itu hidupnya gak di sini, yah! Sono pulang ke habitatnya!" Maya segera menendang pelan tubuh pria yang dipanggilnya Badak itu.
"Badak-Badak kayak gini kamu juga cinta!"
"Dih, naj1s. Ogah aku cinta sama orang yang gak pernah mandi kayak situ!"
Maya yang merasa suasana hatinya semakin hancur dengan kedatangan si Badak itu itu memilih kembali ke dalam. Akan tetapi, niat itu batal lantaran tiba-tiba pria itu justru menarik lengannya hingga membuat bibir mereka saling bertemu satu sama lain.
Bugh
"Arghhh!"
__ADS_1